Soekarno
Bung Karno
Pidato Bung Karno tanggal 17 Agustus 1954 itu menegaskan ke arah mana tujuan Revolusi Indonesia. Sosialisme, atau kepemilikan bersama pemerintah dan rakyat terhadap aset2 negara.
Sayangnya, Amerika tidak setuju.
Amerika menganut model Kapitalisme, dimana swasta mempunyai peran besar dalam sistem ekonomi dan negara hanya menjadi regulator saja. Amerika membutuhkan pasar untuk sistem kapitalisme, maka Indonesia juga harus menjadi negara kapitalis.
Jatuhlah Bung Karno dengan segala macam intrik politik di dalam negeri yang dibiayai oleh CIA. Mimpi sosialisme pun berakhir.... Setidaknya selama puluhan tahun.
Naiknya Jokowi ke tampuk pemerintahan seperti membangun mimpi Soekarno kembali, dari puing menjadi bentuk utuh.
Perlawanan terhadap kepemilikan swasta mulai dicanangkan dengan mengakuisisi aset2 negara yang menguntungkan dari swasta. Negara mengambil peran besar dalam hal ini sebagai pemain, sebagai dirijen orkestra, bukan hanya sebagai salah satu peniup trompet saja.
Model sosialisme - meski Jokowi tidak pernah mengatakan - tampak sekali ketika Menteri Agraria Ferry Mursyidan, melakukan land reform atau redistrbusi asset.
Satu juta sertifikat tanah akan dibagikan kepada pedagang kaki lima dengan konsep Hak Guna Usaha. Pedagang bisa meng-agunkan tanah tersebut kepada bank pemerintah dan pinjaman itu digunakan untuk melakukan usaha. Pemerintah dan rakyat mempunyai kepemilikan bersama atau sosialisme.
Di bidang kelautan, Bu Susi juga melakukan hal yang sama. Bu Susi membagikan lebih dari 3 ribu kapal penangkap ikan berbagai ukuran kepada nelayan. Anggaran pembeliannya mencapai 2 triliun rupiah.
Sistemnya mirip dengan model tanah tadi. Kapal yang diberikan secara gratis itu bisa dijaminkan ke bank pemerintah sebagai tambahan modal usaha. Gada bank pemerintah yang bisa nolak, bu Susi sebagai jaminannya.
Laut kembali diserahkan kepada nelayan Indonesia, sesudah bu Susi membersihkannya dari para pencuri ikan berbendera asing. Ketegasan bu Susi ini sontak membuat negara2 yang dulu menjadi pengekspor ikan hasil Indonesia, sekarang menjadi pengimpor. Kacian deh lu, say...
Jokowi memang secara fisik tidak mirip Soekarno, tetapi secara ideologi ia kembar identik. Ia tidak perlu berjubah mirip Soekarno, orasi ala Soekarno, atau pun memegang tongkat supaya mirip Soekarno. Itu Soekarno KW. Body Korea, mesin China.
Ia menghadirkan kembali Soekarno di tengah kita dalam bentuk pandangan2nya dan menuntaskan apa yang pernah diimpikannya. Ia tidak perlu berkuda supaya rakyat melihat kepadanya, ia kerja supaya rakyat bisa menikmati hasilnya.
Jokowi dan pasukan ninja-nya, sungguh layak diberikan penghormatan dengan secangkir kopi.
Respect !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar