Bismillah....
ALLAHU YAA ALLAH..
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Wahabi atau Wahhabi adalah satu nama dari sekian banyak nama bagi aliran yang didakwahkan oleh Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab. Beliau melanjutkan pikiran-pikiran kontroversi IBNU TAYMIYYAH, bahkan dakwah Syaikh ini lebih kontroversi dari Ibnu Taymiyah. Gerakan Jihad pembaruan paham Ibnu Taymiyah inilah yang di namai dengan Wahabi sejak kemunculannya, karena di pimpin oleh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab.
Akan tetapi oleh para Juhala’ Wahabi sekarang mencoba menghapus nama atau sebutan Wahabi dengan berbagai macam dalih konyolnya. Ada yang bilang Wahhabi atau Wahabi adalah fiktif karena mereka adalah SALAFI bukan Wahhabi. Ada yang berdalih bahwa Wahabi hanyalah gelar yang di berikan oleh Inggris. Ada yang berdalih bahwa Wahabi bukan aliran yang dibawa oleh Syaikh mereka Muhammad Ibnu Abdil Wahhab tetapi aliran yang di bawa oleh Abdul Wahhab Bin Abdirrahman Bin Rustum. Bermacam dalih telah disampaikan untuk menghapus sebutan Wahabi dari ajaran mereka, agar orang awam tertipu dan percaya bahwa ajaran mereka benar-benar ajaran Al-Quran Hadits menurut pemahaman Para Salafus Sholeh. Maka tertipulah orang yang tertipu, dan semoga mereka kembali ke Ahlus Sunnah yang sebenarnya.Di awal Perkembangan “dakwah” ini tidak ada yang mempermasalahkan penamaan dengan Wahabi. Apalah arti sebuah nama, bila pahamnya melenceng dari Al-Quran Hadits, bila pemahamannya sangat jauh dari paham Ahlus sunnah Waljama’ah, bila pahamnya telah difatwakan sesat oleh para Ulama Ahlus Sunnah. Seribu kali gonta-ganti nama tetap saja itu ajaran yang sama, karena permasalahannya bukan pada nama. Apa pun nama yang mereka gelari untuk diri mereka tidak akan dapat mengubah apa pun buat kebaikan diri mereka sendiri. Bahkan akan membuat diri mereka terjerumus lebih dalam lagi.
Ketika membaca artikel atau buku putih yang ditulis untuk membantah bahwa dakwah mereka bukan Wahabi tapi Salafi, sungguh kita dapat mengetahui betapa takut dan khawatirnya mereka dengan nama tersebut. Tapi tidak pernah merasa takut dengan aqidah mereka yang telah jauh melenceng dari aqidah Ahlus Sunnah, apalagi jia ditimbang dengan aqidah para Sahabat dan Salafus Sholeh. Dan mereka tidak pernah merasa bersalah dengan dakwah mereka yang telah terang-terangan menjadi musuh Islam dari dalam, na’uzubillah. Semoga Allah menjaga semua keluarga Muslim dari fitnah sekte mereka.
Ketakutan mereka disebut Wahhabi disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
– Karena sejarah kelam dakwah Syeikh mereka yang di bantu oleh Dinasti King Sa’ud / Saudi.
– Karena telah ada fatwa-fatwa para Ulama Ahlus Sunnah terhadap paham Wahhabi yakni paham yang dibawa oleh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab.
– Karena sudah terdeteksi mereka ingin menipu orang awam dengan nama terkenal untuk paham yang baru, agar orang menyangka bahwa itu ajaran murni menurut Al-Quran Hadits.
– Karena kedok mereka telah terbongkar dalam kitab para Ulama Ahlus Sunnah.
– Karena nama Wahabi / Wahhabi telah dikotori oleh para pendahulu mereka.
– Karena itulah mereka berusaha agar tetap aman walaupun sudah terdeteksi sebagai musuh Islam dari dalam.
– dan masih banyak lagi kemungkinan yang terselubung.
Terlepas dari siapa yang menamakan ajaran mereka itu dengan Wahhabi, dan kapan pertama kali muncul nama itu, harusnya yang mereka bela bukanlah hanya sebatas nama atau sebutan saja. Tapi ada yang lebih penting dari itu yakni Tauhid mereka yang jauh dari ajaran Rasulullah dan para Sahabatnya. Fitnah mereka terhadap para Ulama Salaf, kontradiksi dalam ajaran mereka sendiri bahkan antara satu Syaikh dengan Syaikh yang lain, kesesatan dalam ajaran mereka sendiri, distorsi kitab-kitab para Ulama yang bertentangan dengan mereka, yang semuanya belum bisa mereka pertanggung-jawabkan kepada Ummat Islam sedunia. Tidak ada gunanya buang waktu untuk melenyapkan nama Wahabi yang telah terkenal buat dakwah mereka sejak kemunculannya. Bahkan para Syaikh mereka telah mengakui nama Wahabi tersebut walaupun itu dianggap hanya sebagai sebutan dari musuh mereka.
Syaikh Wahabi Mengakui Nama Wahabi
Ketika para Juhala’ Wahabi tertipu dan terus menipu dengan sekte bahwa mereka bukan Wahabi, ternyata telah ada Syaikh Wahabi yang mengakuinya. Berikut ini akan kami sampaikan pengakuan tersebut, agar tidak adalagi Talbis konyol ini.
1.Syaikh Ahmad ibn ‘Hajar al-Butami dalam Biografi Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab yang juga ditashhihkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz, mengakui Wahhabi adalah ajaran Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.
– Di halaman 59 disebutkan :
فقامت الثورات على يد دعاة الوهابيين
[maka tegaklah revolusi di atas tangan para da’i Wahhabi…….]
– Di halaman 60 disebutkan :
على أساس من الدعوة الدينية الوهابية في مكة
[atas dasar dari dakwah agama wahhabi di Mekkah………]
– Di halaman 60 juga disebutkan :
فلما التقى بالوهابيين
[manakala berjumpa dengan para Wahhabi………..]
– Di halaman 60 juga disebutkan :
استطاع هؤلاء المسلمون الوهابيون
[sangguplah mereka orang Islam Wahhabi…………]
– Di halaman 60 juga disebutkan :
من المبادئ الوهابية
[dari dasar-dasar Wahhabi…………]
– Di halaman 60 juga disebutkan :
ولكن الدعوة الوهابية
[tetapi dakwah Wahhabi…………]
– Di halaman 60 juga disebutkan :
يدينون بالإسلام على المذهب الوهابي
[mereka beragama dengan Islam atas Mazhab Wahhabi……]
Cukup tujuh saja kita ambil dari kitab Syaikh Wahabi tersebut, dan kita cari dalam kitab Syaikh Wahabi lain. Yaitu dalam kitab Syaikh Dr.Muhammad Khalil Al-Harras yang berjudul: ”Al-Harakatul Wahhabiyah” dari nama kitabnya saja sudah jujur yaitu “Gerakan Wahhabi”. Mari kita buka kitabnya….
– Di halaman 11 disebutkan :
اسس الحركة الوهابية
[Dasar-dasar gerakan Wahhabi……………….]
– Di halaman 14 disebutkan :
الحركة الوهابية تدعو الي توكيد التوحيد
[gerakan Wahhabi menyeru kepada menguatkan Tauhid……….]
– Di halaman 17 disebutkan :
الحركة الوهابية تدعو الي سبيل ربها
[gerakan Wahhabi menyeru kepada jalan Tuhan nya………]
– Di halaman 21 disebutkan :
فلماذا تنسب الوهابية وحدها الى المبالغة
[kenapa Wahhabi saja yang dinisbahkan kepada berlebihan……..]
– Di halaman 22 disebutkan :
لايقع على الوهابية
[tidak terjadi atas Wahhabi………………..]
– Di halaman 30 disebutkan :
ان الوهابية لم تقم للاجتهاد فى الفروع
[sesungguhnya Wahhabi tidak tegak untuk ijtihad dalam masalah furu’………..]
– Di halaman 43 disebutkan :
للدعوة الوهابية
[bagi dakwah Wahhabi]
Cukup tujuh juga dari kitab tersebut, mari kita cari lagi dari kitab Syaikh Wahabi yang lain. Ternyata sangat banyak kitab-kitab Syaikh Wahabi yang mengakui penamaan Wahhabi untuk dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab An-Najdi, diantaranya:
– Syaikh Muhammad Hamid Al-Fiqi dalam kitab Atsarud da’watil wahhabiyah.
– Syaikh Umar Abu Nashri dalam kitab Ibnu Sa’ud.
– Syaikh Muhammad Kurdi Ali dalam kitab Al-Qadim wal-Hadits.
– Syaikh Muhammad Jamil Baiham dalam kitab al-Halqah al-Mafqudah fi Tarikh Arab.
– Syaikh Abdul Karim Al-Khathibi dalam kitab Muhammad ibn Abdil Wahhab.
– dan masih banyak lagi.
Para pembesar Wahabi telah mengakui penamaan Wahabi tersebut terhadap ajaran yang di bawakan oleh Syaikh Mohd bin Abdil Wahhab. Meski sebagian ada yang mengatakan itu sebutan musuh Syaikh terhadap dakwah Syaikh, sebagian lagi ada yang beralasan itu nisbah yang mukhalafah qiyas atau syaz. Biar pun tidak menerima sepenuhnya, tapi para Juhala’ Wahabi justru konyol dengan tidak mengakui sama sekali. Karena biar pun itu nisbah yang mukhalafah qiyas atau penamaan dari musuh, tetap itu nama resmi/tidak resmi untuk dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Najdi yang mereka agungkan itu.
Lalu kenapa marah jika mereka disebut WAHABI? Dengan mengetahui fakta-fakta yang tak terbantahkan itu tentunya mereka malu sehingga menjadi minder dalam pergaulan sesama muslim sedunia, sehingga mereka berusaha dengan berbagai cara untuk gonta-ganti nama dan buat menyebut diri mereka sendiri. Dari sebutan MUWAHID sehingga yang terakhir mereka menyebut dirinya SALAFY.
Akahirnya dengan menimbang fakta-fakta yang diungkap di atas, ada dua opsi buat mereka untuk dipilih:
1- Tetap sebagai WAHABI
2- Bertobat
Jika demikian kenapa mereka tidak memilih opsi paling menentramkan hatinya dan aman, yaitu BERTOBAT? Akan tetapi jika masih ngotot memilih “Tetap sebagai WAHABI” maka bagi pemilih opsi ini katakanlah dengan Bangga: “Ana Wahabi Why Not?” Tetapi jika boleh kami sarankan, janganlah menutup diri, teruslah berusaha mencari kebenaran dan berhentilah berdakwah secara licik. Kenapa harus menyampaikan kebenaran dengan cara yang tidak benar, na’uzubillah.
Wahabers bukalah topengmu jgn mengaku2 ahlusunnah atau aswaja untuk mnghancurkan islam Di NKRI #WahabiYourLost
Minggu, 31 Januari 2016
OBAT GALAU DAN SAKIT HATI
Bismillah....
تفـقـَّـد الحلاوة في ثلاثة أشياء :
في الصلاة والقرآن والذكر ، فإن وجدت ذلك فأمضي وأبشر ، وإلا فاعلم أن بابك مغلق فعالج فتحه
Kenikmatan akan datang pada tiga perkara: yaitu shalat, membaca al-Qur'an, dan berzikir. Jika kamu melakukannya, maka kesusahan terlewatkan datang kebahagiaan. Jika tidak, maka ketahuilah bahwa hatimu tertutup, berobat (belajar) adalah kuncinya".
الامام الحسن البصري رحمه الله
Dalam shalat, tadabbur al-Qur'an, dan berzikir, terdapat nikmat yang luar biasa, disamping pahala yang luar biasa juga. Biasanya obat hati yaitu dengan tiga perkara itu, bukan untuk menyembuhkan total, tapi setidaknya bisa meminalisir kegundahan hati itu. Jika tika perkara itu juga belum bisa, berarti pintu hatinya betul-betul sakit. Solusinya harus dirawat untuk perlahan-lahan disembuhkan.
HATI BAHAGIA, GELISAH TIADA TARA
تفـقـَّـد الحلاوة في ثلاثة أشياء :
في الصلاة والقرآن والذكر ، فإن وجدت ذلك فأمضي وأبشر ، وإلا فاعلم أن بابك مغلق فعالج فتحه
Kenikmatan akan datang pada tiga perkara: yaitu shalat, membaca al-Qur'an, dan berzikir. Jika kamu melakukannya, maka kesusahan terlewatkan datang kebahagiaan. Jika tidak, maka ketahuilah bahwa hatimu tertutup, berobat (belajar) adalah kuncinya".
الامام الحسن البصري رحمه الله
Dalam shalat, tadabbur al-Qur'an, dan berzikir, terdapat nikmat yang luar biasa, disamping pahala yang luar biasa juga. Biasanya obat hati yaitu dengan tiga perkara itu, bukan untuk menyembuhkan total, tapi setidaknya bisa meminalisir kegundahan hati itu. Jika tika perkara itu juga belum bisa, berarti pintu hatinya betul-betul sakit. Solusinya harus dirawat untuk perlahan-lahan disembuhkan.
HATI BAHAGIA, GELISAH TIADA TARA
Kamis, 28 Januari 2016
Menyikapi perbedaan pendapat dalam masalah tahlilan, maulidan dan lainnya.
Bismillah...
Allahu Yaa Allah.
Dikatakan oleh para Ulama menghukumi sesuatu itu harus tahu betul hakikat sesuatu yang dihukumi, maka tidak sah jika seseorang itu menghukumi Tahlil itu Bid’ah atau Maulid itu Bid’ah sebelum mengetahui apa hakikat Tahlil dan Maulid.
Tahlil adalah membaca Dzikir dan beberapa ayat Al-Qur’an kemudian setelah selesai membaca Dzikir dan ayat-ayat pilihan tersebut bedo’a dan memohon kepada Allah di dalam do’a tersebut agar Allah SWT menyampaikan pahala kebaikan dari bacaan Dzikir dan Al-Qur’an tersebut kepada orang yang telah meninggal dunia. Para ulama menyebut Tahlil ini dengan istilah menghadiahkan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia dan hukum menghadiahkan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia telah disepakati oleh semua Madzhab dan Ulama tentang diperbolehkannya.
Begitu juga masalah Maulid Nabi yang makna dari merayakan Maulid Nabi adalah mengagungkan dan menyanjung Nabi SAW. Mengagungkan dan menyanjung Nabi adalah sangat dianjurkan dan semua yang ada pada Nabi adalah layak untuk disanjung dan layak untuk diagungkan dan itulah yang dipahami oleh para ulama Salafunas Sholeh dari masa ke masa. Dan mengagungkan hari kelahiran Nabi termasuk bagian dari pengagungan terhadap Nabi SAW, dan hal ini bukan mengikuti tradisi orang yang ada di luar Islam akan tetapi ini mengkuti kaidah semua yang bersangkutan dengan Nabi adalah mulia dan layak untuk diagungkan. Akan tetapi cara mengagungkan Nabi harus dengan hal-hal yang dicintai dan di ridhoi oleh Nabi SAW seperti dengan bersedekah atau mengadakan festival sejarah Nabi dengan memacu para siswa untuk berlomba-lomba membaca sejarah nabi atau mengumpulkan kaum muslimin di satu tempat lalu ada salah satu dari mereka menyampaikan tentang keagungan Nabi SAW. Itulah maulid Nabi.
. Wallahu a’lam bisshowab
Allahu Yaa Allah.
Dikatakan oleh para Ulama menghukumi sesuatu itu harus tahu betul hakikat sesuatu yang dihukumi, maka tidak sah jika seseorang itu menghukumi Tahlil itu Bid’ah atau Maulid itu Bid’ah sebelum mengetahui apa hakikat Tahlil dan Maulid.
Tahlil adalah membaca Dzikir dan beberapa ayat Al-Qur’an kemudian setelah selesai membaca Dzikir dan ayat-ayat pilihan tersebut bedo’a dan memohon kepada Allah di dalam do’a tersebut agar Allah SWT menyampaikan pahala kebaikan dari bacaan Dzikir dan Al-Qur’an tersebut kepada orang yang telah meninggal dunia. Para ulama menyebut Tahlil ini dengan istilah menghadiahkan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia dan hukum menghadiahkan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia telah disepakati oleh semua Madzhab dan Ulama tentang diperbolehkannya.
Begitu juga masalah Maulid Nabi yang makna dari merayakan Maulid Nabi adalah mengagungkan dan menyanjung Nabi SAW. Mengagungkan dan menyanjung Nabi adalah sangat dianjurkan dan semua yang ada pada Nabi adalah layak untuk disanjung dan layak untuk diagungkan dan itulah yang dipahami oleh para ulama Salafunas Sholeh dari masa ke masa. Dan mengagungkan hari kelahiran Nabi termasuk bagian dari pengagungan terhadap Nabi SAW, dan hal ini bukan mengikuti tradisi orang yang ada di luar Islam akan tetapi ini mengkuti kaidah semua yang bersangkutan dengan Nabi adalah mulia dan layak untuk diagungkan. Akan tetapi cara mengagungkan Nabi harus dengan hal-hal yang dicintai dan di ridhoi oleh Nabi SAW seperti dengan bersedekah atau mengadakan festival sejarah Nabi dengan memacu para siswa untuk berlomba-lomba membaca sejarah nabi atau mengumpulkan kaum muslimin di satu tempat lalu ada salah satu dari mereka menyampaikan tentang keagungan Nabi SAW. Itulah maulid Nabi.
. Wallahu a’lam bisshowab
Tanyakan kepadanya tentang siapa yang dimaksud.
Bismillah...
jika kamu mendengar salah seorang Syiah mencaci maki (Sayyidina) Umar (bin Khattab), tanya kepadanya, mana Umar yang kamu maksud? Umar bin Ali bin Abi Thalib, Umar bin Hasan bin Ali, Umar bin Husein bin Ali, Umar bin Ali Zainal Abidin bin Husein apa Umar bin Musa kadzim?
Ketika kamu mendengar diantara mereka mencaci maki (Sayyidah) Aisyah (binti Abu Bakar) "Aisyah di neraka, Aisyah di neraka!!", maka tanyakan Aisyah mana yang kamu maksud? Aisyah binti Ja'far Shadiq, Aisyah binti Musa Kadzim, apa Aisyah binti Ali Ridla?
Saat kalian mendengar mereka mencaci maki (Sayyidina) Abu Bakar (As-Ahiddiq), tanyakan juga Abu Bakar mana yang kamu maksud? Abu Bakar bin Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar bin Hasan bin Ali, Abu Bakar bin Husein bin Ali apa Abu Bakar bin Musa Kadzim??
Kemudian tanyakan juga kenapa para Ahlu Bait menamakan anak-anak mereka dengan nama-nama tersebut (Abu Bakar, Umar, Aisyah)? Tidak lain adalah sebuah wujud penghormatan dan memuliakan pemilik nama juga mengekalkan kebaikan mereka.
jika kamu mendengar salah seorang Syiah mencaci maki (Sayyidina) Umar (bin Khattab), tanya kepadanya, mana Umar yang kamu maksud? Umar bin Ali bin Abi Thalib, Umar bin Hasan bin Ali, Umar bin Husein bin Ali, Umar bin Ali Zainal Abidin bin Husein apa Umar bin Musa kadzim?
Ketika kamu mendengar diantara mereka mencaci maki (Sayyidah) Aisyah (binti Abu Bakar) "Aisyah di neraka, Aisyah di neraka!!", maka tanyakan Aisyah mana yang kamu maksud? Aisyah binti Ja'far Shadiq, Aisyah binti Musa Kadzim, apa Aisyah binti Ali Ridla?
Saat kalian mendengar mereka mencaci maki (Sayyidina) Abu Bakar (As-Ahiddiq), tanyakan juga Abu Bakar mana yang kamu maksud? Abu Bakar bin Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar bin Hasan bin Ali, Abu Bakar bin Husein bin Ali apa Abu Bakar bin Musa Kadzim??
Kemudian tanyakan juga kenapa para Ahlu Bait menamakan anak-anak mereka dengan nama-nama tersebut (Abu Bakar, Umar, Aisyah)? Tidak lain adalah sebuah wujud penghormatan dan memuliakan pemilik nama juga mengekalkan kebaikan mereka.
Semoga Allah tidak memberkahi setiap orang yang memaki-maki sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Jumat, 15 Januari 2016
PEMALSUAN KITAB OLEH WAHABI
Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim
PEMALSUAN KITAB OLEH WAHABI
Sejak abad dua belas Hijriah yang lalu, dunia Islam dibuat heboh oleh lahirnya gerakan baru yang lahir di Najd. Gerakan ini dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi dan populer dengan gerakan Wahabi. Dalam bahasa para ulama gerakan ini juga dikenal dengan nama fitnah al-wahhabiyah, karena dimana ada orang-orang yang menjadi pengikut gerakan ini, maka di situ akan terjadi fitnah. Di sini kita akan membicarakan fitnah Wahabi terhadap kitab-kitab para ulama dahulu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa aliran Wahabi berupaya keras untuk menyebarkan ideologi mereka ke seluruh dunia dengan menggunakan segala macam cara. Di antaranya dengan mentahrif kitab-kitab ulama terdahulu yang tidak menguntungkan bagi ajaran Wahhabi. Hal ini mereka lakukan juga tidak lepas dari tradisi pendahulu mereka, kaum Mujassimah yang memang lihai dalam men-tahrif kitab.
Pada masa dahulu ada seorang ulama Mujassimah, yaitu Ibn Baththah al-’Ukbari, penulis kitab al-Ibanah, sebuah kitab hadits yang menjadi salah satu rujukan utama akidah Wahabi. Menurut al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, Ibn Baththah pernah ketahuan menggosok nama pemilik dan perawi salinan kitab Mu’jam al-Baghawi, dan diganti dengan namanya sendiri, sehingga terkesan bahwa Ibn Baththah telah meriwayatkan kitab tersebut. Bahkan al-Hafizh Ibn Asakir juga bercerita, bahwa ia pernah diperlihatkan oleh gurunya, Abu al-Qasim al-Samarqandi, sebagian salinan Mu’jam al-Baghawi yang digosok oleh Ibn Baththah dan diperbaiki dengan diganti namanya sendiri. Belakangan Ibn Taimiyah al-Harrani, inspirator ideolog pertama aliran Wahabi, seringkali memalsu pendapat para ulama dalam kitab-kitabnya. Misalnya ia pernah menyatakan dalam kitabnya al-Furqan Bayna al-Haqq wa al-Bathil, bahwa al-Imam Fakhruddin al-Razi ragu-ragu terhadap madzhab al-Asy’ari di akhir hayatnya dan lebih condong ke madzhab Mujassimah, yang diikuti Ibn Taimiyah. Ternyata setelah dilihat dalam kitab Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyyah, karya Ibn al-Qayyim, murid Ibn Taimiyah, ia telah men-tahrif pernyataan al-Razi dalam kitabnya Aqsam al-Ladzdzat. Tradisi tahrif ala Wahhabi terhadap kitab-kitab Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang mereka warisi dari pendahulunya, kaum Mujassimah itu, juga berlangsung hingga dewasa ini dalam skala yang cukup signifikan. Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar 300 kitab yang isinya telah mengalami tahrifdari tangan-tangan jahil orang-orang Wahabi.
Diantaranya adalah :
* Kitab al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah karya al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Kitab al-Ibanah yang diterbitkan di Saudi Arabia, Beirut dan India disepakati telah mengalami tahrif dari kaum Wahhabi. Hal ini bisa dilihat dengan membandingkan isi kitab al-Ibanah tersebut dengan al-Ibanah edisi terbitan Mesir yang di-tahqiq oleh Fauqiyah Husain Nashr.
* Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Imam Mahmud al-Alusijuga mengalami nasib yang sama dengan al-Ibanah. Kitab tafsir setebal tiga puluh dua jilid ini telah di-tahrif oleh putra pengarangnya, Syaikh Nu’man al-Alusi yang terpengaruh ajaran Wahabi. Menurut Syaikh Muhammad Nuri al-Daitsuri, seandainya tafsir Ruh al-Ma’ani ini tidak mengalami tahrif, tentu akan menjadi tafsir terbaik di zaman ini. * Tafsir al-Kasysyaf, karya al-Imam al-Zamakhsyari juga mengalami nasib yang sama. Dalam edisi terbitan Maktabah al-Ubaikan, Riyadh, Wahabi melakukan banyak tahrif terhadap kitab tersebut, antara lain ayat 22 dan 23 Surat al-Qiyamah, yang di-tahrif dan disesuaikan dengan ideologi Wahabi. Sehingga tafsir ini bukan lagi Tafsir al-Zamakhsyari, namun telah berubah menjadi tafsir Wahabi.
* Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain yang populer dengan Tafsir al-Shawi, mengalami nasib serupa. Tafsir al-Shawi yang beredar dewasa ini baik edisi terbitan Dar al-Fikr maupun Dar al-Kutub al-’Ilmiyah juga mengalami tahrif dari tangan-tangan jahil Wahabi, yakni penafsiran al-Shawi terhadap surat al-Baqarah ayat 230 dan surat Fathir ayat 7.
* Kitab al-Mughni karya Ibn Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali, kitab fiqih terbaik dalam madzhab Hanbali, juga tidak lepas dari tahrif mereka. Wahabi telah membuang bahasan tentang istighatsah dalam kitab tersebut, karena tidak sejalan dengan ideologi mereka.
* Kitab al-Adzkar al-Nawawiyyah karya al-Imam al-Nawawi pernah mengalami nasib yang sama. Kitab al-Adzkar dalam edisi terbitan Darul Huda, 1409 H, Riyadh Saudi Arabia, yang di-tahqiq oleh Abdul Qadir al-Arna’uth dan di bawah bimbingan Direktorat Kajian Ilmiah dan Fatwa Saudi Arabia, telah di-tahrif sebagian judul babnya dan sebagian isinya dibuang. Yaitu Bab Ziyarat Qabr Rasulillah SAW diganti dengan Bab Ziyarat Masjid Rasulillah SAW dan isinya yang berkaitan dengan kisah al-’Utbi ketika ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan Rasulullah saw, juga dibuang.
Demikianlah beberapa kitab yang telah ditahrif oleh orang-orang Wahabi. Tentu saja tulisan ini tidak mengupas berbagai cara tahrif dan perusakan Wahhabi terhadap kitab-kitab Ahlussunnah Wal Jama’ah peninggalan para ulama kita. Namun setidaknya, yang sedikit ini menjadi pelajaran bagi kita agar selalu berhati-hati dalam membaca atau membeli kitab-kitab terbitan baru. Nah, anda masih mau Beli Kitab Baru?Hati-Hati dengan Distorsi Wahabi Terhadap Kitab Para Ulama Ahlussunnah Waljama’ah. Jangan sampai tertipu agamamu! Wallahu a’lam.
SURAT CINTA UNTUK ISIS
Salam satu damai....
Wahai kalian kelompok ISIS, teroris, ekstrimis, Jihadis dan semua yang berakhiran is....
Sungguh terlalu kalian men-teror kami. Kalian pikir kami ini Perancis ? Atau Turki ? Atau Kenya ? Sehingga kalian sok menjadi jagoan di negara ini ?
Apa kalian tidak tahu, bahwa teror kalian tidak berlaku di negara kami ? Kenapa ? Karena selama puluhan tahun, setiap waktu, kami selalu bersentuhan dengan yang namanya teror...
Kalian lupa bahwa kami sudah terlatih menghadapi teror yang bernama debt colector. Yang tiap saat, kalau telat bayar, krang kring ke kantor kami, ke rumah kami, bahkan sampai ke sekolah anak kami. Kami terbiasa dengan itu. Kalian tidak lebih seram dari ambon-ambon dan batak-batak itu. Kalian terlalu imut bagi kami...
Kalian gak tahu bahwa kami tiap hari diteror dengan sinetron produksi Raam Punjabi ? Apa yang lebih mengerikan dari itu ? Sinetron yang sekolahnya pacaran mulu, yang penuh banci2an, dan ga perlu otak utk mencerna. Udah gitu serinya sampe tujuh lagi. Palak kali kami...
Hei ISIS ! Tau kan bus sumber kencono ? Yang larinya kayak anjing ngejar maling ? Berani naik itu ? Taruhan pasti kalian terkencing2. Lah kami ? Bahkan senang duduk samping supir, sambil berasa maen need for speed. "Kurang cepat, pir... Kiri kosong, pir... Yak, salip pir.."
Tambah lagi kopaja ma metromini. Yang gak bisa liat lawan sedikit, kernetnya langsung tereak, "Rapat belakang, rapat belakang... Tareeeekkk..." Dan kami harus loncat dengan satu kaki melayang di awan.
Apa yang lebih teror dari itu ?
Yang lebih gila, 10 tahun negara kami berada di ujung tanduk kebangkrutan. Bagi negara lain itu sudah teror diatas teror. Tapi pemimpin kami yang pemberani dengan santainya bikin album dan negara ini jalan sendiri. Kalian mau ngetes kegilaan kami ?
Mau tahu kegilaan kami yang lain ? Teror ayam pun, kalau sudah matang kami namakan teror mata sapi. Lah, itu istilahnya darimana coba ? Mirip aja kagak...
Kalian mau tahu teror yang lain yang selalu kami hadapi ? Teror sms ! Yang mama minta pulsa-lah, adek di kantor polisi-lah, yang telpon nangis2 ngakunya kecelakaan-lah.. Dan kalian tahu apa yang kami lakukan ? Kami bully, kami screenshot dan kami tertawakan ramai2 di fb...
Kami sudah kenyang dengan teror.. Kalau mau belajar neror, belajar ke kami. Mau tau rajanya teror ? Datang ke senayan. Disana tukang teror semua, yang penting ada komisi. Kalau gada komisi, mereka tidur lagi. Gilanya lagi, kalau ketangkep, mereka dadah2 di tipi. Tidak ada yang mereka takuti. Bahkan Tuhan-pun, kalau bisa, mereka sambangi. "Tuhan, apa ga ada proyek pengadaan parfum di surga ? Biar kami yang urusi.."
Jadi, apa gunanya kalian teror kami ? Kalian tidak neror pun, kami sudah gila semua.
Kalian sibuk ngebom, tembak2an, PKL malah berdatangan. "Wah ada keramaian.. Kacang2, yang haus yang haus, kacang... Bapak dari ISIS ? Haus, pak ?" Mereka sudah gak takut, Sis... Tiap hari mereka berhadapan ma trantib. Kejar2an. Malah mereka berdoa supaya kalau bisa kalian datang tiap hari, biar ramai terus, bisa buka lapak dagangan.
Gak usah sok neror, lah sis... Kami disini punya haji lulung yang ludahnya aja ngeluarin api. Kalian ga takut apa ? Atau perlu kami keluarkan orang yang lebih sakti ? Yang mampu menanam pohon di senayan meski kebakarannya di kalimantan ? Bisa mati kalian nanti...
Gua bilangin ya sis, kalau mau nyandera orang disini jangan salah pilih, nanti malah nyandera cabe2an... Pas kalian gertak, "Angkat tangan !!" Eh, dia ngomong, "t4ng4n y4nk mn4 y4k hRu5 d1 4n6k4tx ?" Bingung kan ? Habis gitu mereka minta selfie, trus pasang wajah bebek2an...
Udah malam, sis... Gua dah ngantuk. Siapa pemimpin kalian ? Santoso ? Bilangin, namanya dah ketinggalan jaman.. Anak gaul sekarang namanya Jeffry.. Please deh, ah.. Jarang nonton tipi sih.
Nb : Ini Indonesia, Sis.. Camkan itu. Disini mau jadi teroris daftar dulu ke MUI, biar halal. Sini, minum kopi.. Kenapa ga mau ? Takut di sianida ?
Pulanglah, Sis...kalian gak laku disini... Kami sudah kebanyakan pelawak di negara ini, jangan ditambah kalian lagi.
Ngeliat aksi kalian hari ini kami malah ketawa. Bahkan kami kalau ketawa bisa sambil split. Ngeri, kan sis ?
Rinindri Mentres
Wahai kalian kelompok ISIS, teroris, ekstrimis, Jihadis dan semua yang berakhiran is....
Sungguh terlalu kalian men-teror kami. Kalian pikir kami ini Perancis ? Atau Turki ? Atau Kenya ? Sehingga kalian sok menjadi jagoan di negara ini ?
Apa kalian tidak tahu, bahwa teror kalian tidak berlaku di negara kami ? Kenapa ? Karena selama puluhan tahun, setiap waktu, kami selalu bersentuhan dengan yang namanya teror...
Kalian lupa bahwa kami sudah terlatih menghadapi teror yang bernama debt colector. Yang tiap saat, kalau telat bayar, krang kring ke kantor kami, ke rumah kami, bahkan sampai ke sekolah anak kami. Kami terbiasa dengan itu. Kalian tidak lebih seram dari ambon-ambon dan batak-batak itu. Kalian terlalu imut bagi kami...
Kalian gak tahu bahwa kami tiap hari diteror dengan sinetron produksi Raam Punjabi ? Apa yang lebih mengerikan dari itu ? Sinetron yang sekolahnya pacaran mulu, yang penuh banci2an, dan ga perlu otak utk mencerna. Udah gitu serinya sampe tujuh lagi. Palak kali kami...
Hei ISIS ! Tau kan bus sumber kencono ? Yang larinya kayak anjing ngejar maling ? Berani naik itu ? Taruhan pasti kalian terkencing2. Lah kami ? Bahkan senang duduk samping supir, sambil berasa maen need for speed. "Kurang cepat, pir... Kiri kosong, pir... Yak, salip pir.."
Tambah lagi kopaja ma metromini. Yang gak bisa liat lawan sedikit, kernetnya langsung tereak, "Rapat belakang, rapat belakang... Tareeeekkk..." Dan kami harus loncat dengan satu kaki melayang di awan.
Apa yang lebih teror dari itu ?
Yang lebih gila, 10 tahun negara kami berada di ujung tanduk kebangkrutan. Bagi negara lain itu sudah teror diatas teror. Tapi pemimpin kami yang pemberani dengan santainya bikin album dan negara ini jalan sendiri. Kalian mau ngetes kegilaan kami ?
Mau tahu kegilaan kami yang lain ? Teror ayam pun, kalau sudah matang kami namakan teror mata sapi. Lah, itu istilahnya darimana coba ? Mirip aja kagak...
Kalian mau tahu teror yang lain yang selalu kami hadapi ? Teror sms ! Yang mama minta pulsa-lah, adek di kantor polisi-lah, yang telpon nangis2 ngakunya kecelakaan-lah.. Dan kalian tahu apa yang kami lakukan ? Kami bully, kami screenshot dan kami tertawakan ramai2 di fb...
Kami sudah kenyang dengan teror.. Kalau mau belajar neror, belajar ke kami. Mau tau rajanya teror ? Datang ke senayan. Disana tukang teror semua, yang penting ada komisi. Kalau gada komisi, mereka tidur lagi. Gilanya lagi, kalau ketangkep, mereka dadah2 di tipi. Tidak ada yang mereka takuti. Bahkan Tuhan-pun, kalau bisa, mereka sambangi. "Tuhan, apa ga ada proyek pengadaan parfum di surga ? Biar kami yang urusi.."
Jadi, apa gunanya kalian teror kami ? Kalian tidak neror pun, kami sudah gila semua.
Kalian sibuk ngebom, tembak2an, PKL malah berdatangan. "Wah ada keramaian.. Kacang2, yang haus yang haus, kacang... Bapak dari ISIS ? Haus, pak ?" Mereka sudah gak takut, Sis... Tiap hari mereka berhadapan ma trantib. Kejar2an. Malah mereka berdoa supaya kalau bisa kalian datang tiap hari, biar ramai terus, bisa buka lapak dagangan.
Gak usah sok neror, lah sis... Kami disini punya haji lulung yang ludahnya aja ngeluarin api. Kalian ga takut apa ? Atau perlu kami keluarkan orang yang lebih sakti ? Yang mampu menanam pohon di senayan meski kebakarannya di kalimantan ? Bisa mati kalian nanti...
Gua bilangin ya sis, kalau mau nyandera orang disini jangan salah pilih, nanti malah nyandera cabe2an... Pas kalian gertak, "Angkat tangan !!" Eh, dia ngomong, "t4ng4n y4nk mn4 y4k hRu5 d1 4n6k4tx ?" Bingung kan ? Habis gitu mereka minta selfie, trus pasang wajah bebek2an...
Udah malam, sis... Gua dah ngantuk. Siapa pemimpin kalian ? Santoso ? Bilangin, namanya dah ketinggalan jaman.. Anak gaul sekarang namanya Jeffry.. Please deh, ah.. Jarang nonton tipi sih.
Nb : Ini Indonesia, Sis.. Camkan itu. Disini mau jadi teroris daftar dulu ke MUI, biar halal. Sini, minum kopi.. Kenapa ga mau ? Takut di sianida ?
Pulanglah, Sis...kalian gak laku disini... Kami sudah kebanyakan pelawak di negara ini, jangan ditambah kalian lagi.
Ngeliat aksi kalian hari ini kami malah ketawa. Bahkan kami kalau ketawa bisa sambil split. Ngeri, kan sis ?
KETIKA SOEKARNO HADIR KEMBALI
Salam Indonesia.....
"Revolusi kita bukan sekedar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menuju lebih jauh lagi dari itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju sosialisme !!"
Bung Karno
Pidato Bung Karno tanggal 17 Agustus 1954 itu menegaskan ke arah mana tujuan Revolusi Indonesia. Sosialisme, atau kepemilikan bersama pemerintah dan rakyat terhadap aset2 negara.
Sayangnya, Amerika tidak setuju.
Amerika menganut model Kapitalisme, dimana swasta mempunyai peran besar dalam sistem ekonomi dan negara hanya menjadi regulator saja. Amerika membutuhkan pasar untuk sistem kapitalisme, maka Indonesia juga harus menjadi negara kapitalis.
Jatuhlah Bung Karno dengan segala macam intrik politik di dalam negeri yang dibiayai oleh CIA. Mimpi sosialisme pun berakhir.... Setidaknya selama puluhan tahun.
Naiknya Jokowi ke tampuk pemerintahan seperti membangun mimpi Soekarno kembali, dari puing menjadi bentuk utuh.
Perlawanan terhadap kepemilikan swasta mulai dicanangkan dengan mengakuisisi aset2 negara yang menguntungkan dari swasta. Negara mengambil peran besar dalam hal ini sebagai pemain, sebagai dirijen orkestra, bukan hanya sebagai salah satu peniup trompet saja.
Model sosialisme - meski Jokowi tidak pernah mengatakan - tampak sekali ketika Menteri Agraria Ferry Mursyidan, melakukan land reform atau redistrbusi asset.
Satu juta sertifikat tanah akan dibagikan kepada pedagang kaki lima dengan konsep Hak Guna Usaha. Pedagang bisa meng-agunkan tanah tersebut kepada bank pemerintah dan pinjaman itu digunakan untuk melakukan usaha. Pemerintah dan rakyat mempunyai kepemilikan bersama atau sosialisme.
Di bidang kelautan, Bu Susi juga melakukan hal yang sama. Bu Susi membagikan lebih dari 3 ribu kapal penangkap ikan berbagai ukuran kepada nelayan. Anggaran pembeliannya mencapai 2 triliun rupiah.
Sistemnya mirip dengan model tanah tadi. Kapal yang diberikan secara gratis itu bisa dijaminkan ke bank pemerintah sebagai tambahan modal usaha. Gada bank pemerintah yang bisa nolak, bu Susi sebagai jaminannya.
Laut kembali diserahkan kepada nelayan Indonesia, sesudah bu Susi membersihkannya dari para pencuri ikan berbendera asing. Ketegasan bu Susi ini sontak membuat negara2 yang dulu menjadi pengekspor ikan hasil Indonesia, sekarang menjadi pengimpor. Kacian deh lu, say...
Jokowi memang secara fisik tidak mirip Soekarno, tetapi secara ideologi ia kembar identik. Ia tidak perlu berjubah mirip Soekarno, orasi ala Soekarno, atau pun memegang tongkat supaya mirip Soekarno. Itu Soekarno KW. Body Korea, mesin China.
Ia menghadirkan kembali Soekarno di tengah kita dalam bentuk pandangan2nya dan menuntaskan apa yang pernah diimpikannya. Ia tidak perlu berkuda supaya rakyat melihat kepadanya, ia kerja supaya rakyat bisa menikmati hasilnya.
Jokowi dan pasukan ninja-nya, sungguh layak diberikan penghormatan dengan secangkir kopi.
Respect !
Soekarno
Bung Karno
Pidato Bung Karno tanggal 17 Agustus 1954 itu menegaskan ke arah mana tujuan Revolusi Indonesia. Sosialisme, atau kepemilikan bersama pemerintah dan rakyat terhadap aset2 negara.
Sayangnya, Amerika tidak setuju.
Amerika menganut model Kapitalisme, dimana swasta mempunyai peran besar dalam sistem ekonomi dan negara hanya menjadi regulator saja. Amerika membutuhkan pasar untuk sistem kapitalisme, maka Indonesia juga harus menjadi negara kapitalis.
Jatuhlah Bung Karno dengan segala macam intrik politik di dalam negeri yang dibiayai oleh CIA. Mimpi sosialisme pun berakhir.... Setidaknya selama puluhan tahun.
Naiknya Jokowi ke tampuk pemerintahan seperti membangun mimpi Soekarno kembali, dari puing menjadi bentuk utuh.
Perlawanan terhadap kepemilikan swasta mulai dicanangkan dengan mengakuisisi aset2 negara yang menguntungkan dari swasta. Negara mengambil peran besar dalam hal ini sebagai pemain, sebagai dirijen orkestra, bukan hanya sebagai salah satu peniup trompet saja.
Model sosialisme - meski Jokowi tidak pernah mengatakan - tampak sekali ketika Menteri Agraria Ferry Mursyidan, melakukan land reform atau redistrbusi asset.
Satu juta sertifikat tanah akan dibagikan kepada pedagang kaki lima dengan konsep Hak Guna Usaha. Pedagang bisa meng-agunkan tanah tersebut kepada bank pemerintah dan pinjaman itu digunakan untuk melakukan usaha. Pemerintah dan rakyat mempunyai kepemilikan bersama atau sosialisme.
Di bidang kelautan, Bu Susi juga melakukan hal yang sama. Bu Susi membagikan lebih dari 3 ribu kapal penangkap ikan berbagai ukuran kepada nelayan. Anggaran pembeliannya mencapai 2 triliun rupiah.
Sistemnya mirip dengan model tanah tadi. Kapal yang diberikan secara gratis itu bisa dijaminkan ke bank pemerintah sebagai tambahan modal usaha. Gada bank pemerintah yang bisa nolak, bu Susi sebagai jaminannya.
Laut kembali diserahkan kepada nelayan Indonesia, sesudah bu Susi membersihkannya dari para pencuri ikan berbendera asing. Ketegasan bu Susi ini sontak membuat negara2 yang dulu menjadi pengekspor ikan hasil Indonesia, sekarang menjadi pengimpor. Kacian deh lu, say...
Jokowi memang secara fisik tidak mirip Soekarno, tetapi secara ideologi ia kembar identik. Ia tidak perlu berjubah mirip Soekarno, orasi ala Soekarno, atau pun memegang tongkat supaya mirip Soekarno. Itu Soekarno KW. Body Korea, mesin China.
Ia menghadirkan kembali Soekarno di tengah kita dalam bentuk pandangan2nya dan menuntaskan apa yang pernah diimpikannya. Ia tidak perlu berkuda supaya rakyat melihat kepadanya, ia kerja supaya rakyat bisa menikmati hasilnya.
Jokowi dan pasukan ninja-nya, sungguh layak diberikan penghormatan dengan secangkir kopi.
Respect !
Kamis, 14 Januari 2016
Khaalifah Yang Tak Butuh Singgasana
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Al Alim Al Allamah Al Musnid
Alhabib Umar bin Hafidz (Oleh Rinindri Mentres)
Sang Guru Mulia menjelaskan secara panjang yang Insya Allah mampu mengobati dahaga kaum Muslimin yang ingin mengetahui tentang Khilafah, apa yang terpenting bagi umat Islam dan bagaimana sikap umat Islam?. Berikut penjelasannya:
Tentang khilafah, kerancuan pada dua hal yang amat penting. Pertama, penyempitan makna khilafah, yang hanya pada pelaksanaan hukum Islam melalui kekuasaan. Yang kedua, pandangan atas wajibnya menegakkan khilafah ketika sudah ada pemerintahan di tengah-tengah umat.
Mengenai yang pertama, perlu ditegaskan bahwa kata “khilafah” bila dikaitkan dengan agama dan syariat, maknanya tak hanya terbatas pada konteks kekuasaan dengan segala penerapan hukum-hukum publik, sebagaimana makna khilafah secara etimologis yang memang jauh lebih luas.
Al Qur’an menggunakan kata ini, bahkan untuk orang yangberbuat buruk, orang yang menyimpang dari jalan yang benar, juga generasi yangdatang setelah para nabi dan rasul, seperti pada ayat,
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS.19 : 59).
Jadi, mereka adalah generasi pengganti yang tinggal di tempat orang-orang sebelumnya, namun mereka tidak mengikuti prinsip dan perilaku generasi sebelumnya. Sehingga, makna khilafah adalah pergantian seseorang terhadap orang lain dalam konteks apapun.
Mengenai kaitan khilafah dengan urusan agama, juga perlu dipahami bahwa khilafah yang diagungkan dan dinyatakan Allah sebagai keistimewaan khusus Nabi Adam dan anak-cucunya, dalam firman-Nya,
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS.2 : 30), adalah khilafah ruhaniah, keagamaan, dan ketuhanan, bukan sebatas otoritas politik yang mengatur urusan-urusan lahiriah.
Khilafah tersebut terkait erat dengan tugas mengemban amanah sesuai kapasitas dan kemampuan seseorang, dalam konteks menegakkan kebenaran, yaitu syari’at yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya. Inilah khilafah yang disinggung dalam Al-Qur’an, ketika meletakkan nenek moyang kita, Nabi Adam AS ke bumi,
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tak akan tersesat dan tidak akan celaka.”(QS.20 : 123).
Mengamalkan tuntutan Allah, melaksanakan perintah, dan menghindari larangan-Nya, itulah arti khilafah yang telah ditugaskan Allah kepada Nabi Adam. Nabi Adam turun padahal di bumi belum ada bangsa apapun yang bisa menjadi obyek kekuasaan. Ia hanya disertai Ibu Hawa. Lalu, mulai lahirlah putra-putra dari keluarga Adam. Ia menjalani posisinya sebagai orang pertama yang memegang khilafah sebelum adanya bentuk pemerintahan dan kekuasaan publik. Sejarah terus berlangsung dalam wilayah keluarga itu, yaitu Adam dan putra-putranya. Merekalah yang menghuni bumi.
Lalu keturunannya mulai banyak. Nabi Syits, putra AdamAS, menggantikannya memegang tampuk khilafah. Ia menerima kenabian dan amanat untuk melaksanakan ikrar manusia kepada Allah.
Khilafah merupakan tugas masing-masing diri kita. Tak ada alasan bagi siapapun untuk menganggap remeh hal ini, hingga melalaikan dan meninggalkannya lantaran ketiadaan simbol-simbol fisik khilafah (kekuasaan).
“Melepas Khilafah”
Jika dikaitkan dengan salah satu jenis kekhilafahan agung Nabi Muhammad SAW, khilafah adalah terwujudnya penerapan hukum secara umum, karena kekuasaan dipegang oleh orang-orang jujur, lurus, dan mendapat petunjuk. Beliau kabarkan, khilafah ini hanya berlangsung 30 tahun terhitung sejak beliau wafat. Ini salah satu mukjizat yang menunjukkan kebenaran beliau sebagai Nabi.
Rasulullah SAW menyebut batas waktu. Tatkala masa 30 tahun itu telah usai dan khilafah semacam ini telah hilang, beliau tidak memberi perintah, “Memberontaklah kepada parapenguasa, perbaiki berbagai masalah, berjuanglah untuk mengganti mereka dengan orang-orang yang mirip dengan masa 30 tahun itu!” Rasulullah SAW tidak memerintahkan itu. Bahkan, meski dalam haditsnya beliau memberi isyarat bahwa cengkeraman kerajaan akan berlangsung lama. Dalam sebagian riwayat, beliau menyebutnya adhudh (kekuasaan yang suka menggigit).
Dalam kitab Musnad-nya Imam Ahmad, juga dalam Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihaiankarya Al-Hakim, disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Khilafah sepeninggalku 30 tahun, kemudian menjadi kerajaan.” (HR.Ahmad)
Mari kita cermati sabda beliau yang menyebutkan secara jelas periode khilafah ini. Ternyata, sahabat Ali KWH dibunuh pada bulan Ramadhan, sementara Rasulullah SAW wafat pada bulan Rabi’ul Awwal. Untuk sampai 30 tahun, masih ada jeda enam bulan. Masa enam bulan inilah masa kepemimpinan Sayyidina Al-Hasan bin ‘Ali RA, cucunda Nabi, hingga ia mundur dari khilafah pada bulan Rabi’ul Awwal, persis di akhir masa 30 tahun sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW. Lagi-lagi ini merupakan salah satu tanda kenabian, mukjizat agung Rasulullah Muhammad SAW, sekaligus pemberitahuan beliau mengenai hal-hal rahasia (ghaib) yang beliau dapat dari Allah SWT.
Di Al-Mustadrak juga ada riwayat yang dinyatakan shahih oleh Adz-Dzahabi : Setelah Al-Hasan mundur sebagai khalifah, ada orang berkata kepadanya, “Orang-orang berkata bahwa Anda menginginkan khilafah.”
Al-Hasan menoleh kepada orang itu. Ia berkata, “Aku meninggalkan jabatan khalifah pada saat orang-orang kuat berada di tanganku. Mereka mengikuti perintahku, siap memerangi orang yang aku perangi dan berdamai dengan orang yang berdamai denganku. (Aku meninggalkan khilafah) karena untuk mencari ridha Tuhanku dan menghindarkan pertumpahan darah sesama muslimin. Lalu, apakah aku akan berupaya mendapatkan khilafah dengan keputus-asaan orang-orang Hijaz. Pergilah, aku tidak menginginkan khilafah itu.” Kisah ini memiliki sanad riwayat yang shahih melalui mata rantai para perawi yang dipercaya oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Dalam kisah ini terdapat sebuah penjelasan bahwa mundur dari khalifah pada saat terjadinya perpecahan adalah khalifah sejati. Khalifah hakiki yang diajarkan Nabi ini bersemayam dengan sempurna dalam diri Al-Hasan bin ‘Ali. Dengan menyerahkan kekuasaan lahiriah, tidak berarti warisan Nabi menjadi berkurang pada dirinya, tidak berarti ada kekurangan pada posisinya sebagai pengganti kakeknya, Muhammad SAW. Justru dengan demikian, Al-Hasan menampakkan ciri khas yang paling agung dari kekhilafahan Rasulullah SAW, yaitu dalam wilayah ilmu, taqwa, pekerti, belas kasih, dan perhatian terhadap umat.
Karena itu, sangatlah layak apa yang disabdakan Rasulullah SAW mengenai Sayyidina Hasan, “Sungguh anakku (cucuku) ini adalah seorang pemimpin. Allah akan mendamaikan dua kubu besar kaum muslimin dengan perantaranya.” (HR.Bukhari)
Pandangan Nabawiyyah
Dalam hadits tadi dijelaskan bahwa Nabi mengabarkan, “Masa setelah itu kekuasaan berada di tangan para penguasa yang berbuat hal-hal yang kalian (para sahabat) ingkari. Kalian melihat mereka tidak teguh dalam mengikuti ajaran Islam.”
Mereka (para sahabat) bertanya, “Apa yang engkau (ya Rasulullah) perintahkan kepada kami? Haruskah kami membuat kekhalifahan baru, pemerintahan lain, dan berjuang untuk menyingkirkan mereka?”
Nabi SAW bersabda, “Kalian harus patuh dan taat (kepada pemimpin kalian).” (HR.Bukhari dan Ahmad)
Siapa yang menegaskan hal ini?
Ini bukan gagasan kelompok-kelompok tertentu dalam Islam. Ini adalah arahan dari pemegang kenabian dan kerasulan, seorang yang menerima wahyu dari Allah SWT.
Lalu, sampai kapan kami harus patuh pada pemimpin?
“Sampai yang menjadi pemimpin kalian adalah orang yang jelas-jelas kafir, sudah tidak mungkin ditakwil bahwa dia adalah seorang muslim. Atau, orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, mengingkari ajaran-ajaran pokok agama yang sudah pasti. Ia secara terang-terangan memusuhi agama dan melanggarnya.”
Dalam sebuah hadits disebutkan, “Hingga kalian melihat kekufuran yang sangat jelas.” (HR.Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Baihaqi). Dalam riwayat yang lain, “Selagi mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian.” (HR.Muslim, Ad-Darimi, dan Baihaqi). Pada riwayat lainnya, “Berikanlah kepada mereka apa yang menjadi hak mereka. Mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian (karena mereka sudah tidak berlaku adil kepada kalian dan tidak memberikan hak-hak kalian)”. (HR.Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi)
Batasan-batasan itulah yang Rasulullah sampaikan kepada kita.
Memahami Realitas yang Berbeda.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW berdo’a, “Ya Allah, curahkanlah rahmat kepada para khalifah/penggantiku.”
Ketika beliau ditanya, siapa para khalifah itu, beliau tidak menggunakan pengertian khilafah seperti saat beliau bersabda “Khilafah setelahku berlangsung selama 30 tahun”, tapi beliau menggunakan pengertian lain tentang khilafah, yaitu khilafah keagamaan. Beliau bersabda, “Orang-orang yang hidup sepeninggalku, mereka meriwayatkan hadits-haditku dan mengajarkannya kepada manusia.”
Beliau menyatakan,orang-orang yang memiliki perhatian tinggi terhadap sunnah beliau dan mengajarkannya kepada orang lain adalah para khalifah para penerus beliau.
Hal itu diperkuat oleh hadits tentang ulama yang menjadi pewaris para nabi. Juga, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab tafsir bahwa isi dari lafal Ulul Amri yang disebutkan di sebagian ayat adalah para ulama, orang-orang yang dianugerahi ilmu syari’at dan menjadi pemikul amanat ilmu syari’at tersebut. Misalnya, ayat,
وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
“…dan kalau mereka menyerahkannya kepada rasul dan ulil amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat)mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri).” (QS. 4 : 83). Menurut pendapatpara mufassir, yang dimaksud ulil-amri disini adalah ulama. Sebagaimana jugadalam firman Allah,
أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“…taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil-amridiantara kalian.” (QS.4 : 59)
Sementara, mengenai kekuasaan lahiriah, hukumnya dalam syari’at adalah , “Bila mereka memerintah dengan baik, jadi baik bagi mereka dan bagi kalian. Jika mereka memerintah dengan buruk, jadi baik bagi kalian dan jadi buruk bagi mereka.” (HR.Thabrani)
Jadi, dari sunnah Rasulullah SAW, kita bisa melakukan pemilahan terhadap dua sikap. Pertama, meninggalkan khilafah untuk menjaga kemaslahatan kaum muslimin karena memperhatikan kondisi nyata mereka. Kedua, menolak untuk meninggalkan jabatan khalifah hanya karena tuntutan dari orang-orang bodoh atau menyerahkannya kepada orang yang tidak layak, dengan catatan hal itu tidak menimbulkan kekacauan. Yang kedua inilah yang disabdakan Rasulullah SAW kepada Sayyidina Utsman.
Perhatikanlah, Rasulullah SAW memuji cucunya, Al-Hasan, karena rela melepas kekhilafahan lahiriah demi kebaikan kaum muslimin. Di sisi lain, beliau bersabda kepada Sayyidina Utsman RA, “Mereka hendak melepas baju yang dipakaian Allah kepadamu. Jangan turuti mereka hingga engkau menyusulku.” (HR.Thabrani)
Ada beberapa orang yang datang kepada Utsman RA, memintanya untuk mundur dari khalifah. Ternyata, mereka bukan orang yang layak untuk menggantikan beliau. Sementara itu, kekacauan bukan ditimbulkan karena sikap Utsman RA mempertahankan khalifah. Kekacauan justru timbul jika orang-orang seperti mereka menerima khalifah. Mereka akan mempermainkannya.
Latar belakang dan realitasnya berbeda. Maka, dalam kondisi seperti itu, Rasulullah memberikan arahan kepada Utsman RA agar tidak menuruti kemauan mereka hingga akhirnya mereka membunuhnya. Ia mati syahid di jalan Allah sebagai orang yang berdakwah. Ia terbunuh dalam keadaan membaca Al Qur-an dan tetesan darahnya yang pertama mengenai ayat
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka Allah akan menjaga engkau dari mereka, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.2 : 137). Sementara do’a terakhir yang terdengar dari lisannya adalah, “Ya Allah, persatukan umat Muhammad. Ya Allah, persatukanlah umat Muhammad.” Kisah ini dituturkan Al-Ghazali dalam Al-Ihya’ 4/479).
Beberapa orang sahabat dan tabi’in, bila teringat kejadian ini, berkata, “Utsman, semoga Allah merahmatimu. Dalam kondisi genting, perhatianmu masih tertuju pada umat Muhammad. Seandainya engkau berdoa agar mereka tidak bersatu, niscaya mereka tak akan pernah bersatu selamanya.”
Ternyata, didetik-detik ancaman mati dan pembunuhan, yang ada dalam pikirannya adalah umat. Ia memohon kepada Allah agar mempersatukan umat sepeninggalnya. Ia berdoa “Ya Allah, persatukan umat Muhammad” sampai dua kali. Itu sebabnya, jangan sampai urusan kekuasaan menjadi kekacauan atau mempermainkan agama.
Khilafah bagi setiap Muslim.
Kita juga tidak bisa sekadar melaksanakan fungsi khalifah hanya yang terkait pada diri kita saja. Setiap kita memiliki amanat menjadi penerus atau khalifah, dalam mata, telinga, lidah, kelamin, perut, tangan, kaki, dan hatinya. Maka, laksanakanlah kewajiban khalifah dari Rasulullah. Semua ini adalah hal yang harus engkau pelihara. Engkau pemimpin semua ini, semua urusan-urusannya diserahkan kepadamu. Maka, jadilah penerus yang baik dari Rasulullah dalam memelihara anggota tubuhmu agar selalu mematuhi syari’at dan menerapkan hukum Allah.
Di wilayah lain, engkau memiliki kekuasaan dalam hal-hal yang terkait dengan urusan keluarga, teman, dan tetangga. Juga, dalam hal yang terkait dengan orang yang mendengarkan nasihat darimu, menerima saran dan arahanmu, baik orang dekatmu atau bukan. Laksanakan kewajiban khilafah dalam semua itu.
Menegakkan syariat, dalam bentuk apapun, merupakan khilafah dari Allah dan Rasul-Nya, dalam arti yang umum. Sedangkan khilafah dalam arti khusus adalah khilafah yang dalam hadits Rasulullah SAW, yang dinyatakan berlangsung selama 30 tahun setelah wafatnya beliau. Setelah itu, kerajaan yang menggigit. Setelah itu, kekuasaan yang diktator. Inilah yang terjadi pada mayoritas penguasa saat itu. Lalu pada akhirnya khilafah kembali seperti ajaran Rasulullah SAW. Ini sesuatu yang akan terjadi, dan telah diberitakan Rasulullah SAW.
Kabar tentang khilafah ini jangan dipertentangkan dengan perintah-perintah Rasulullah terhadap umatnya: bagaimana mengatur, apa yang harus dilakukan, bagaimana seharusnya menghadapi berbagai persoalan yang terjadi, menghadapi para penguasa, menghadapi rakyat, dan bagaimana bersikap terhadap pihak-pihak yang memiliki hubungan dekat ataupun jauh.
Betapapun, jika misalnya ada kesempatan bagi seseorang untuk membela agama Allah, dalam bentuk apapun, dan dalam sisi kehidupan apapun, ia memiliki tanggung jawab besar untuk melaksanakan kewajiban itu, namun apa yang ia lakukan itu ternyata menimbulkan efek negatif yang lebih besar atau membawa badai besar di tengah-tengah kaum muslimin, tinggalkan dan jauhi hal itu. Sebab, untuk bisa lebih mempersatukan umat Islam diperlukan langkah-langkah yang lebih lembut dan berdasarkan kasih sayang terhadap umat.
Inilah teladan yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Ini pula yang dijalani oleh para pendahulu umatini.
Insan-insan Khalifah Terbaik
Al-Hasan menginginkan perdamaian umat. Ia juga rindu bertemu kakeknya, Rasulullah SAW. Maka, tidak ada yang perlu ia cari dengan menggunakan kekuasaan dunia, atau dengan tetap hidup di dunia. Hari-hari berlalu, dan ia tahu bahwa ia diracun, yang mengantarkannya pada kesyahidan.
Khilafah ideal berlalu saat Al-Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia meninggalkan khilafah lahiriah ini hingga wafat. Ia memilih menjadi khalifah Rasulullah SAW dalam menyampaikan kebenaran, memberikan bimbingan, mengajar, memberi petunjuk, berbudi pekerti luhur, bersikap belas kasih dan sifat-sifat mulia lain yang telah dilekatkan oleh Allah dalam dirinya. Inilah buah dari didikan Rasulullah, Muhammad SAW.
Kalau kita bercermin pada yang dilakukan adiknya, Al-Husain, setelah itu, mungkin akan ada yang bertanya: Bagaimana bisa Al-Husain keluar (dari Makkah) untuk memenuhi permintaan penduduk Irak (menghadapi “Khalifah” Yazid)?
Beberapa hal yang harus dipahami mengenai keberangkatannya ke Irak. Diantaranya adalah, pertama, adanya surat ajakan yang dikirim penduduk Irak dan itu peluang untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang sesuai dengan syari’at. Ternyata mereka menipunya, tidak mempercayainya, mengkhianatinya, dan meninggalkannya. Namun, ia rela.
Kedua, ia sudah memperkirakan pengkhianatan ini. Namun, mati syahid tampak di depan mata. Sepeninggal kakaknya, Al-Hasan, giliran ia yang menyimpan rindu bertemu kakeknya.
Al-Husain membuat keputusan tegas demi kebaikan umat. Juga, agar mereka tahu bahwa ia tak mau tertipu kekuasaan lahiriah, namun juga tak ingin melampaui batas dalam memahami wajibnya patuh kepada penguasa. Ia ingin mengajari umat agar tidak memiliki dugaan keliru bahwa jika kita sudah diperintah untuk patuh kepada penguasa, kendatipun kita tahu bahwa mereka tidak baik, berarti kita harus meyakini bahwa para penguasa itu adalah orang-orang yang benar dan menjadi landasan dalam berbagai hal. Yang bisa dijadikan landasan adalah ilmu syari’at dan agama Allah.
Jadi, gerakan Al-Husain adalah untuk menjelaskan prinsip ini dengan cara yang sempurna. Dan, telah kami singgung dalam pembahasan tadi, ia memang hendak menerjunkan dirinya ke dalam kesyahidan. Ia begitu rindu untuk bertemu kakeknya.
Demi Allah, kekeliruan terjadi kalau yang melakukan adalah orang-orang seperti kita. Sayyidina Husain tidak sama dengan kita. Orang-orang yang dididik di bawah penjagaan dan pengawasan Rasulullah, mereka adalah teladan bagi umat manusia. Mereka contoh atas kesesuaian perkataan dan tindakan yang benar.
Maka, Sayyidina Husain memberikan penjelasan mengenai perbedaan berbagai hal tersebut, dengan cara maju dan mengorbankan nyawanya untuk menyambut janji Allah kepada Rasul-Nya bahwa suatu saat sekian banyak keluarganya gugur sebagai syahid dalam sehari. Hal itu menjadi tragedi yang sangat pedih dalam sejarah umat Muhammad SAW.
Khilafah agung Nabawiyah yang bukan sekadar kekuasaan lahiriah itu kemudian digantikan oleh Ali Zainal Abidin. Ia benar-benar hiasan indah bagi para ahli ibadah. Perjalanan hidupnya penuh dengan fenomena ibadah. Ia banyak melakukan shalat. Dua pipinya bergaris hitam karena aliran air mata, gambaran rasa takut yang mendalam kepada Allah. Lalu, apa yang ia lakukan? Apakah ia berjuang untuk merengkuh kekuasaan? Apa ia mengajak kaum muslimin untuk membai’atnya? Apa ia membuat rencana kudeta terhadap penguasa yang ada?
Semua ini tidak terjadi pada Ali Zainal Abidin.
Apakah ia tidak tahu apa-apa tentang agama? Aku bersaksi bahwa ia termasuk orang yang paling alim mengenai agama. Demi Allah, ia bukan orang bodoh. Dimasanya, ia adalah pewaris agung bagi Rasulullah SAW.
Namun demikian, ia menyibukkan hidupnya dengan memperbanyak shalat, membaca Al-Qur-an, menangis, bersedekah, dan berbuat kebajikan kepada orang lain. Ia sama sekali tak pernah menyinggung urusan kekuasaan. Ia juga tidak pernah memaki-maki, melaknat, dan mengucapkan pernyataan-pernyataan buruk kepada para pembunuh ayah dan saudara-saudaranya.
Inilah khalifah sejati. Inilah yang dilakukan generasi terbaik umat ini. Mereka mengikuti jejak Rasulullah SAW, jejak Ahlul Bayt, Sahabat, Tabi’in, dan para pengikut mereka.
Setelah itu, putranya, Muhammad Al-Baqir. Setelah itu, putra Al-Baqir, yaitu Ja’fa rAsh-Shadiq. Mereka semua meneladani ayah-ayahnya dalam kemuliaan dan jalan ini.
Pada masa itu mereka diikuti oleh para pemuka tabi’in. Bahkan, saat Al-Hasan menyerahkan kekhilafahan lahiriah, masih banyak pemuka sahabat. Apa pandangan mereka? Adakah mereka menyatakan “Kami bersama Anda, kami berperang bersama Anda untuk Allah. Sekarang Anda meninggalkan kami dan menyerahkan khilafah kepada orang lain?” Tidak. Al-Hasan patuh (pada tuntunan agama), merekapun ikut patuh.
Tibalah masa tabi’in. Saat itu, kekuasaan dipegang oleh Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia dikenal fasik dan buruk. Saat itu, ada Hasan Al-Bashri, Said bin Al-Musayyib, juga para tabi’in senior. Ada Ali Ibnul Husain, juga putra-putra Al-Hasan. Adakah diantara mereka yang membuat kekacauan? Atau melawan penguasa, atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan teladan para penghulu dan ajaran Rasulullah SAW?
Khilafah berlanjut. Tibalah masa para Imam : Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, Ahmad binHanbal. Apa mereka semua hidup di tengah-tengah kekhilafahan yang lurus atau hidup di tengah-tengah kekuasaan kerajaan? Apakah mereka memiliki paham bahwa mereka harus membuat rencana untuk menyingkirkan orang-orang yang memiliki kekuasaan itu?
Mereka sibuk menjaga Islam, menjaga syari’at di tengah-tangah umat, dengan segala kesungguhan dan daya upaya. Mereka mengorbankan waktu, jiwa-raga, dan harta untuk menjelaskan hakikat syari’at kepada umat manusia serta membawa mereka untuk bisa mengamalkannya. Mereka adalah khalifah terbaik dari Rasulullah SAWdan saat itu terdapat begitu banyak tokoh ulama dari kalangan tabi’in dantabi’ut tabi’in.
Peran Khilafah para Nabi
Bagitulah khilafah di tengah-tengah mereka. Bahkan, demikian pula yang kita lihat dalam Al Qur’an dan dijalani para nabi di masa-masa lampau.
Apakah Nuh AS seorang khalifah di atas muka bumi ini? Ya. Ia khalifah selama 950 tahun. Lalu apakah kekuasaan berada di tangannya atau di tangan orang-orang kafir? Selama itu pula ternyata kekuasaan bukan berada ditangannya, tapi tangan orang-orang kafir.
Lalu, apakah tugas khalifah dari Allah hidup atau mati? Tegak di tangan siapa, di tangan orang-orang kafir?
Tidak, khilafah tegak berada di tangan Nabi Nuh AS dan pengikutnya. Padahal yang beriman kepadanya hanya segelintir orang. Namun, segelintir orang ini memiliki kedudukan dan peran yang besar, hingga Allah memuliakan mereka dengan memusnahkan seluruh umat manusia kecuali yang berada di kapal Nuh. Itua adalah balasan atas kesabaran dan ketabahannya selama 950 tahun melaksanakan tugas khilafah dengan peran yang sangat baik.
Nabi Musa memikul tugas khilafah dari Allah. Ia mendatangi Fir’aun, dan kekuasaan berada di tangan Fir’aun. Hari pertama, kedua, dan ketiga, muncullah mukjizat-mukjizatnya. Para tukang sihir pun beriman. Mereka menjadi pembela agama Allah dan pasukan Allah. Mereka juga memikul khilafah dari Allah. Namun, kekuasaan tetap berada di tangan Fir’aun, sampai datang waktunya kemudian ketika Allah menghancurkan Fir’aun dan bala tentaranya.
Sementara itu, pada kisah khilafah Sayyidina Isa, Bani Israil datang hendak membunuhnya. Allah pun mengangkat Nabi Isa ke langit.
Apakah Nabi Isa seorang khalifah Allah? Demi Allah, ia adalah seorang khalifah Allah. Bahkan, termasuk Rasul Ulul ‘Azmi, termasuk utusan Allah yang istimewa.
Begitu pula Sayyidina Ibrahim, ia berada di bawah kekuasaan Namrudz beberapa kali. Sampai ketika mukjizatnya muncul, ia keluar dari kobaran api yang menjadi dingin dan menjadi keselamatan baginya. Waktu itu, kekuasaan masih berada di tangan Namrudz, dan Nabi Ibrahim berada di bawah kekuasaan itu. Ia tidak memikirkan soal kulit permukaan kekuasaan ini hingga Allah SWT menolongnya.
Inilah poin terpenting dalam tema khilafah, juga pandangan para salaf mengenai hal itu. Sekian banyak nabi pun melewati keadaan ini.
Begitulah pengertian khilafah. Pengertian yang memiliki kaitan erat dengan kewajiban untuk melaksanakan syari’at dalam diri kita, keluarga kita, dan anak-anak kita. Demikian itu, agar kita tidak melanggar prinsip umum dan prinsip khusus khilafah, juga tidak menghalangi sebab-sebab datangnya pertolongan Allah dengan hal-hal yang diembuskan musuh-musuh Allah yang ingin merusak moral kita. Mereka memasukkan budaya-budaya buruk yang bertentangan dengan syari’at ke tengah-tengah kita.
Semoga Allah menolak keburukan orang-orang kafir dan orang-orang jahat dari kita. Semoga Allah menurunkan berkah kepada kita dan kepada para ulama disini, juga ulama-ulama lain di Indonesia dan di negara-negara lainnya. Yakni, orang-orang yang senantiasa gigih menjaga agama dan syari’at ini dengan upaya yang sempurna.
Dan, hanya Allah-lah yang menganugerahi taufiq dan ampunan.
Hikmah yang terpendam.
Pandangan utuh perihal tema khilafah diulas Habib Umar bin Hafizh dengan amat gamblang. Diantara yang dapat kita petik dari ulasan di atas adalah bahwa tak lagi terselenggaranya kekhilafahan yang lurus setelah 30 tahun pasca-wafatnya Rasulullah SAW adalah berita yang disampaikan Rasulullah SAW sendiri. Beliau tahu persis bahwa itu akan terjadi, tapi apa yang beliau pesankan kemudian? Kepatuhan pada penguasa, sampai penguasa itu sudah tak lagi dapat ditakwil akan kekufurannya.
Sekalipun makna dari redaksi-redaksi kalimat yang terkait dengan kekhilafahan dalam karya-karya ulama salaf kini marak diperdebatkan, nyatanya para ulama salaf itu sendiri tak satupun yang menggalang gerakan khusus untuk mendirikan khilafah yang mencontoh kekhilafahan yang lurus, Khulafa’ Rasyidun. Kesadaran historis kita pun digugah, “Apakah mereka semua hidup ditengah-tengah kekhilafahan yang lurus ataukah di tengah-tengah kekuasaan kerajaan? Apakah mereka memiliki paham bahwa harus membuat rencana untuk menyingkirkan orang-orang yang memiliki kekuasaan itu?”
Melihat kenyataan sejarah di satu sisi dan dengan asumsi bahwa makna dari redaksi terkait kekhilafahan itu sesuai dengan apa yang disuarakan paradai penyokong khilafah Islamiyah kini pada sisi lainnya, pertanyaan selanjutnya yang pantas diajukan adalah apakah seluruh ulama dari generasi ke generasi itu hanya orang-orang yang pandai berkata-kata lewat karya-karyanya dan enggan berusaha keras demi tegaknya khilafah, sesuatu yang konon termasuk ahammul wajibat (kewajiban yang terpenting)? Tentu bukan demikian. Mereka tak membuat sebuah gerakan khusus karena mereka paham betul bahwa bukan itu yang dipesankan Rasulullah SAW terkait masalah ini.
Saat berbuat, terutama pada kaum muda, seseorang biasanya ingin cepat melihat hasil. Dakwah menyebarkan doktrin wajibnya mendirikan khilafah Islamiyah boleh jadi memiliki latar belakang psikologis semacam itu. Pemicunya, akumulasi ketidak percayaan terhadap penyelesaian berbagai problematik sosial, ekonomi, politik, budaya yang tak kunjung selesai. Dalam kondisi demikian, ide khilafah Islamiyah datang dengan senyum menggoda diselingi pekik takbir yang menggelora, lalu mulai merayu umat dengan tawaran sebagai satu-satunya solusi umat: bila khilafah berdiri, insya Allah semua urusan beres. Siapa tak tergiur?
Pola dakwah yang berorientasi pada massa memang biasanya lebih banyak mengandalkan slogan daripada kandungan. Sebab barangkali karena aspek ini lebih mudah dikalkulasi dan didata. Disinilah pentingnya penyadaran bahwa dalam berdakwah, selain bekal keilmuan, kesungguhan, kesinambungan, yang terpenting adalah keikhlasan, sebagai bekal seseorang meraih keridhaan di sisi Allah SWT. Keridhaan Allah inilah ukuran keberhasilan dakwah seseorang, bukan yanglainnya. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada fisikmu dan hartamu, tetapi Allah melihat kepada amal dan hatimu.” (HR. IbnuMajah)
Dalam isi mauizhahnya, Habib Umar sempat menyinggung, “Lalu pada akhirnya khilafah kembali seperti ajaran Rasulullah SAW. Ini sesuatu yang akan terjadi, dan telah diberitahukan Rasulullah SAW.” Ia tak memperjelas lebih jauh maksud “akan” disitu, apakah relatif terhadap masa dirinya ataukah masa Rasulullah. Tampak disini bahwa ia pun tak terjebak dalam perdebatan tentang apakah khilafah yang dikatakan akan kembali seperti ajaran Rasulullah SAW ini adalah pada masa Sayyidina Umar bin Abdul Aziz ataukah pada masa menjelang hari kiamat kelak. Yang ingin Habib Umar tekankan, sebagaimana yang ia katakan selanjutnya, bahwa betapapun, “Kabar tentang khilafah ini tidak bertentangan dengan perintah-perintah Rasulullah terhadap umatnya…”
Pelajaran dari umat-umat terdahulu menunjukkan bahwa, karena kesungguhan mereka mengikuti petunjuk syari’atnya dan melaksanakan tugas khilafah ruhaniyah yang diemban setiap manusia dalam lingkupnya masing-masing dan menjadi penjaga-penjaga syari’at dan ilmu pengetahuan yang setia, pada gilirannya datanglah kemuliaan dan pertolongan dari sisi Allah SWT. Contohnya, Nabi Nuh pun hanya mendapat pengikut segelintir orang sebagai hasil dari dakwahnya selama 950 tahun.
Serangkaian tulisan ini menunjukkan bahwa para ulama kita, dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti kalangan Alawiyyin, Nahdhiyyin, dan unsur-unsurumat lainnya di lingkungan Aswaja, pun memahami tema khilafah dengan pandangan seperti ini. Intinya, terus berbuat dan berbuat hal yang nyata di tengah masyarakat secara ikhlas, lillahi Ta’ala. Bagi mereka, yang penting adalah mengislamkan masyarakatnya, bukan institusi kenegaraannya.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami (Allah)akan melimpahkan keberkahan kepada mereka dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Judul asli tulisan ini “Khilafah Yang Tak Butuh Singgasana “Khalifah“. Disarikan dari Mau’izhah Habib ‘Umar bin Hafizh di depan Majelis Muwashalah Bayna Al-‘Ulama wa Al-Muslimin.
Al Alim Al Allamah Al Musnid
Alhabib Umar bin Hafidz (Oleh Rinindri Mentres)
Sang Guru Mulia menjelaskan secara panjang yang Insya Allah mampu mengobati dahaga kaum Muslimin yang ingin mengetahui tentang Khilafah, apa yang terpenting bagi umat Islam dan bagaimana sikap umat Islam?. Berikut penjelasannya:
Tentang khilafah, kerancuan pada dua hal yang amat penting. Pertama, penyempitan makna khilafah, yang hanya pada pelaksanaan hukum Islam melalui kekuasaan. Yang kedua, pandangan atas wajibnya menegakkan khilafah ketika sudah ada pemerintahan di tengah-tengah umat.
Mengenai yang pertama, perlu ditegaskan bahwa kata “khilafah” bila dikaitkan dengan agama dan syariat, maknanya tak hanya terbatas pada konteks kekuasaan dengan segala penerapan hukum-hukum publik, sebagaimana makna khilafah secara etimologis yang memang jauh lebih luas.
Al Qur’an menggunakan kata ini, bahkan untuk orang yangberbuat buruk, orang yang menyimpang dari jalan yang benar, juga generasi yangdatang setelah para nabi dan rasul, seperti pada ayat,
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS.19 : 59).
Jadi, mereka adalah generasi pengganti yang tinggal di tempat orang-orang sebelumnya, namun mereka tidak mengikuti prinsip dan perilaku generasi sebelumnya. Sehingga, makna khilafah adalah pergantian seseorang terhadap orang lain dalam konteks apapun.
Mengenai kaitan khilafah dengan urusan agama, juga perlu dipahami bahwa khilafah yang diagungkan dan dinyatakan Allah sebagai keistimewaan khusus Nabi Adam dan anak-cucunya, dalam firman-Nya,
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS.2 : 30), adalah khilafah ruhaniah, keagamaan, dan ketuhanan, bukan sebatas otoritas politik yang mengatur urusan-urusan lahiriah.
Khilafah tersebut terkait erat dengan tugas mengemban amanah sesuai kapasitas dan kemampuan seseorang, dalam konteks menegakkan kebenaran, yaitu syari’at yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya. Inilah khilafah yang disinggung dalam Al-Qur’an, ketika meletakkan nenek moyang kita, Nabi Adam AS ke bumi,
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tak akan tersesat dan tidak akan celaka.”(QS.20 : 123).
Mengamalkan tuntutan Allah, melaksanakan perintah, dan menghindari larangan-Nya, itulah arti khilafah yang telah ditugaskan Allah kepada Nabi Adam. Nabi Adam turun padahal di bumi belum ada bangsa apapun yang bisa menjadi obyek kekuasaan. Ia hanya disertai Ibu Hawa. Lalu, mulai lahirlah putra-putra dari keluarga Adam. Ia menjalani posisinya sebagai orang pertama yang memegang khilafah sebelum adanya bentuk pemerintahan dan kekuasaan publik. Sejarah terus berlangsung dalam wilayah keluarga itu, yaitu Adam dan putra-putranya. Merekalah yang menghuni bumi.
Lalu keturunannya mulai banyak. Nabi Syits, putra AdamAS, menggantikannya memegang tampuk khilafah. Ia menerima kenabian dan amanat untuk melaksanakan ikrar manusia kepada Allah.
Khilafah merupakan tugas masing-masing diri kita. Tak ada alasan bagi siapapun untuk menganggap remeh hal ini, hingga melalaikan dan meninggalkannya lantaran ketiadaan simbol-simbol fisik khilafah (kekuasaan).
“Melepas Khilafah”
Jika dikaitkan dengan salah satu jenis kekhilafahan agung Nabi Muhammad SAW, khilafah adalah terwujudnya penerapan hukum secara umum, karena kekuasaan dipegang oleh orang-orang jujur, lurus, dan mendapat petunjuk. Beliau kabarkan, khilafah ini hanya berlangsung 30 tahun terhitung sejak beliau wafat. Ini salah satu mukjizat yang menunjukkan kebenaran beliau sebagai Nabi.
Rasulullah SAW menyebut batas waktu. Tatkala masa 30 tahun itu telah usai dan khilafah semacam ini telah hilang, beliau tidak memberi perintah, “Memberontaklah kepada parapenguasa, perbaiki berbagai masalah, berjuanglah untuk mengganti mereka dengan orang-orang yang mirip dengan masa 30 tahun itu!” Rasulullah SAW tidak memerintahkan itu. Bahkan, meski dalam haditsnya beliau memberi isyarat bahwa cengkeraman kerajaan akan berlangsung lama. Dalam sebagian riwayat, beliau menyebutnya adhudh (kekuasaan yang suka menggigit).
Dalam kitab Musnad-nya Imam Ahmad, juga dalam Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihaiankarya Al-Hakim, disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Khilafah sepeninggalku 30 tahun, kemudian menjadi kerajaan.” (HR.Ahmad)
Mari kita cermati sabda beliau yang menyebutkan secara jelas periode khilafah ini. Ternyata, sahabat Ali KWH dibunuh pada bulan Ramadhan, sementara Rasulullah SAW wafat pada bulan Rabi’ul Awwal. Untuk sampai 30 tahun, masih ada jeda enam bulan. Masa enam bulan inilah masa kepemimpinan Sayyidina Al-Hasan bin ‘Ali RA, cucunda Nabi, hingga ia mundur dari khilafah pada bulan Rabi’ul Awwal, persis di akhir masa 30 tahun sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW. Lagi-lagi ini merupakan salah satu tanda kenabian, mukjizat agung Rasulullah Muhammad SAW, sekaligus pemberitahuan beliau mengenai hal-hal rahasia (ghaib) yang beliau dapat dari Allah SWT.
Di Al-Mustadrak juga ada riwayat yang dinyatakan shahih oleh Adz-Dzahabi : Setelah Al-Hasan mundur sebagai khalifah, ada orang berkata kepadanya, “Orang-orang berkata bahwa Anda menginginkan khilafah.”
Al-Hasan menoleh kepada orang itu. Ia berkata, “Aku meninggalkan jabatan khalifah pada saat orang-orang kuat berada di tanganku. Mereka mengikuti perintahku, siap memerangi orang yang aku perangi dan berdamai dengan orang yang berdamai denganku. (Aku meninggalkan khilafah) karena untuk mencari ridha Tuhanku dan menghindarkan pertumpahan darah sesama muslimin. Lalu, apakah aku akan berupaya mendapatkan khilafah dengan keputus-asaan orang-orang Hijaz. Pergilah, aku tidak menginginkan khilafah itu.” Kisah ini memiliki sanad riwayat yang shahih melalui mata rantai para perawi yang dipercaya oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Dalam kisah ini terdapat sebuah penjelasan bahwa mundur dari khalifah pada saat terjadinya perpecahan adalah khalifah sejati. Khalifah hakiki yang diajarkan Nabi ini bersemayam dengan sempurna dalam diri Al-Hasan bin ‘Ali. Dengan menyerahkan kekuasaan lahiriah, tidak berarti warisan Nabi menjadi berkurang pada dirinya, tidak berarti ada kekurangan pada posisinya sebagai pengganti kakeknya, Muhammad SAW. Justru dengan demikian, Al-Hasan menampakkan ciri khas yang paling agung dari kekhilafahan Rasulullah SAW, yaitu dalam wilayah ilmu, taqwa, pekerti, belas kasih, dan perhatian terhadap umat.
Karena itu, sangatlah layak apa yang disabdakan Rasulullah SAW mengenai Sayyidina Hasan, “Sungguh anakku (cucuku) ini adalah seorang pemimpin. Allah akan mendamaikan dua kubu besar kaum muslimin dengan perantaranya.” (HR.Bukhari)
Pandangan Nabawiyyah
Dalam hadits tadi dijelaskan bahwa Nabi mengabarkan, “Masa setelah itu kekuasaan berada di tangan para penguasa yang berbuat hal-hal yang kalian (para sahabat) ingkari. Kalian melihat mereka tidak teguh dalam mengikuti ajaran Islam.”
Mereka (para sahabat) bertanya, “Apa yang engkau (ya Rasulullah) perintahkan kepada kami? Haruskah kami membuat kekhalifahan baru, pemerintahan lain, dan berjuang untuk menyingkirkan mereka?”
Nabi SAW bersabda, “Kalian harus patuh dan taat (kepada pemimpin kalian).” (HR.Bukhari dan Ahmad)
Siapa yang menegaskan hal ini?
Ini bukan gagasan kelompok-kelompok tertentu dalam Islam. Ini adalah arahan dari pemegang kenabian dan kerasulan, seorang yang menerima wahyu dari Allah SWT.
Lalu, sampai kapan kami harus patuh pada pemimpin?
“Sampai yang menjadi pemimpin kalian adalah orang yang jelas-jelas kafir, sudah tidak mungkin ditakwil bahwa dia adalah seorang muslim. Atau, orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, mengingkari ajaran-ajaran pokok agama yang sudah pasti. Ia secara terang-terangan memusuhi agama dan melanggarnya.”
Dalam sebuah hadits disebutkan, “Hingga kalian melihat kekufuran yang sangat jelas.” (HR.Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Baihaqi). Dalam riwayat yang lain, “Selagi mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian.” (HR.Muslim, Ad-Darimi, dan Baihaqi). Pada riwayat lainnya, “Berikanlah kepada mereka apa yang menjadi hak mereka. Mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian (karena mereka sudah tidak berlaku adil kepada kalian dan tidak memberikan hak-hak kalian)”. (HR.Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi)
Batasan-batasan itulah yang Rasulullah sampaikan kepada kita.
Memahami Realitas yang Berbeda.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW berdo’a, “Ya Allah, curahkanlah rahmat kepada para khalifah/penggantiku.”
Ketika beliau ditanya, siapa para khalifah itu, beliau tidak menggunakan pengertian khilafah seperti saat beliau bersabda “Khilafah setelahku berlangsung selama 30 tahun”, tapi beliau menggunakan pengertian lain tentang khilafah, yaitu khilafah keagamaan. Beliau bersabda, “Orang-orang yang hidup sepeninggalku, mereka meriwayatkan hadits-haditku dan mengajarkannya kepada manusia.”
Beliau menyatakan,orang-orang yang memiliki perhatian tinggi terhadap sunnah beliau dan mengajarkannya kepada orang lain adalah para khalifah para penerus beliau.
Hal itu diperkuat oleh hadits tentang ulama yang menjadi pewaris para nabi. Juga, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab tafsir bahwa isi dari lafal Ulul Amri yang disebutkan di sebagian ayat adalah para ulama, orang-orang yang dianugerahi ilmu syari’at dan menjadi pemikul amanat ilmu syari’at tersebut. Misalnya, ayat,
وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
“…dan kalau mereka menyerahkannya kepada rasul dan ulil amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat)mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri).” (QS. 4 : 83). Menurut pendapatpara mufassir, yang dimaksud ulil-amri disini adalah ulama. Sebagaimana jugadalam firman Allah,
أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“…taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil-amridiantara kalian.” (QS.4 : 59)
Sementara, mengenai kekuasaan lahiriah, hukumnya dalam syari’at adalah , “Bila mereka memerintah dengan baik, jadi baik bagi mereka dan bagi kalian. Jika mereka memerintah dengan buruk, jadi baik bagi kalian dan jadi buruk bagi mereka.” (HR.Thabrani)
Jadi, dari sunnah Rasulullah SAW, kita bisa melakukan pemilahan terhadap dua sikap. Pertama, meninggalkan khilafah untuk menjaga kemaslahatan kaum muslimin karena memperhatikan kondisi nyata mereka. Kedua, menolak untuk meninggalkan jabatan khalifah hanya karena tuntutan dari orang-orang bodoh atau menyerahkannya kepada orang yang tidak layak, dengan catatan hal itu tidak menimbulkan kekacauan. Yang kedua inilah yang disabdakan Rasulullah SAW kepada Sayyidina Utsman.
Perhatikanlah, Rasulullah SAW memuji cucunya, Al-Hasan, karena rela melepas kekhilafahan lahiriah demi kebaikan kaum muslimin. Di sisi lain, beliau bersabda kepada Sayyidina Utsman RA, “Mereka hendak melepas baju yang dipakaian Allah kepadamu. Jangan turuti mereka hingga engkau menyusulku.” (HR.Thabrani)
Ada beberapa orang yang datang kepada Utsman RA, memintanya untuk mundur dari khalifah. Ternyata, mereka bukan orang yang layak untuk menggantikan beliau. Sementara itu, kekacauan bukan ditimbulkan karena sikap Utsman RA mempertahankan khalifah. Kekacauan justru timbul jika orang-orang seperti mereka menerima khalifah. Mereka akan mempermainkannya.
Latar belakang dan realitasnya berbeda. Maka, dalam kondisi seperti itu, Rasulullah memberikan arahan kepada Utsman RA agar tidak menuruti kemauan mereka hingga akhirnya mereka membunuhnya. Ia mati syahid di jalan Allah sebagai orang yang berdakwah. Ia terbunuh dalam keadaan membaca Al Qur-an dan tetesan darahnya yang pertama mengenai ayat
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka Allah akan menjaga engkau dari mereka, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.2 : 137). Sementara do’a terakhir yang terdengar dari lisannya adalah, “Ya Allah, persatukan umat Muhammad. Ya Allah, persatukanlah umat Muhammad.” Kisah ini dituturkan Al-Ghazali dalam Al-Ihya’ 4/479).
Beberapa orang sahabat dan tabi’in, bila teringat kejadian ini, berkata, “Utsman, semoga Allah merahmatimu. Dalam kondisi genting, perhatianmu masih tertuju pada umat Muhammad. Seandainya engkau berdoa agar mereka tidak bersatu, niscaya mereka tak akan pernah bersatu selamanya.”
Ternyata, didetik-detik ancaman mati dan pembunuhan, yang ada dalam pikirannya adalah umat. Ia memohon kepada Allah agar mempersatukan umat sepeninggalnya. Ia berdoa “Ya Allah, persatukan umat Muhammad” sampai dua kali. Itu sebabnya, jangan sampai urusan kekuasaan menjadi kekacauan atau mempermainkan agama.
Khilafah bagi setiap Muslim.
Kita juga tidak bisa sekadar melaksanakan fungsi khalifah hanya yang terkait pada diri kita saja. Setiap kita memiliki amanat menjadi penerus atau khalifah, dalam mata, telinga, lidah, kelamin, perut, tangan, kaki, dan hatinya. Maka, laksanakanlah kewajiban khalifah dari Rasulullah. Semua ini adalah hal yang harus engkau pelihara. Engkau pemimpin semua ini, semua urusan-urusannya diserahkan kepadamu. Maka, jadilah penerus yang baik dari Rasulullah dalam memelihara anggota tubuhmu agar selalu mematuhi syari’at dan menerapkan hukum Allah.
Di wilayah lain, engkau memiliki kekuasaan dalam hal-hal yang terkait dengan urusan keluarga, teman, dan tetangga. Juga, dalam hal yang terkait dengan orang yang mendengarkan nasihat darimu, menerima saran dan arahanmu, baik orang dekatmu atau bukan. Laksanakan kewajiban khilafah dalam semua itu.
Menegakkan syariat, dalam bentuk apapun, merupakan khilafah dari Allah dan Rasul-Nya, dalam arti yang umum. Sedangkan khilafah dalam arti khusus adalah khilafah yang dalam hadits Rasulullah SAW, yang dinyatakan berlangsung selama 30 tahun setelah wafatnya beliau. Setelah itu, kerajaan yang menggigit. Setelah itu, kekuasaan yang diktator. Inilah yang terjadi pada mayoritas penguasa saat itu. Lalu pada akhirnya khilafah kembali seperti ajaran Rasulullah SAW. Ini sesuatu yang akan terjadi, dan telah diberitakan Rasulullah SAW.
Kabar tentang khilafah ini jangan dipertentangkan dengan perintah-perintah Rasulullah terhadap umatnya: bagaimana mengatur, apa yang harus dilakukan, bagaimana seharusnya menghadapi berbagai persoalan yang terjadi, menghadapi para penguasa, menghadapi rakyat, dan bagaimana bersikap terhadap pihak-pihak yang memiliki hubungan dekat ataupun jauh.
Betapapun, jika misalnya ada kesempatan bagi seseorang untuk membela agama Allah, dalam bentuk apapun, dan dalam sisi kehidupan apapun, ia memiliki tanggung jawab besar untuk melaksanakan kewajiban itu, namun apa yang ia lakukan itu ternyata menimbulkan efek negatif yang lebih besar atau membawa badai besar di tengah-tengah kaum muslimin, tinggalkan dan jauhi hal itu. Sebab, untuk bisa lebih mempersatukan umat Islam diperlukan langkah-langkah yang lebih lembut dan berdasarkan kasih sayang terhadap umat.
Inilah teladan yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Ini pula yang dijalani oleh para pendahulu umatini.
Insan-insan Khalifah Terbaik
Al-Hasan menginginkan perdamaian umat. Ia juga rindu bertemu kakeknya, Rasulullah SAW. Maka, tidak ada yang perlu ia cari dengan menggunakan kekuasaan dunia, atau dengan tetap hidup di dunia. Hari-hari berlalu, dan ia tahu bahwa ia diracun, yang mengantarkannya pada kesyahidan.
Khilafah ideal berlalu saat Al-Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia meninggalkan khilafah lahiriah ini hingga wafat. Ia memilih menjadi khalifah Rasulullah SAW dalam menyampaikan kebenaran, memberikan bimbingan, mengajar, memberi petunjuk, berbudi pekerti luhur, bersikap belas kasih dan sifat-sifat mulia lain yang telah dilekatkan oleh Allah dalam dirinya. Inilah buah dari didikan Rasulullah, Muhammad SAW.
Kalau kita bercermin pada yang dilakukan adiknya, Al-Husain, setelah itu, mungkin akan ada yang bertanya: Bagaimana bisa Al-Husain keluar (dari Makkah) untuk memenuhi permintaan penduduk Irak (menghadapi “Khalifah” Yazid)?
Beberapa hal yang harus dipahami mengenai keberangkatannya ke Irak. Diantaranya adalah, pertama, adanya surat ajakan yang dikirim penduduk Irak dan itu peluang untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang sesuai dengan syari’at. Ternyata mereka menipunya, tidak mempercayainya, mengkhianatinya, dan meninggalkannya. Namun, ia rela.
Kedua, ia sudah memperkirakan pengkhianatan ini. Namun, mati syahid tampak di depan mata. Sepeninggal kakaknya, Al-Hasan, giliran ia yang menyimpan rindu bertemu kakeknya.
Al-Husain membuat keputusan tegas demi kebaikan umat. Juga, agar mereka tahu bahwa ia tak mau tertipu kekuasaan lahiriah, namun juga tak ingin melampaui batas dalam memahami wajibnya patuh kepada penguasa. Ia ingin mengajari umat agar tidak memiliki dugaan keliru bahwa jika kita sudah diperintah untuk patuh kepada penguasa, kendatipun kita tahu bahwa mereka tidak baik, berarti kita harus meyakini bahwa para penguasa itu adalah orang-orang yang benar dan menjadi landasan dalam berbagai hal. Yang bisa dijadikan landasan adalah ilmu syari’at dan agama Allah.
Jadi, gerakan Al-Husain adalah untuk menjelaskan prinsip ini dengan cara yang sempurna. Dan, telah kami singgung dalam pembahasan tadi, ia memang hendak menerjunkan dirinya ke dalam kesyahidan. Ia begitu rindu untuk bertemu kakeknya.
Demi Allah, kekeliruan terjadi kalau yang melakukan adalah orang-orang seperti kita. Sayyidina Husain tidak sama dengan kita. Orang-orang yang dididik di bawah penjagaan dan pengawasan Rasulullah, mereka adalah teladan bagi umat manusia. Mereka contoh atas kesesuaian perkataan dan tindakan yang benar.
Maka, Sayyidina Husain memberikan penjelasan mengenai perbedaan berbagai hal tersebut, dengan cara maju dan mengorbankan nyawanya untuk menyambut janji Allah kepada Rasul-Nya bahwa suatu saat sekian banyak keluarganya gugur sebagai syahid dalam sehari. Hal itu menjadi tragedi yang sangat pedih dalam sejarah umat Muhammad SAW.
Khilafah agung Nabawiyah yang bukan sekadar kekuasaan lahiriah itu kemudian digantikan oleh Ali Zainal Abidin. Ia benar-benar hiasan indah bagi para ahli ibadah. Perjalanan hidupnya penuh dengan fenomena ibadah. Ia banyak melakukan shalat. Dua pipinya bergaris hitam karena aliran air mata, gambaran rasa takut yang mendalam kepada Allah. Lalu, apa yang ia lakukan? Apakah ia berjuang untuk merengkuh kekuasaan? Apa ia mengajak kaum muslimin untuk membai’atnya? Apa ia membuat rencana kudeta terhadap penguasa yang ada?
Semua ini tidak terjadi pada Ali Zainal Abidin.
Apakah ia tidak tahu apa-apa tentang agama? Aku bersaksi bahwa ia termasuk orang yang paling alim mengenai agama. Demi Allah, ia bukan orang bodoh. Dimasanya, ia adalah pewaris agung bagi Rasulullah SAW.
Namun demikian, ia menyibukkan hidupnya dengan memperbanyak shalat, membaca Al-Qur-an, menangis, bersedekah, dan berbuat kebajikan kepada orang lain. Ia sama sekali tak pernah menyinggung urusan kekuasaan. Ia juga tidak pernah memaki-maki, melaknat, dan mengucapkan pernyataan-pernyataan buruk kepada para pembunuh ayah dan saudara-saudaranya.
Inilah khalifah sejati. Inilah yang dilakukan generasi terbaik umat ini. Mereka mengikuti jejak Rasulullah SAW, jejak Ahlul Bayt, Sahabat, Tabi’in, dan para pengikut mereka.
Setelah itu, putranya, Muhammad Al-Baqir. Setelah itu, putra Al-Baqir, yaitu Ja’fa rAsh-Shadiq. Mereka semua meneladani ayah-ayahnya dalam kemuliaan dan jalan ini.
Pada masa itu mereka diikuti oleh para pemuka tabi’in. Bahkan, saat Al-Hasan menyerahkan kekhilafahan lahiriah, masih banyak pemuka sahabat. Apa pandangan mereka? Adakah mereka menyatakan “Kami bersama Anda, kami berperang bersama Anda untuk Allah. Sekarang Anda meninggalkan kami dan menyerahkan khilafah kepada orang lain?” Tidak. Al-Hasan patuh (pada tuntunan agama), merekapun ikut patuh.
Tibalah masa tabi’in. Saat itu, kekuasaan dipegang oleh Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia dikenal fasik dan buruk. Saat itu, ada Hasan Al-Bashri, Said bin Al-Musayyib, juga para tabi’in senior. Ada Ali Ibnul Husain, juga putra-putra Al-Hasan. Adakah diantara mereka yang membuat kekacauan? Atau melawan penguasa, atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan teladan para penghulu dan ajaran Rasulullah SAW?
Khilafah berlanjut. Tibalah masa para Imam : Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, Ahmad binHanbal. Apa mereka semua hidup di tengah-tengah kekhilafahan yang lurus atau hidup di tengah-tengah kekuasaan kerajaan? Apakah mereka memiliki paham bahwa mereka harus membuat rencana untuk menyingkirkan orang-orang yang memiliki kekuasaan itu?
Mereka sibuk menjaga Islam, menjaga syari’at di tengah-tangah umat, dengan segala kesungguhan dan daya upaya. Mereka mengorbankan waktu, jiwa-raga, dan harta untuk menjelaskan hakikat syari’at kepada umat manusia serta membawa mereka untuk bisa mengamalkannya. Mereka adalah khalifah terbaik dari Rasulullah SAWdan saat itu terdapat begitu banyak tokoh ulama dari kalangan tabi’in dantabi’ut tabi’in.
Peran Khilafah para Nabi
Bagitulah khilafah di tengah-tengah mereka. Bahkan, demikian pula yang kita lihat dalam Al Qur’an dan dijalani para nabi di masa-masa lampau.
Apakah Nuh AS seorang khalifah di atas muka bumi ini? Ya. Ia khalifah selama 950 tahun. Lalu apakah kekuasaan berada di tangannya atau di tangan orang-orang kafir? Selama itu pula ternyata kekuasaan bukan berada ditangannya, tapi tangan orang-orang kafir.
Lalu, apakah tugas khalifah dari Allah hidup atau mati? Tegak di tangan siapa, di tangan orang-orang kafir?
Tidak, khilafah tegak berada di tangan Nabi Nuh AS dan pengikutnya. Padahal yang beriman kepadanya hanya segelintir orang. Namun, segelintir orang ini memiliki kedudukan dan peran yang besar, hingga Allah memuliakan mereka dengan memusnahkan seluruh umat manusia kecuali yang berada di kapal Nuh. Itua adalah balasan atas kesabaran dan ketabahannya selama 950 tahun melaksanakan tugas khilafah dengan peran yang sangat baik.
Nabi Musa memikul tugas khilafah dari Allah. Ia mendatangi Fir’aun, dan kekuasaan berada di tangan Fir’aun. Hari pertama, kedua, dan ketiga, muncullah mukjizat-mukjizatnya. Para tukang sihir pun beriman. Mereka menjadi pembela agama Allah dan pasukan Allah. Mereka juga memikul khilafah dari Allah. Namun, kekuasaan tetap berada di tangan Fir’aun, sampai datang waktunya kemudian ketika Allah menghancurkan Fir’aun dan bala tentaranya.
Sementara itu, pada kisah khilafah Sayyidina Isa, Bani Israil datang hendak membunuhnya. Allah pun mengangkat Nabi Isa ke langit.
Apakah Nabi Isa seorang khalifah Allah? Demi Allah, ia adalah seorang khalifah Allah. Bahkan, termasuk Rasul Ulul ‘Azmi, termasuk utusan Allah yang istimewa.
Begitu pula Sayyidina Ibrahim, ia berada di bawah kekuasaan Namrudz beberapa kali. Sampai ketika mukjizatnya muncul, ia keluar dari kobaran api yang menjadi dingin dan menjadi keselamatan baginya. Waktu itu, kekuasaan masih berada di tangan Namrudz, dan Nabi Ibrahim berada di bawah kekuasaan itu. Ia tidak memikirkan soal kulit permukaan kekuasaan ini hingga Allah SWT menolongnya.
Inilah poin terpenting dalam tema khilafah, juga pandangan para salaf mengenai hal itu. Sekian banyak nabi pun melewati keadaan ini.
Begitulah pengertian khilafah. Pengertian yang memiliki kaitan erat dengan kewajiban untuk melaksanakan syari’at dalam diri kita, keluarga kita, dan anak-anak kita. Demikian itu, agar kita tidak melanggar prinsip umum dan prinsip khusus khilafah, juga tidak menghalangi sebab-sebab datangnya pertolongan Allah dengan hal-hal yang diembuskan musuh-musuh Allah yang ingin merusak moral kita. Mereka memasukkan budaya-budaya buruk yang bertentangan dengan syari’at ke tengah-tengah kita.
Semoga Allah menolak keburukan orang-orang kafir dan orang-orang jahat dari kita. Semoga Allah menurunkan berkah kepada kita dan kepada para ulama disini, juga ulama-ulama lain di Indonesia dan di negara-negara lainnya. Yakni, orang-orang yang senantiasa gigih menjaga agama dan syari’at ini dengan upaya yang sempurna.
Dan, hanya Allah-lah yang menganugerahi taufiq dan ampunan.
Hikmah yang terpendam.
Pandangan utuh perihal tema khilafah diulas Habib Umar bin Hafizh dengan amat gamblang. Diantara yang dapat kita petik dari ulasan di atas adalah bahwa tak lagi terselenggaranya kekhilafahan yang lurus setelah 30 tahun pasca-wafatnya Rasulullah SAW adalah berita yang disampaikan Rasulullah SAW sendiri. Beliau tahu persis bahwa itu akan terjadi, tapi apa yang beliau pesankan kemudian? Kepatuhan pada penguasa, sampai penguasa itu sudah tak lagi dapat ditakwil akan kekufurannya.
Sekalipun makna dari redaksi-redaksi kalimat yang terkait dengan kekhilafahan dalam karya-karya ulama salaf kini marak diperdebatkan, nyatanya para ulama salaf itu sendiri tak satupun yang menggalang gerakan khusus untuk mendirikan khilafah yang mencontoh kekhilafahan yang lurus, Khulafa’ Rasyidun. Kesadaran historis kita pun digugah, “Apakah mereka semua hidup ditengah-tengah kekhilafahan yang lurus ataukah di tengah-tengah kekuasaan kerajaan? Apakah mereka memiliki paham bahwa harus membuat rencana untuk menyingkirkan orang-orang yang memiliki kekuasaan itu?”
Melihat kenyataan sejarah di satu sisi dan dengan asumsi bahwa makna dari redaksi terkait kekhilafahan itu sesuai dengan apa yang disuarakan paradai penyokong khilafah Islamiyah kini pada sisi lainnya, pertanyaan selanjutnya yang pantas diajukan adalah apakah seluruh ulama dari generasi ke generasi itu hanya orang-orang yang pandai berkata-kata lewat karya-karyanya dan enggan berusaha keras demi tegaknya khilafah, sesuatu yang konon termasuk ahammul wajibat (kewajiban yang terpenting)? Tentu bukan demikian. Mereka tak membuat sebuah gerakan khusus karena mereka paham betul bahwa bukan itu yang dipesankan Rasulullah SAW terkait masalah ini.
Saat berbuat, terutama pada kaum muda, seseorang biasanya ingin cepat melihat hasil. Dakwah menyebarkan doktrin wajibnya mendirikan khilafah Islamiyah boleh jadi memiliki latar belakang psikologis semacam itu. Pemicunya, akumulasi ketidak percayaan terhadap penyelesaian berbagai problematik sosial, ekonomi, politik, budaya yang tak kunjung selesai. Dalam kondisi demikian, ide khilafah Islamiyah datang dengan senyum menggoda diselingi pekik takbir yang menggelora, lalu mulai merayu umat dengan tawaran sebagai satu-satunya solusi umat: bila khilafah berdiri, insya Allah semua urusan beres. Siapa tak tergiur?
Pola dakwah yang berorientasi pada massa memang biasanya lebih banyak mengandalkan slogan daripada kandungan. Sebab barangkali karena aspek ini lebih mudah dikalkulasi dan didata. Disinilah pentingnya penyadaran bahwa dalam berdakwah, selain bekal keilmuan, kesungguhan, kesinambungan, yang terpenting adalah keikhlasan, sebagai bekal seseorang meraih keridhaan di sisi Allah SWT. Keridhaan Allah inilah ukuran keberhasilan dakwah seseorang, bukan yanglainnya. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada fisikmu dan hartamu, tetapi Allah melihat kepada amal dan hatimu.” (HR. IbnuMajah)
Dalam isi mauizhahnya, Habib Umar sempat menyinggung, “Lalu pada akhirnya khilafah kembali seperti ajaran Rasulullah SAW. Ini sesuatu yang akan terjadi, dan telah diberitahukan Rasulullah SAW.” Ia tak memperjelas lebih jauh maksud “akan” disitu, apakah relatif terhadap masa dirinya ataukah masa Rasulullah. Tampak disini bahwa ia pun tak terjebak dalam perdebatan tentang apakah khilafah yang dikatakan akan kembali seperti ajaran Rasulullah SAW ini adalah pada masa Sayyidina Umar bin Abdul Aziz ataukah pada masa menjelang hari kiamat kelak. Yang ingin Habib Umar tekankan, sebagaimana yang ia katakan selanjutnya, bahwa betapapun, “Kabar tentang khilafah ini tidak bertentangan dengan perintah-perintah Rasulullah terhadap umatnya…”
Pelajaran dari umat-umat terdahulu menunjukkan bahwa, karena kesungguhan mereka mengikuti petunjuk syari’atnya dan melaksanakan tugas khilafah ruhaniyah yang diemban setiap manusia dalam lingkupnya masing-masing dan menjadi penjaga-penjaga syari’at dan ilmu pengetahuan yang setia, pada gilirannya datanglah kemuliaan dan pertolongan dari sisi Allah SWT. Contohnya, Nabi Nuh pun hanya mendapat pengikut segelintir orang sebagai hasil dari dakwahnya selama 950 tahun.
Serangkaian tulisan ini menunjukkan bahwa para ulama kita, dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti kalangan Alawiyyin, Nahdhiyyin, dan unsur-unsurumat lainnya di lingkungan Aswaja, pun memahami tema khilafah dengan pandangan seperti ini. Intinya, terus berbuat dan berbuat hal yang nyata di tengah masyarakat secara ikhlas, lillahi Ta’ala. Bagi mereka, yang penting adalah mengislamkan masyarakatnya, bukan institusi kenegaraannya.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami (Allah)akan melimpahkan keberkahan kepada mereka dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Judul asli tulisan ini “Khilafah Yang Tak Butuh Singgasana “Khalifah“. Disarikan dari Mau’izhah Habib ‘Umar bin Hafizh di depan Majelis Muwashalah Bayna Al-‘Ulama wa Al-Muslimin.
Senin, 11 Januari 2016
BANGKIT ATAU HANCURKAN
Bismillah....
Bangkit atau hancurkan perlahan.... !!
Waktu ibarat kehidupan. Jika kita kehilangan sebagian dari waktu kita, berarti kita kehilangan sebagian dari hidup kita.
Waktu kosong adalah musibah karena dapat merusak jiwa, menggoda dan mendorong seorang untuk selalu berbuat kebatilan. Jika kita tidak dapat menyibukan diri untuk melakukan perbuatan baik, maka nafsu akan menyuruh kita untuk melakukan perbuatan buruk.
Beruntunglah bagi mereka yang selalu memanfatkan waktunya. Memanfaatkan waktu bukan berarti hanya menyibukan diri saja, namun berusaha memetik buah usahanya dan pandai memanfaatkan waktunya secara positif.
Alangkah bahagianya orang yang memanfaatkan waktunya untuk kebenaran. Menghadap Rabbnya dengan wajah putih berseri dan tangannya penuh dengan perbuatan baik.
Alangkah sengsaranya orang yang membuang waktunya hanya untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna.
Waktu ibarat kehidupan. Jika kita kehilangan sebagian dari waktu kita, berarti kita kehilangan sebagian dari hidup kita.
Waktu kosong adalah musibah karena dapat merusak jiwa, menggoda dan mendorong seorang untuk selalu berbuat kebatilan. Jika kita tidak dapat menyibukan diri untuk melakukan perbuatan baik, maka nafsu akan menyuruh kita untuk melakukan perbuatan buruk.
Beruntunglah bagi mereka yang selalu memanfatkan waktunya. Memanfaatkan waktu bukan berarti hanya menyibukan diri saja, namun berusaha memetik buah usahanya dan pandai memanfaatkan waktunya secara positif.
Alangkah bahagianya orang yang memanfaatkan waktunya untuk kebenaran. Menghadap Rabbnya dengan wajah putih berseri dan tangannya penuh dengan perbuatan baik.
Alangkah sengsaranya orang yang membuang waktunya hanya untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna.
SALAM PERSAHABATAN
Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim..
Salam Persahabatan (Oleh Rinindri Mentres)
Salam persahabatan dariku untuk seluruh sahabat FB, baik yang telah lama menemani saya di FB maupun yang baru menjalin persahabatan dengan saya, sementara saya belum sempat menyapanya karena keterbatasan saya, begitu juga untuk seluruh sahabat saya dalam dunia nyata yang berinteraksi dengan saya langsung, maupun yang jarang bertemu dengan saya, semoga persahabatan kita diRidhoi oleh Allah ta'ala.. Aamiin.1. “Ta’aruffan” , adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.
2. “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.
3. “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.
4. “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.
5. “Amalan”, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.
6. “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, didepan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).
Rasulullah mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”
7. “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, bertemu krn Allah, berpisah krn Allah, tulus saling cinta & sayang krn ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam diam dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya. Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala. "Sungguh seseorang di akhirat akan dikumpulkan bersama siapa yg ia cintai di dunia" demikian khabar Rasululah.
Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10),
“Teman teman akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).
Allahumma ya Allah tanamkanlah di hati kami saling cinta krnMu walaupun kami tidak berjumpa langsung, jadikanlah persahabatan kami via FB ini, persahabatan yg membuat kami semakin cinta kepadaMu dan RasulMu, persahabatan yg membuat kami semakin takut ma'siyat kepadaMu, dan kumpulkanlah kami di akhirat dalam ridho, rahmat, ampunan dan SyurgaMu.... Aamiin.
INGIN DAPATKAN YANG BAIK MAKA HARUSLAH BERBUAT BAIK
Bismillah....
"Berhentilah bertanya bagaimana menemukan pasangan yang baik. Mulailah menjadi orang yang baik dan terus lebih baik, maka akan terjawab sendiri pertanyaan ini."..
Dalam kitab tafsir alwasiti lilwahbah zuhaiyli mengatakan, Allah menjalankan sesuatu berdasarkan kebiasan, imbal balik atau pembalasan( karma)..orang baik akan mendapatkan pasangan yang baik, begitupun sebaliknya orang jelek akan mendapatkan orang jlek pula....kalo anda sholeh tunggulah saatnya wanita sholehah memintamu menjadi makmummu, kalau anda sholihah tunggulah lelaki tampan nan sholeh melamarmu dan menikahimu. jangan harap lelaki sholeh nan tampan menghampirimu, sedang engkau masih seperti itu..sibuk mencari kejelrkan orang lain,,sedang kejelekanmu tak pernah kau gubris,,jodoh tidak akan mleset ,tidak akan nyasar ..jodohmu adalah cerminan sikap perbuatanmu... Enggeh nopo mboten Ohek Cataleya Mahbuubiy... 😃😃😃 cemunguut ah...
Tafsir alwasiti lizzuhayli
«اﺟ ﺃﻥ ﻭﻋﺪ اﻟﻠﻪ ﻭﻭﻋﻴﺪﻩ ﻭﺣﺴﺎﺑﻪ ﻫﻮ اﻟﻌﺪﻝ اﻟﺬﻱ ﻻ ﺟﻮﺭ ﻓﻴﻪ.
ﺛﻢ ﺳﻦ اﻟﻠﻪ ﻗﺎﻧﻮﻧﺎ ﻋﺎﻣﺎ ﻳﺪﻝ ﺩﻻﻟﺔ ﻣﺎﺩﻳﺔ ﺣﺴﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺑﺮاءﺓ اﻟﺴﻴﺪﺓ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﻭﻫﻮ ﺃﻥ اﻟﻨﺴﺎء اﻟﺰﻭاﻧﻲ اﻟﺨﺒﻴﺜﺎﺕ ﻟﻠﺨﺒﻴﺜﻴﻦ ﻣﻦ اﻟﺮﺟﺎﻝ، ﻭاﻟﺨﺒﻴﺜﻴﻦ اﻟﺰﻧﺎﺓ ﻣﻦ اﻟﺮﺟﺎﻝ ﻟﻠﺨﺒﻴﺜﺎﺕ ﻣﻦ اﻟﻨﺴﺎء، ﻓاﻟﻻﺋﻖ ﺑﻜﻞ ﻭاﺣﺪ ﺃﻣﺜﺎﻟﻪ، ﻓﺸﺄﻥ اﻟﺨﺒﻴﺜﺎﺕ ﺗﺰﻭﺝ اﻟﺨﺒﻴﺜﻴﻦ، ﻭﺷﺄﻥ اﻟﻄﻴﺒﻴﻦ ﺗﺰﻭﺝ اﻟﻄﻴﺒﺎﺕ. ﺃﻭﻟﺌﻚ اﻟﻄﻴﺒﻮﻥ ﻭاﻟﻄﻴﺒﺎﺕ ﻛﺼﻔﻮاﻥ ﺑﻦ ﻣﻌﻄﻞ اﻟﻤﺘﻬﻢ اﻟﺒﺮﻱء، ﻭﻋﺎﺋﺸﺔ اﻟﺼﺪﻳﻘﺔ اﻟﺘﻲ ﻫﻲ ﺃﺳﻤﻰ ﻭﺃﺭﻓﻊ ﻣﻦ اﻟﺘﻬﻤﺔ، ﺑﻌﻴﺪﻭﻥ ﻣﺒﺮﺅﻭﻥ ﻋﻤﺎ ﻳﻘﻮﻟﻪ ﺃﻫﻞ اﻹﻓﻚ ﻭاﻟﺒﻬﺘﺎﻥ، ﻣﻤﻦ ﺗﻤﻴﺰﻭا ﺑﺎﻟﺨﺒﺚ ﻭاﻟﺪﻧﺲ ﻭاﻟﺘﻠﻮﺙ ﺑﺎﻟﻤﻨﻜﺮاﺕ.
Selam santum pagi dan selamat beraktifitas... semoga cepet ketemu dengan jodohnya.. Aamiin...
LILIN KECILMU
Bismillah....
Ketika duniamu gelap, Tuhan menghadirkan aku layaknya sebatang lilin.
Kau bakar diriku agar kau tak ketakutan lagi. Kelip cahayaku mengusir lelahmu. Ketakutan akan gelap sedikit tersimbak ketika kau tersenyum sesaat setelah menyalakanku.
Kau tak takut lagi.
Dan aku tak peduli lagi.
Biar perlahan api mulai menghabiskan hidupku, selama kau tak sedih lagi, aku tak peduli.
Kau bawa aku ke mana-mana. Seakan saat gelap hidupmu, akulah temanmu satu-satunya. Kau bercerita, kau berbagi tawa, kau curahkan segala keluh kesah padaku; Cahayamu satu-satunya.
Hingga suatu saat lampu kembali menyala.
Kau tersontak lalu terdiam sebentar.
Menatap aku, seakan aku tak kau butuhkan lagi.
Meniup apiku, seakan cahayaku tak menghangatkanmu lagi.
Lalu kemudian kau berbahagia.
Bersorak-sorai sambil tertawa riang karena lampu kembali menyala– seakan saat itu tawamu sedang merayakan aku yang berduka karena dibunuhmu begitu saja.
Ketika duniamu gelap, Tuhan menghadirkan aku layaknya sebatang lilin.
Kau bakar diriku agar kau tak ketakutan lagi. Kelip cahayaku mengusir lelahmu. Ketakutan akan gelap sedikit tersimbak ketika kau tersenyum sesaat setelah menyalakanku.
Kau tak takut lagi.
Dan aku tak peduli lagi.
Biar perlahan api mulai menghabiskan hidupku, selama kau tak sedih lagi, aku tak peduli.
Kau bawa aku ke mana-mana. Seakan saat gelap hidupmu, akulah temanmu satu-satunya. Kau bercerita, kau berbagi tawa, kau curahkan segala keluh kesah padaku; Cahayamu satu-satunya.
Hingga suatu saat lampu kembali menyala.
Kau tersontak lalu terdiam sebentar.
Menatap aku, seakan aku tak kau butuhkan lagi.
Meniup apiku, seakan cahayaku tak menghangatkanmu lagi.
Lalu kemudian kau berbahagia.
Bersorak-sorai sambil tertawa riang karena lampu kembali menyala– seakan saat itu tawamu sedang merayakan aku yang berduka karena dibunuhmu begitu saja.
Meletakkan dunia.
Bismillah...
من الطبيعي أن ترى السفينة في الماء لكن من الخطر أن ترى الماء في السفينة فكن أنتفي قلب الدنيا ولا تجعل الدنيا في قلبك .
Wajar jika kau melihat Perahu berada di air, Namun berbahaya jika kau melihat Air berada di dalam Perahu. Oleh karena nya, jadilah engkau berada di jantung dunia, dan jangan Jadikan dunia berada di dalam jantung hatimu...
Banyak orang tenggelam kedalam samudera dunia, jarang ada yang selamat jika sudah tenggelam kedalam perhiasan dan kenikmatan dunia.
من الطبيعي أن ترى السفينة في الماء لكن من الخطر أن ترى الماء في السفينة فكن أنتفي قلب الدنيا ولا تجعل الدنيا في قلبك .
Wajar jika kau melihat Perahu berada di air, Namun berbahaya jika kau melihat Air berada di dalam Perahu. Oleh karena nya, jadilah engkau berada di jantung dunia, dan jangan Jadikan dunia berada di dalam jantung hatimu...
MAKAM KERAMAT
Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim
وقد قال أبو بكر عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا رحمه الله : حدثنا أبو بلال الأشعري حدثنا إبراهيم بن محمد عن عبد الله بن جعفر بن أبي طالب حدثني بعض أهل العلم
🌾Telah mengatakan Abu Bakar yaitu Abdullah bin Muhammad bin Abid Dunia رحمه الله ...... ;
Ketika Abu Musa menaklukkan kerajaAn Asbahan, dia melihat suatu tembok/benteng dari tembok yang mengelilingi kota dan telah runtuh. Maka dia membangunNya kembali tetapi ternyata runtuh lagi, kemudian dia membangunNya lagi, dan ternyata runtuh lagi.
Kemudian dikatakan kepadanya bahwa sesungguhnya di bawah tembok itu terdapat makam seorang lelaki yang shaleh. Maka digalilah dasar tembok tersebut, dan ternyata terdapat jenazah seorang lelaki yang sedang berdiri dengan membawa pedang yang tertulis di pedangnya kata;
أنا الحارث بن مضاض نقمت على أصحاب الأخدود
🌿Aku adalah Al-Haris bin Madad, akulah yang membela orang-orang yang dimasukkan ke dalam parit.
🍂Kemudian Abu Musa mengeluarkan jenazah itu dan membangun tembok tersebut, maka tembok itu berdiri dengan kokohnya dan tidak runtuh lagi.
🌴Jenazah tersebut adalah Al-Haris bin Madad bin Amr bin Madad Al-Jurhumi, salah seorang Raja Jurhum. Raja-raja Jurhumlah yang mengurus Ka'bah sesudah anak keturunan Sabit bin Ismail bin Ibrahim. Dan keturunan Al-Haris ini (yaitu Amr bin Haris bin Madad) adalah Raja Jurhum terakhir di Makkah sebelum mereka diusir oleh Khuza'ah dan memindahkan mereka ke negeri Yaman. Dialah orang yang mengatakan dalam syairnya yang dikutip oleh Ibnu Hisyam;
كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْحَجُونِ إِلَى الصَّفَا ... أَنِيسٌ وَلَمْ يَسْمُرْ بِمَكَّةَ سَامِرُ
بَلَى نَحْنُ كُنَّا أَهْلَهَا فَأَبَادَنَا ... صُرُوفُ اللَّيَالِي وَالْجُدُودُ الْعَوَاثِرُ
🌹Seakan-akan antara Hujun dan Safa tidak ada lagi keramaian, dan di Mekkah tidak ada lagi orang-orang/teman yang begadang .
Tidaklah demikian, sebenarnya kami adalah penduduk aslinya, kami telah dibinasakan oleh pergantian malam/zaman dan kejadian-kejadian yang menimbulkan mala petaka.
وهذا يقتضي أن هذه القصة كانت قديما بعد زمان إسماعيل عليه السلام بقرب من خمسمائة سنة أو نحوها وما ذكره ابن إسحاق يقتضي أن قصتهم كانت في زمان الفترة التي بين عيسى ومحمد عليهما من الله السلام وهو أشبه والله أعلم
🌱Dan hal ini menunjukkan bahwa kisah ini terjadi di masa dahulu sesudah zaman Nabi Ismail عليه السلام dalam jaraknya sekitar lima ratus tahun. Sedangkan apa yang diketengahkan oleh Ibnu Ishaq memberikan pengertian bahwa kisah ini terjadi di masa fatrah antara Nabi Isa عليه السلام dan Nabi Muhammad ﷺ.
والله أعلم....
📚Di Kutib dari Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Buruj.
🍃Makam Keramat
وقد قال أبو بكر عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا رحمه الله : حدثنا أبو بلال الأشعري حدثنا إبراهيم بن محمد عن عبد الله بن جعفر بن أبي طالب حدثني بعض أهل العلم
🌾Telah mengatakan Abu Bakar yaitu Abdullah bin Muhammad bin Abid Dunia رحمه الله ...... ;
Ketika Abu Musa menaklukkan kerajaAn Asbahan, dia melihat suatu tembok/benteng dari tembok yang mengelilingi kota dan telah runtuh. Maka dia membangunNya kembali tetapi ternyata runtuh lagi, kemudian dia membangunNya lagi, dan ternyata runtuh lagi.
Kemudian dikatakan kepadanya bahwa sesungguhnya di bawah tembok itu terdapat makam seorang lelaki yang shaleh. Maka digalilah dasar tembok tersebut, dan ternyata terdapat jenazah seorang lelaki yang sedang berdiri dengan membawa pedang yang tertulis di pedangnya kata;
أنا الحارث بن مضاض نقمت على أصحاب الأخدود
🌿Aku adalah Al-Haris bin Madad, akulah yang membela orang-orang yang dimasukkan ke dalam parit.
🍂Kemudian Abu Musa mengeluarkan jenazah itu dan membangun tembok tersebut, maka tembok itu berdiri dengan kokohnya dan tidak runtuh lagi.
🌴Jenazah tersebut adalah Al-Haris bin Madad bin Amr bin Madad Al-Jurhumi, salah seorang Raja Jurhum. Raja-raja Jurhumlah yang mengurus Ka'bah sesudah anak keturunan Sabit bin Ismail bin Ibrahim. Dan keturunan Al-Haris ini (yaitu Amr bin Haris bin Madad) adalah Raja Jurhum terakhir di Makkah sebelum mereka diusir oleh Khuza'ah dan memindahkan mereka ke negeri Yaman. Dialah orang yang mengatakan dalam syairnya yang dikutip oleh Ibnu Hisyam;
كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْحَجُونِ إِلَى الصَّفَا ... أَنِيسٌ وَلَمْ يَسْمُرْ بِمَكَّةَ سَامِرُ
بَلَى نَحْنُ كُنَّا أَهْلَهَا فَأَبَادَنَا ... صُرُوفُ اللَّيَالِي وَالْجُدُودُ الْعَوَاثِرُ
🌹Seakan-akan antara Hujun dan Safa tidak ada lagi keramaian, dan di Mekkah tidak ada lagi orang-orang/teman yang begadang .
Tidaklah demikian, sebenarnya kami adalah penduduk aslinya, kami telah dibinasakan oleh pergantian malam/zaman dan kejadian-kejadian yang menimbulkan mala petaka.
وهذا يقتضي أن هذه القصة كانت قديما بعد زمان إسماعيل عليه السلام بقرب من خمسمائة سنة أو نحوها وما ذكره ابن إسحاق يقتضي أن قصتهم كانت في زمان الفترة التي بين عيسى ومحمد عليهما من الله السلام وهو أشبه والله أعلم
🌱Dan hal ini menunjukkan bahwa kisah ini terjadi di masa dahulu sesudah zaman Nabi Ismail عليه السلام dalam jaraknya sekitar lima ratus tahun. Sedangkan apa yang diketengahkan oleh Ibnu Ishaq memberikan pengertian bahwa kisah ini terjadi di masa fatrah antara Nabi Isa عليه السلام dan Nabi Muhammad ﷺ.
والله أعلم....
📚Di Kutib dari Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Buruj.
Intropeksi diri
Bismillah....
Tidak ada yang bisa mengubah diri seseorang untuk menjadi baik atau tidak baik, kecuali orang itu sendiri; juga tidak ada orang yang bisa menjadikan seseorang sukses atau gagal, kecuali juga oleh dirinya sendiri.
Maka berhenti menyalahkan siapa pun juga, karena semua yang kita peroleh dan nikmati hari ini, adalah akibat dari semua yang kita telah tanam di hari dan di masa lalu, sehingga upaya untuk mengubahnya, harus dilakukan dengan mengubah faktor penyebabnya, yaitu dengan segera memulai kebaikan dalam seluruh aspek kehidupan kita, sekaligus memulai kesungguhan kita untuk berjuang sehebat yang kita mampu.
Semoga kita semua dapat segera menyadari salah khilaf kita dalam perjalanan hidup ini, dan segera untuk berbenah memperbaiki diri dan berjuang dengan penuh kesungguhan, sehingga kebaikan dan sukses senantiasa menyertai hidup kita. Amin.
Maka berhenti menyalahkan siapa pun juga, karena semua yang kita peroleh dan nikmati hari ini, adalah akibat dari semua yang kita telah tanam di hari dan di masa lalu, sehingga upaya untuk mengubahnya, harus dilakukan dengan mengubah faktor penyebabnya, yaitu dengan segera memulai kebaikan dalam seluruh aspek kehidupan kita, sekaligus memulai kesungguhan kita untuk berjuang sehebat yang kita mampu.
Semoga kita semua dapat segera menyadari salah khilaf kita dalam perjalanan hidup ini, dan segera untuk berbenah memperbaiki diri dan berjuang dengan penuh kesungguhan, sehingga kebaikan dan sukses senantiasa menyertai hidup kita. Amin.
Tidak ada kompromi dengan kemungkaran
Bismillah...
Al-Imam Syumaith bin Ajlan, ulama salaf, radhiyallahu 'anhu berkata: "Telah dikatakan oleh para ulama":
مَنْ رَضِيَ بِالْفِسْقِ فَهُوَ مِنْ أَهْلِهِ ، وَمَنْ رَضِيَ أَنْ يَعْصىَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ ، لَمْ يُرْفَعْ لَهُ عَمَلٌ
Barangsiapa yang rela dengan perbuatan kefasikan, maka ia termasuk orang fasik. Barangsiapa yang rela dengan perbuatan kemaksiatan orang lain kepada Allah 'azza wa jalla, maka tidak ada amal kebaikan baginya yang diangkat (diterima) oleh Allah.
رواه ابو نعيم في حلية اﻷولياء 3/130 .
Titik akhir perjalanan kita
Bismillah...
Di sebalik sesuatu, ada rahsia yang menyatukan kita. Tapi untuk menjadi satu, ada dua jiwa yang harus mengalah dengan keegoaan hati. Tidak ada garis yang boleh mendamaikan antara ego kita. Entah siapalah yang terlalu meninggi dengan ego tanpa memikirkan keadaan hati. Dan entah siapalah yang akan bekorban di sebalik berakhirnya cerita ini.
.
Mulanya kita seiring sejalan. Kita tahu kemana langkah kaki kita melangkah. Berapa banyak persimpangan yang dilalui. Dan kini, sampailah kita pada titik ini, persimpangannya menjadi sedikit lain. Jalan sudah tidak seiring. Kaki seakan terhenti melangkah. Seperti sudah lelah mengalah. Ada beberapa perkara yang sudah mengalami perubahan dan persamaan yang sama juga, ternyata tidak lagi sama. Ada yang berbeza antara kita. Kau, aku; entah siapa yang sedar dulu.
.
Monolog hati kecil ini masih tertanya, apakah masih punya harapan? Jika tidak, ini adalah titik akhirnya. Bukan, bukan putus asa atau meletakkan hati pada harapan, tapi aku rasa berjuang sendiri pon tiada gunanya.
.
Kamu harus tahu satu perkara, "Apa yang kita rencanakan belum tentu dapat kita laksanakan, tetapi apa yang kita telah lalsanakan hari ini, itu adalah rencana dari Tuhan yang mengetahui apa yang kini kita butuhkan."
.
Mungkin,
.
Kini kita perlukan jarak dan waktu. Jarak agar kita saling tidak bertemu. Waktu agar kita mampu sembuhkan luka terlebih dahulu. Mencari pengganti hanyalah sekadar rencana hati. Kamu pernah menjadi tujuan akhir, ternyata harus diakhiri. Dan pernah menjadi penghapus luka, akhirnya mencipta duka. Sudahlah, aku harap ini titik akhir kita menuju bahagia. Kalau takdir kita tidak berakhir di garis yang sama, pastikan kenangan telah kau abadikan dalam cawan memori. -AR-
.
Nanti sampai masanya, Tuhan akan mendatangkan 'dia' dalam hidup kita. Bersedialah dengan hati masing-ll untuk bahagia kembali. Mungkin dengan cara ini, hati kita akan berehat sambil belajar mendewasakan diri. Hingga tibalah bahagia yang baru lalu yang akan menenggelamkan kekecewaan yang lama.
.
Titik akhir.
Titik akhir perjalanan kita
.Di sebalik sesuatu, ada rahsia yang menyatukan kita. Tapi untuk menjadi satu, ada dua jiwa yang harus mengalah dengan keegoaan hati. Tidak ada garis yang boleh mendamaikan antara ego kita. Entah siapalah yang terlalu meninggi dengan ego tanpa memikirkan keadaan hati. Dan entah siapalah yang akan bekorban di sebalik berakhirnya cerita ini.
.
Mulanya kita seiring sejalan. Kita tahu kemana langkah kaki kita melangkah. Berapa banyak persimpangan yang dilalui. Dan kini, sampailah kita pada titik ini, persimpangannya menjadi sedikit lain. Jalan sudah tidak seiring. Kaki seakan terhenti melangkah. Seperti sudah lelah mengalah. Ada beberapa perkara yang sudah mengalami perubahan dan persamaan yang sama juga, ternyata tidak lagi sama. Ada yang berbeza antara kita. Kau, aku; entah siapa yang sedar dulu.
.
Monolog hati kecil ini masih tertanya, apakah masih punya harapan? Jika tidak, ini adalah titik akhirnya. Bukan, bukan putus asa atau meletakkan hati pada harapan, tapi aku rasa berjuang sendiri pon tiada gunanya.
.
Kamu harus tahu satu perkara, "Apa yang kita rencanakan belum tentu dapat kita laksanakan, tetapi apa yang kita telah lalsanakan hari ini, itu adalah rencana dari Tuhan yang mengetahui apa yang kini kita butuhkan."
.
Mungkin,
.
Kini kita perlukan jarak dan waktu. Jarak agar kita saling tidak bertemu. Waktu agar kita mampu sembuhkan luka terlebih dahulu. Mencari pengganti hanyalah sekadar rencana hati. Kamu pernah menjadi tujuan akhir, ternyata harus diakhiri. Dan pernah menjadi penghapus luka, akhirnya mencipta duka. Sudahlah, aku harap ini titik akhir kita menuju bahagia. Kalau takdir kita tidak berakhir di garis yang sama, pastikan kenangan telah kau abadikan dalam cawan memori. -AR-
.
Nanti sampai masanya, Tuhan akan mendatangkan 'dia' dalam hidup kita. Bersedialah dengan hati masing-ll untuk bahagia kembali. Mungkin dengan cara ini, hati kita akan berehat sambil belajar mendewasakan diri. Hingga tibalah bahagia yang baru lalu yang akan menenggelamkan kekecewaan yang lama.
.
Titik akhir.
Langganan:
Postingan (Atom)

