Rabu, 30 Desember 2015

Kitab Rujukan Takfir Salafi Wahabi

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim..

INILAH KITAB RUJUKAN TAKFIR WAHABI SALAFY




1.     KITAB AD-DUROR AS-SANIYYAH FI AL-AJWIBAH AN-NAJDIYAH 16 JUZ [Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim Al-‘Ashim An-Najd]


وهذه الطائفة : ألتى تنتسب الى أبى الحسن الاشعري، وصفوا رب العالمين، بصفات المعدوم والجماد، ولقد أعظموا الفرية على الله، وخالفوا اهل الحق من السلف، والائمة، واتباعهم، وخلفوا من ينتسبون اليه، فأن اباالحسن الاشعري، صرح فى كتابه : الابانة، والمقالاة، بأثبات الصفات، فهذه الطائفة المنحرقة عن الحق، قد تجردت شياطينهم لصد الناس عن سبيل الله، فجحدوا توحيد الله فى الهية، وأجازوا الشرك لا يغفره الله، فجوزوا: أن يعبد غيره من دونه، وجحدوا توحيد صفاته باالتعطيل. ص: 210

فالائمة من أهل السنة، وأتباعهم، لهم المصنفات المعروفة، فى رد هذه الطائفة، الكافرةالمعاندة، كشفوا فيها كل شبهة لهم، وبينوا فيها الحق الذى دل عليه كتاب الله، وسنة رسوله، وما عليه سلف الامة، وأئمتها من كل امام رواية ودراية. ص: 211


KITAB MAJMU’AT AR-ROSAIL AL-MASAIL ULAMA’ NAJD AL-A’LAM [Dari masa Muhammad bin Abdul Wahhab sampai sekarang]


“Dan kelompok ini [Asy-‘Ariyah] yg dinisbatkan kpd Abu Al-Hasan Al-Asy’ari telah menggambarkan [mensifati] Tuhan semesta alam dengan sifat2 ketiadaan, dan sungguh mereka membuat suatu kebohongan besar atas Allah, mereka telah berlawanan dgn org2 yg benar dari para salaf [pendahulu], para imam dan yg mengikut mereka, dan mereka telah berlawanan bagi siapa yg telah menisbatkan kepadanya. Karena sesungguhnya Abu Al-Hasan Al-Asy’ari telah membuktikan di dlm kitabnya Al-Ibanah [Al-Ibanah ‘An Ushul Ad-Diniyah-pent] dan beberapa perkataan dgn menetapkan sifat2 Allah, maka kelompok ini [Asy’ariyah] adalah kelompok yg menyalahi kebenaran. Sengguh setan-setan mereka telah memperdayai mereka unt menghalangi manusia dari jalan Alloh. Mereka membantah ke-Esaan Alloh dlm ketuhanan. Dan jadilah mereka berbuat syirik yg Alloh tdk akan mengampuninya. Maka jadilah mereka penyembah selain Alloh. Dan mereka membantah ke-Esaan sifat-sifat Allah dgn ta’thil [menolak suatu sifat yg layak bagi Alloh-pent].

Dan para imam dari ahlussunnah [salafy wahabi-pent] dan para pengikut mereka [wahabiyun] mereka memiliki kitab2 yg terkenal sebagai bantahan atas kelompok ini [Asy’ariyah] yg KAFIR PEMBERONTAK. Mereka [wahabi dlm kitab2nya-pent] telah membongkar setiap syubhat mereka [Asy’ariyun], dan mereka menjelaskan di dalamnya kebenaran  yg telah ditunjukkan atasnya dari kitab Alloh dan kitab Rosul-Nya, dan apa yg ada pada salaful ummah [para pendahulu umat] dan para imam dari setiap imam baik sejarah dan riwayatnya. (Ad-Duror as-Saniyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah juz 3 hal. 210-211 )


و انا أخبركم عن نفسي، والله الذى لا اله الا هو، لقد طلبت العلم، واعتقدَ من عرفني أن لي معرفة، وأنا ذلك الوقت لا أعرف معنى لا إله إلا الله، ولا أعرف دين الإسلام، قبل هذا الخير الذي مَنَّ الله به، وكذلك مشايخي، ما منهم رجل عرف ذلك.

 فمن زعم من علماء العارض: أنه عرف معنى لا اله إلا الله، أو عرف معنى الإسلام قبل هذا الوقت، أو زعم عن مشايخه، أن أحداً عرف ذلك، فقد كذب وافترى، وليس على الناس، ومدح نفسه بما ليس فيه.


 “Dan aku kabarkan kepadamu tentang diriku [Muhammad bin Abdul Wahhab-pent] Demi Alloh yg tidak ada Tuhan [yg wajib disembah-pent] kecuali Dia. Sungguh aku telah menuntut ilmu, dan aku yakin bahwa seseorang mengenalku memiliki ilmu ma’rifah. Dahulu, aku tidak memahami arti dari ungkapan Laailaaha Illallah. Kala itu, aku juga tidak memahami apa itu agama Islam. (Semua itu) sebelum datangnya anugerah kebaikan yang Allah berikan (kepadaku). Begitu pula para guru(ku), tidak seorang pun dari mereka yang mengetahuinya. Atas dasar itu, setiap ulama “Al-‘Aridh” yang mengaku memahami arti Laailaaha Illallah atau mengerti makna agama Islam sebelum masa ini (anugerah kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, pent) atau ada yang mengaku bahwa guru-gurunya mengetahu hal tersebut maka ia telah melakukan kebohongan dan penipuan. Ia telah mengecoh masyarakat dan memuji diri sendiri yang tidak layak bagi dirinya.” (Ad-Duror as-Saniyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah  juz 10 hal. 51 )


2.     KITAB AR-ROSAIL AL-SYAKHSHIYAH


الرسائل الشخصية (مطبوع ضمن مؤلفات الشيخ محمد بن عبدالوهاب، الجزء السادس)


ص -186-      -6- الرسالة الثامنة والعشرون: ومنها رسالة أرسلها إلى أهل الرياض ومنفوحة، وهو إذ ذاك مقيم في بلد العيينة، وكتب إلى عبد الله بن عيسى قاضي الدرعية يسجل تحتها بما رآه من الكلام، ليكون ذلك سبباً لقولها، وهذا نص الرسالة:

بسم الله الرحمن الرحيم
من محمد بن عبد الوهاب، إلى من يصل إليه هذا الكتاب من المسلمين.
سلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
...................وأنا أخبركم عن نفسي، والله الذي لا إله إلا هو،

 ص -187-      لقد طلبت العلم، واعتقدَ من عرفني أن لي معرفة، وأنا ذلك الوقت لا أعرف معنى "لا إله إلا الله"، ولا أعرف دين الإسلام قبل هذا الخير الذي مَنَّ الله به، وكذلك مشايخي، ما منهم رجل عرف ذلك. فمن زعم من علماء العارض أنه عرف معنى "لا اله إلا الله"، أو عرف معنى الإسلام قبل هذا الوقت، أو زعم عن مشايخه أن أحداً عرف ذلك [في المخطوطة والمصورة: (أو زعم أن أحداً من مشايخه عرف ذلك) ]، فقد كذب وافترى..................


NAMA KITAB: MUALLAFAAT SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB.


CETAKAN: JAMI'AH UMMUL QURA MAKKAH AL-MUKARRAMAH.


BAHAGIAN KE-ENAM: AR-RISALAH KE-18 HALAMAN: 186-187.


PENGGALAN TEKS RESMI SURAT MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB UNTUK MASYARAKAT RIYADH YANG DITULIS UNTUK PENGUASANYA BERNAMA ABDULLOH BIN ISA YANG BERBUNYI:


"BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM

DARI MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB KEPADA ORANG ISLAM YANG SAMPAI KEPADANYA KITAB AKU INI

ASSALAMUN 'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH


........................ AKU MEMBERITAHU KEPADA KAMU SEMUA MENGENAI DIRIKU DAN DEMI ALLAH YANG TIADA TUHAN MELAINKAN DIA, BAHWA

SESUNGGUHNYA AKU TELAH MENUNTUT ILMU DAN AKU PERCAYA BAHWA ADA YANG MENGANGGAP AKU MEMPUNYAI ILMU MA'RIFAH,

TETAPI KETAHUILAH SESUNGGUHNYA AKU SEBENARNYA PADA WAKTU ITU TIDAK MENGETAHUI MAKNA “LAA ILAAHA ILLALLAAH (TIADA TUHAN -YG WAJIB DISEMBAH- MELAINKAN ALLAH), DAN AKU TIDAK MENGETAHUI MENGENAI AGAMA ISLAM SEBELUM KEBAIKAN INI YG DIAMANATKAN ALLOH, BEGITU JUGA GURU-GURUKU TIDAK ADA SEORANG PUN DIKALANGAN MEREKA MENGETAHUI MAKNA “LAA ILAAHA ILLALLAAH” (TIADA TUHAN -YG WAJIB DISEMBAH- MELAINKAN ALLAH).


BARANGSIAPA YANG MENYANGKA BAHWA SEBELUMNYA ULAMA MENGETAHUI MAKNA “LAA ILAAHA ILLALLAAH” (TIADA TUHAN -YG WAJIB DISEMBAH- MELAINKAN ALLAH) ATAU [MENYANGKA BAHWA SEBELUMNYA ULAMA-PEN] MENGETAHUI MAKNA ISLAM SEBELUM WAKTU INI, ATAU PUN MENYANGKA BAHWA SESUNGGUHNYA ADA SEORANG DARI MASYAYIKH [PARA GURU] MENGETAHUI HAL ITU, MAKA SESUNGGUHNYA ORANG ITU TELAH MENIPU DAN BERDUSTA ......................”.


Ikhwan wa akhwat fillah, silahkan cermati apa yg disampaikan oleh PENCETUS PAHAM WAHABI ini yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab, bagaimana dia mengkafirkan dirinya sendiri sebelum dia mendakwa diberi ma'rifah oleh Allah dan dia juga mengkafirkan gurunya sendiri (diantara gurunya adalah ayahnya sendiri-pen) dan mengkafirkan ulama-ulama islam sebelum ajarannya timbul.


Diantara keanehan akidah wahabi salafy adalah PENGAKUAN atas kitab AL-IBANAH ‘AN USHUL AD-DINIYAH sbg salah satu kitab rujukan mereka dan mengklaim bhw Abu Al-Hasan Al-Asy’ari sang pengarangnya BERMADZHAB HAMBALI. Sedang disisi lain dlm kitabAd-Duror as-Saniyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah juz 3 hal. 211 diatas mereka [wahabi] mengatakan bhw kelompok ASY’ARIYAH sbg MUSYRIK DAN KAFIR PEMBERONTAK. Na’udzubillahi min dzalik, wallohul musta’an al-Hadi ila sabilil haq


Meskipun demikian, buat ikhwan wa akhwat fillah semua, kita tetap mendo’akan untuk wahabi salafy, semoga Allah memberi hidayah kepada mereka semua. Aamiin





Selasa, 29 Desember 2015

Antara Bohong, Tipu, Dusta, Gombal dam Bual

Bismilaahir-Rahmaanir-Rahiim

Allahu Yaa Allah

Apa beda Bohong, Tipu, Dusta, Gombal, dan Bual?

Ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki kemiripan arti dengan bohong, misalnya tipu, dusta, gombal dan bual. Secara bergantian orang sering memakai kata-kata tersebut untuk hal yang sama. Misalnya ketika seorang pemuda berjanji akan datang membawakan bunga untuk gadis pujaannya namun tidak ditepati, maka cukup lazim jika si pemuda dikatakan ‘bohong’ atau ‘gombal’ atau ‘bual’. Kata ‘tipu’ dan ‘dusta’ sangat jarang digunakan.

Dalam kehidupan keseharian, kata tipu, biasa digunakan untuk seseorang yang mengatakan sesuatu tidak benar demi meraih keuntungan pribadi. Misalnya mengatakan jam yang dimiliki asli sehingga dijual dengan harga mahal. Padahal sesungguhnya jam tersebut merupakan barang palsu. Pada kasus semacam ini, meskipun kata bohong bisa dipakai, tapi yang paling lazim digunakan adalah tipu (kata kerjanya adalah menipu). Artinya, jelas ada perbedaan diantara kata-kata tersebut meskipun semuanya mengandung makna adanya sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas yang terjadi atau diharapkan.

Kata ‘bohong’ (kata kerjanya adalah berbohong) cenderung digunakan untuk kasus-kasus yang bernuansa netral dan biasa. Sebaliknya kata ‘tipu’ biasa digunakan pada kasus-kasus yang cenderung menimbulkan kerugian pihak yang dibohongi atau yang ditipu. Nuansanya cenderung lebih suram atau berbau kriminalitas daripada kata ‘bohong’. Kata ‘tipu’ juga cenderung menyatakan kasus dimana ada seseorang yang mengingkari kesepakatan atau perjanjian. Misalkan Ita mengatakan akan membayar tunai motor Supra X milik Bejo kurang dari 4 jam dengan nilai Rp. 5 juta. Setelah 4 jam ternyata Ita tidak muncul dan malah melarikan motor Bejo. Pada kasus ini, kata ‘tipu’ paling tepat digunakan.

Kata ‘dusta’ (kata kerjanya adalah berdusta) memiliki arti sedikit rumit. Kata ini sepertinya digunakan untuk bohong yang sangat berat jika ditimbang secara moral. Kata ‘dusta’ cenderung digunakan pada saat bohong dilakukan, sekaligus adanya pengingkaran terhadap sesuatu yang diyakini benar oleh umumnya masyarakat. Misalnya kalimat “ia mendustai agama”, dimaksudkan adanya pengingkaran kebenaran agama yang dianggap mutlak. Seseorang yang dikatakan berdusta seolah-olah telah melakukan tingkat penyimpangan lebih besar dari sekedar bohong biasa.

Bagaimana dengan kata bual? Terkesan kata ‘bual’, yang merupakan bohong juga, adalah versi lain kata ‘bohong’ untuk peristiwa yang sama sekali kurang penting atau tidak dianggap penting dan tidak pula dianggap serius. Seseorang yang mengaku-ngaku pernah bertamasya ke Antartika, padahal ke kota saja belum pernah, jarang akan dikatakan bohong, lebih mungkin jika dikatakan ‘bual’ sebab kebohongan itu tidak mempengaruhi apa-apa dan malah terdengar bodoh.

Kata ‘gombal’ (kata kerjanya adalah menggombal) memiliki makna agak menyimpang dari kata-kata yang lain. Kata ini cenderung digunakan untuk mengatakan sesuatu melebihi dari porsi sewajarnya dan juga adanya pengingkaran janji. Misalnya, Doni berjanji akan datang apel setiap malam Minggu, selalu membawakan cokelat terbaik, dan mengajak Tita, pacarnya, keliling kota. Kenyataannya tidak demikian. Doni selalu enggan apel apalagi keliling kota, dan boro-boro membawa cokelat. Dalam kasus cokelat ini, Doni dikatakan gombal.

Penggunaan kata-kata di atas, baik bohong, dusta, tipu, gombal maupun bual, sejatinya terserah selera pemakai. Namun demikian tampaknya ada kesepakatan khusus dimana kata tertentu lebih cocok diterapkan. Nuansa konotatif dari masing-masing kata tersebut tampaknya juga berlainan. Jika diurutkan dari yang berkonotasi kurang negatif sampai paling negatif berturut-turut adalah bual-bohong-dusta-tipu, sementara gombal bisa diletakkan sebelum atau sesudah bual.


Senin, 28 Desember 2015

KETENTUAN SHALAT SUNNAH RAWATIB

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim

KETENTUAN SHALAT SUNNAH RAWATIB

1. Pengertian Shalat Sunnah Rawatib

Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu, baik dikerjakan sebelum maupun sesudah shalat fardhu. Jika dikerjakan sebelum shalat fardhu disebut shalat sunnah rawatib qabliyah dan jika dikerjakan sesudah shalat fardhu disebut shalat sunnah rawatib ba’diyah. Shalat sunnah rawatib qabliyah dimaksudkan sebagai persiapan agar lebih khusyu’ dalam mengerjakan shalat wajib, karena jiwa yang sibuk memikirkan urusan duniawi jauh dari shalat yang khusyu’. Sedangkan shalat sunnah rawatib ba’diyah diianjurkan karena shalat sunnah merupakan pelengkap atau penyempurna dari kesalahan dan kekurangan yang dilakukan dalam shalat fardhu.
Rasulullah Saw. bersabda :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ, رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَالْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ, وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ كَانَتْ سَاعَةً لاَ يَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهَا (رواه البخارى)
Dari Ibnu Umar Ra. berkata : “Saya memperoleh pelajaran shalat dari Nabi Saw. sebanyak 10 rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Magrib di rumahnya, dua rakaat sesudah Isya di rumahnya dan dua rakaat sebelum Shubuh”. (HR. Bukhari).

Shalat sunnah rawatib disyariatkan untuk meningkatkan derajat dan melebur dosa, menjauhkan godaan syetan yang menggoda musholli (orang yang salat) agar tidak sempurna shalatnya, dan untuk menutup kesalahan dan adab yang kurang dalam shalat fardhu.
Di antara keutamaan melaksanakan shalat sunnah rawatib antara lain :

a. Mendapatkan kemuliaan dunia dan segala isinya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَاوَمَافِيْهَا (رواه المسلم)

Dari Aiyah Ra. dari Nabi Saw. bersabda : “Dua rakaat sebelum fajar itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya”. (HR. Muslim)

b. Mendapatkan bangunan rumah di surga.

عَنْ اُمِّ حَبِيْبَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ اِثْنَى عَشَرَةَ رَكْعَةً بَنَى بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ : اَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ (رواه الترمذى)

Dari Umi Habibah Ra, berkata, Rasulullah Saw. bersabda : “Barang siapa yang salat semalam 12 (dua belas) rakaat maka dibangunlah baginya sebuah rumah di surga, yaitu empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat sesudah Dzuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum shalat Fajar”. (HR At Tirmidzi)

2. Macam-macam Shalat Sunnah Rawatib

Shalat sunnah rawatib terdiri atas, shalat sunnah rawatib muakkad dan shalat sunnah rawatib ghairu muakkad. Shalat sunnah rawatib muakkad, adalah shalat sunah rawatib yang sangat dianjurkan, sedangkan shalat sunnah ghairu muakkad adalah shalat sunnah rawatib yang tidak dianjurkan.
Shalat sunnah rawatib muakkad terdiri, atas :

a. Dua rakaat sebelum Shubuh

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْئ ٍ مِنَ النَّوَافِلِ اَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ (رواه البخارى ومسلم)

Dari Aiyah Ra. berkata : “Tidak ada shalat sunnah yang diutamakan oleh Nabi Saw. selain dari dua rakaat shalat fajar”. (HR.Bukhari dan Muslim)

b. Dua rakaat sebelum Dzuhur/Jum’at.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : اَنَّ النَّبِىَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَدَعُ اَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ (رواه البخارى)

Dari Aiyah Ra. berkata : “Sesungguhnya Nabi Saw, tidak ada pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Dzuhur (dua rakaat sunnah muakkad dan dua rakaat sunnah ghairu muakkad) dan dua rakaat sebelum shalat fajar”. (HR.Bukhari)
Shalat rawatib ini juga berlaku untuk shalat Jum’at, karena shalat Jum’at merupakan ganti dari shalat Dzuhur.

اَنَّ ابْنَ مَسْعُوْدٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ يُصَلِّى قَبْلَ الْجُمْعَةِ اَرْبَعًا وَبَعْدَهَا اَرْبَعًا (رواه الترمذى)

”Sesungguhnya Ibnu Mas’ud melakukan shalat empat rakaat sebelum dan setelah shalat Jum’at”. (HR At Tirmidzi)

c. Dua rakaat sesudah Dzuhur/Jum’at.

عَنْ اُمِّ حَبِيْبَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَاَرْبَعًا بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ (رواه الترمذى)

Dari Umi Habibah Ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda : “Barang siapa shalat empat rakaat sebelum Dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkannya masuk neraka”. (HR At Tirmidzi).

Shalat rawatib ini juga berlaku untuk shalat Jum’at, karena shalat Jum’at merupakan ganti dari shalat Dzuhur.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَ صَلَّى اَحَدُكُمُ الْجُمْعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا اَرْبَعًا (رواه المسلم)
Dari Abu Hurairah Ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda : “Jika salah satu dari kalian melakukan shalat Jumat, maka hendaklah shalat empat rakaat setelahnya”. (HR Muslim).

Catatan :

Yang dimaksud dengan empat rakaat dalam hadits di atas adalah dua rakaat sunnah muakkad dan dua rakaat sunnah ghairu muakkad.

d. Dua rakaat sesudah Maghrib.
e. Dua rakaat sesudah Isya’.

عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَفِظْتً عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ ورَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاءِ (رواه البخارى ومسلم)

Dari Abdullab bin Umar Ra. berkata : “Saya hafal dari Rasulullah Saw. dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudah Dzuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum Shubuh”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan shalat sunnah ghairu muakkad, terdiri atas :
a. Dua rakaat sebelum Dzuhur/Jum’at.
b. Dua rakaat sesudah Dzuhur/Jum’at.
c. Empat rakaat sebelum Ashar.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : رَحِمَ اللهُ اِمْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ اَرْبَعًا (رواه الترمذى)

Dari Ibnu Umar Ra. berkata, sesungguhnya Nabi Saw. bersabda : “Semoga Allah memberi belas kasihan keada seseorang yang melakukan shalat empat rakaat sebelum Ashar”. (HR At Tirmidzi)
d. Dua rakaat sebelum Maghrib.
e. Dua rakaat sebelum Isya’.
Dengan demikian shalat sunnah rawatib secara keseluruhan, terdiri atas :
a. Dua rakaat sebelum Shubuh e. Dua rakaat sebelum Maghrib
b. Empat rakaat sebelum Dzuhur/Jum’at. f. Dua rakaat sesudah Maghrib
c. Empat rakaat sesudah Dzuhur/Jum’at. g. Dua rakaat sebelum Isya’
d. Empat rakaat sebelum Ashar. h. Dua rakaat sesudah Isya’

PRAKTEK SHALAT SUNNAH RAWATIB

1. Ketentuan Shalat Sunnah Rawatib

Ketentuan shalat sunnah rawatib adalah sebagai berikut :

a. Tidak didahului adzan dan iqamat,
b. Dikerjakan secara munfarid (sendiri-sendiri), tidak berjama’ah,
c. Mengambil tempat shalat yang berbeda dengan tempat melakukan shalat wajib,
d. Shalat sunnah rawatib dilakukan dua rokaat dengan satu salam,
e. Bacaannya sirri (tidak dinyaringkan),
f. Shalat sunnah rawatib qabliyah dilakukan setelah adzan sebelum iqamah, sedangkan shalat sunnah rawatib ba’diyah dilakukan setelah shalat fardlu,
g. Setelah membaca surat Al Fatihah, diutamakan membaca surat Al Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al Ikhlas pada rakaat kedua.

2. Mempraktikkan Shalat Sunnah Rawatib
Tata cara melakukan shalat sunnah rawatib sama dengan shalat sunnah lainnya, yang membedakan hanyalah pada niatnya saja. Adapun niat shalat sunnah rawatib adalah sebagai berikut :

Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Shubuh :
اُصَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Shubuh dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Dzuhur :
اُصَلِّى سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Niat shalat sunnah rawatib ba’diyah Dzuhur :
اُصَلِّى سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah setelah Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Ashar :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Ashar dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Maghrib :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala”

Niat shalat sunnah rawatib ba’diyah Maghrib :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah setelah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Isya :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Isya dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Niat shalat sunnah rawatib ba’diyah Isya :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah setelah Isya dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Jum’at :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Jum’at dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Niat shalat sunnah rawatib ba’diyah Jum’at :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah setelah Jum’at dua rakaat karena Allah Ta’ala”.



Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim



YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA

Artinya : Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.


Terdapat hadits-hadits yang menerangkan pentingnya doa tersebut:

1.Hadits At-Tirmidzi

Telah menceritakan kepada kami Hannad; telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Anas dia berkata; adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terbiasa membaca do'a "YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu)." Kemudian aku pun bertanya, "Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa. Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami?" beliau menjawab: "Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya." Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari An Nawwas bin Sam'an, Ummu Salamah, Abdullah bin Amr dan A'isyah. Dan ini adalah hadits Hasan, demikianlah kebanyakan telah meriwayatkannya dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Anas, dan sebagian yang lainnya telah meriwayatkannya dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun hadits Abu Sufyan dari Anas lebih shahih.(HR. At Tirmidzi No.2066)

2. Hadits Imam Ahmad


Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Anas ia berkata; Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam banyak mengucapkan doa: "YA MUQALLIBAL QULUUBI TSABBIT QALBI 'ALA DINIKA (ya Allah Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu)." Anas berkata; Maka kami berkata; "Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada wahyu yang engkau bawa, maka apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?" beliau menjawab: "Ya, sesungguhnya hati itu berada di antara jari-jari Allah 'azza wajalla, Dialah yang membolak-balikkannya." (HR. Ahmad No.11664)


3. Hadits Imam Ahmad yang lain

Telah menceritakan kepada kami Abdushshomad dan Affan, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid dari Ummi Muhammad dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memperbanyak mengucapkan; "YA MUQALLIBAL QULUUB, TSABIT QALBI 'ALA DINIK WA THA'ATHIK (Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu)." Lalu dikatakan kepada beliau, wahai Rasulullah! Affan telah berkata; Aisyah telah berkata kepadanya, sesungguhnya engkau memperbanyak membaca; "YA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBI 'ALA DINIK WA THA'ATHIK (Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu)." Beliau bersabda: "Apa yang membuatku aman, sesungguhnya hati hamba berada diantara dua ujung jari Arrahman, apabila Ia berkehendak untuk memabalikkan hati seorang hamba maka Ia akan membalikkannya." Affan meriwayatkan; "Di antara dua jari dari jari jemari Allah Azzawajalla" (HR. Ahmad No.24938)

4. Dalam riwayat lain:
Ummu Salamah meceritakan bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam memperbanyak dalam do’anya:

اللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Ya Allah, yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu
Ia berkata; saya berkata;

“Wahai Rasululah! Apakah hati itu berbolak balik?”
beliau menjawab:

نَعَمْ مَا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ بَشَرٍ إِلَّا أَنَّ قَلْبَهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ

“Ya, tidaklah ciptaan Allah dari manusia anak keturunan Adam kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah.
فَإِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ اللَّهُ أَزَاغَهُ

Bila Allah Azzawajalla berkehendak, Ia akan meluruskannya, dan jiwka Allah berkehendak, Ia akan menyesatkannya.

Maka sering-seringlah untuk membaca doa ini, karena akan datang suatu masa dimana seseorang beriman dipagi hari lalu menjadi kafir disorenya, semoga kita terhindar dari malapetaka ini

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).


Doa pendek ini baik dilakukan atau dibaca ketika sebelum salam sholat. Atau setiap sehabis sholat fardhu atau kapan saja sebanyak-banyaknya.


Sikap Terhadap Do'a Yang Belum Terjawab

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim

Allahu Yaa Allah

Sikap Terhadap Doa Yang Belum Dijawab

Kita mendengar cerita tentang orang-orang shaleh yang bermuamalah dengan Allah dengan cara yang benar, cinta, dan kasih. Allah kemudian memperlakukan mereka sebagaimana mereka bermuamalah dengan-Nya. Jiwa merekapun telah bening adanya.

Dizaman dahulu ada seorang ahli ibadah yang memohon hujan kepada Allah dengan berdoa, “Ya Allah keadaan macama apa ini? Aku sendiri tidak tahu apa yang harus ku perbuat. Berilah kami hujan.” Seketika itu juga turunlah hujan mengguyur bumi. Dikalangan sahabat ada Anas bin an-Nadhir yang berkata, “Demi Allah akan hancurlah gigi Rabi!”. Lalu terjadilah apa yang dia sumpahkan. Saa itu Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada di antara hamba Allah yang dikabulkan sumpahnya jika ia bersumpah (dengan nama Allah)”.

Mereka adalah golongan manusia yang selalu baik muamalahnya dengan Allah dan Allah pun balas bersikap lembut dan penuh kasih kepada mereka. Mereka berjalan sesuai dengan apa mereka yakini.

Di pihak lain, ada golongan manusia yang lebih tinggi dari mereka, namun jika mereka memohon tidak dikabulkan. Meski tidak langsung dijawab permintaan mereka, mereka tetap ridha kepada Allah. Tak terdengar protes dari mulut mereka; mereka terus dicekam rasa khawatir; mereka menundukan kepada penuh kehati-hatian; mereka merasa tak pantas melayangkan tuntutan kepada-Nya. Puncak harapan mereka adalah pengampunan. Jika mereka memanjatkan doa dan permohonan namun tidak terlihat juga jawabannya, mereka lantas mengoreksi diri mereka sendiri. Mereka berkata,” Orang-orang seperti kami memang pantas untuk tidak dijawab” atau mungkin mereka akan berkata,”Mungkin saja tidak dijawabnya doaku adalah demi kebaikanku juga.”

Mereka adalah sebaik-baik manusia, sedangkan orang bodoh adalah yang beranggapan bahwa apa yang dimintanya harus dijawab. Jika doanya tidak dipenuhi, batinya terasa sesak; mereka laksana meminta upah dari pekerjaan mereka; sepertinya mereka merasa telah mendatangkan manfaat kepada Sang Khaliq dengan ibadahnya.

Seorang hamba yang baik adalah yang rela dengan apa yang diperbuat Sang Khaliq  kepadanya. Jika mereka meminta kemudian permintaannya dipenuhi, mereka menganggap itu adalah keutamaan Allah. Jika tidak diterima, mereka sadar bahwa itu adalah tindakan Sang Maha Raja yang berbuat menurut kehendak-Nya terhadap hamba. Dengan demikian, taka da dalam hatinya satu hujatan pun kepada Tuhan.




Cara Memotivasi Agar Semangat Belajar

(Oleh : Rinindri Mentres)

Cara Memotivasi Agar Semangat Belajar

Apa manfaat belajar ? Untuk apa kalian belajar ? Untuk mendapat nilai ? Untuk mendapat ilmu ? Ketahuilah belajar untuk mendapat ilmu itu lebih baik dari pada hanya untuk menambah nilai . Namun, tidak saya pungkiri,  nilai juga penting adanya, untuk mendaftar sekolah selanjutnya maupun untuk mendaftar pekerjaan .

                                             

Jika kita belajar untuk mendapatkan ilmu, pelajaran tersebut tidak akan mudah kita lupakan. Belajar untuk memahami, bukan menghafal. Akan tetapi menghafal juga di perlukan,  menghafal untuk hal-hal tertentu saja yang perlu untuk di hafal.

Sekarang poin-poin yang kita perlukan untuk mendapatkan semangat belajar yakni :

1. Motivasi

Motivasi belajar mempengaruhi kemauan individu untuk meningkatkan semangat belajar. Orang yang berhasil adalah orang yang mampu mempertahankan semangatnya dikala orang lain kehilang semangatnya . Motivasi utama yang kita butuhkan adalah motivasi yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Positif thinking untuk membaca buku, tanamkan pada diri sendiri bahwa kita yakin bisa memahami materi .

2. Konsentrasi

Konsentrasi penuh ketika guru / dosen sedang menerangkan . Dengarkan dengan baik, bertanyalah hal-hal yang kita belum mengerti, catatlah hal-hal penting, karena dengan mencatat akan lebih mudah diigat daripada yang tidak mencatat.
Selain konsentrasi di tempat belajar, kita juga perlu konsentrasi di rumah . Buatlah suasana nyaman untuk belajar, dengan hawa yang tenang, cobalah membuka buku dan baca lah , coba untuk "fokus" , jika kalian merasa jenuh, istirahat lah sebentar dengan makan / mendengarkan musik, kemudian ulangi lagi yang kalian pelajari dengan santai , jika kalian tidak paham materi lagi, matikan musik dan jauhkan dari barang-barang yang sekiranya mengganggu, kemudian melajar lagi.

3. Bergaul dengan orang yang rajin belajar

Nabi Muhammad SAW,bersabda “Sesungguhnya kawan duduk dalam rupa orang yang shalih dan kawan duduk dalam rupa orang yang suka maksiat adalah seumpama tukang minyak wangi dan pandai besi. Tukang minyak wangi boleh jadi akan mencipratkan minyak wangi ke badanmu, atau engkau membeli minyak wangi dari dia, atau engkau mendapatkan bau harum dari dirinya. Adapun pandai besi boleh jadi memercikkan api ke bajumu atau engkau mendapati bau busuk dari dirinya.” (Mutaffaq ‘alaih).
Jika kita bergaul dengan orang yang rajin belajar, inshaa Alloh semangat belajar kita akan naik . Melihat dia belajar, masa kita tidak ? , hal tersebut akan memacu kita untuk lebih dan lebih rajin lagi untuk belajar .

4. Jangan biarkan dinding kamar anda bersih

Tempel kata-kata motivasi dan juga buat target jangaka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Yakinlah bahwa kata-kata motivasi dan tulisan target kita tersebut akan selalu menumbuhkan niat dan tekat kita untuk belajar . Tulislah yang besar dengan hiaslah sesuai dengan selera kalian . Tempel di tempat yang sekiranya sering di lihat.

5. Hargai waktu

Time Lost can't be found again "Waktu yang hilang tak dapat ditemukan kembali" . Pernahkah anda mendengar/membaca kata-kata tersebut ? Saya membacanya di Sekolah SMA saya setiap saya berangkat sekolah , lebih tepatnya letaknya berada di atas koridor .
Waktu itu penting, jangan pernah sia-siakan waktumu untuk bermalas-malasan . Gunakan waktumu semaksimal mungkin. Kalaupun anda sering insomnia, ikuti kata-kata bang Rhoma Irama "Begadang jangan begadang , kalau tak ada artinya . Begadang boleh saja kalau ada perlunya" . Jadi, dari pada begadan yang tidak ada manfaatnya lebih baik istirahatkan badan . Jikalau anda begadanga, cobalah untuk membaca buku, saya tahu ini sulit , tapi apa salahnya mencoba, tidak ada yang sia-sia di dunia ini .

 Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
(QS. Al-Zalzalah 7-8)


Semoga bermanfaat.

ADAB-ADAB BERDISKUSI

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim

ADAB-ADAB BERDISKUSI

“Dan berilah peringatan, kerana sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang yang beriman.”
(Az Zaariyat; 55)

Banyaknya orang yang berdiskusi di internet mahupun di alam nyata, macam-macamgaya dalam pelbagai bidang. Nama pun diskusi, maka adalah gelombangnya. Sekejap turun sekejap naik. Sekejap sejuk sekejap berhaba. Sekejap tepat sekejap terkeluar. Sekejap serius sekejap santai. Perkataan ‘diskusi’ itu diubahsuai daripada perkataan Bahasa Inggeris yang maksudnya ‘bincang’. Secara umumnya nukilan kali ini adalah tentang diskusi dan khususnya diskusi dalam bentuk tulisan yang melibatkan hal ehwal agama.

Setiap perbuatan baik ada adab-adabnya. Islam sendiri menganjurkan begitu. Bahkan di kalangan kumpulan pencuri pun ada adab-adab yang dipersetujui bersama, walaupun ia tidaklah kita sebut ‘adab’. Amat menghairankan apabila orang-orang yang bukan penjenayah dan bukan ahli maksiat tetapi tidak beradab ataupun sangat kurang adab dalam berbicara. Biasanya kita dapat melihat sikap tidak beradab yang dimaksudkan ini dalam diskusi di forum-forum dan blog-blog.


Antara adab-adab yang penting:

GUNA ULASAN SENDIRI

Banyak orang yang menghantar artikel ‘copy n paste’ sebagai hujah dan sandarannya, tetapi apabila diminta pertanggungjawaban, mereka tidak mampu mempertahankan artikel yang mereka bawa itu. Kelemahan dan kesalahan dalam artikel tersebut dijaja merata-rata kerana mereka tidak tahu apa kelemahan dan kesalahannya. Hal ini disebabkan mereka menyokong artikel itu atas dasar taksub melulu. Apabila diminta pertanggungjawaban, mereka mendiamkan (melarikan) diri ataupun mula bermain taktik kotor dan tidak beradab.

Saranan penyelesaian- Paling baik, hantar tulisan dan ulasan sendiri. Ini dapat menunjukkan pemahaman kita yang tulen, tiada ketaksuban melulu dan rasa bertanggungjawab.
Hendak ‘copy n paste’? Masih tidak salah asalkan sudah faham keseluruhan tulisan tersebut, sebaiknya sudah dikaji sewajarnya. Kemudian, sanggup pula bertanggungjawab ke atas apa yang kita ‘copy n paste’. Lebih baik lagi sekiranya sedari awal tulisan ‘copy n paste’ itu disertakan sekali ulasan kita. Jika tidak, orang lain tidak tahu apa yang kita faham daripada ‘copy n paste’ kita itu. Sebenarnya, banyak yang bersemangat untuk perjuangkan sesuatu ataupun pertahankan sesuatu tetapi atas dasar semangat sahaja, sedangkan ilmu dan pemahaman tidak setara mana.

"Cukup besar dustanya orang yang memberitakan segala apa yang didengarnya ( tanpa usul periksa yang sewajarnya).”
(Muslim)


MENGIKUT TERTIB

Yang dahulu didahulukan, yang kemudian dikemudiankan. Bereskan satu-satu permasalahan mengikut urutan/ kronologi, jangan melompat-lompat. Soalan yang keluar dahulu, kita jawab dahulu. Soalan yang keluar kemudian, kita jawab kemudian. Sindrom melompat-lompat ini menjadikan perbincangan kacau. Arah tuju dan tema perbincangan pun biasanya akan lari.
Contoh: Ada sepuluh persoalan. Ada ahli perbincangan yang buat-buat tidak nampak persoalan-persoalan tertentu tetapi terus mengheret pembicaraan kepada persoalan yang dirasakan hujahnya kuat. Persoalan pertama hinga kelima belum selesai, terus diajaknya selesaikan persoalan ke enam dan ke sembilan.
Mengapa mereka tidak mengikut tertib? Ada banyak faktor. Antaranya mereka tidak berani bertanggungjawab, takut kelemahan dan kesalahan terkeluar, ego tinggi, memang kurang ilmu tetapi ingin tunjuk pandai dan sebagainya.

Saranan penyelesaian- Selesaikan perbicaraan mengikut urutan. Usahakan untuk menjawab semua yang perlu kita jawab. Jika sedar diri banyak kekurangan pengetahuan dalam hal yang dibincangkan, jangan cuba membawa hujah atau menyatakan pendirian. Cukup sekadar menjadi pemerhati. Tidak salah menulis sesuatu asalkan kena dengan caranya. Jika ternyata kita tersalah, kita akui saja. Taraf diri kita akan dinaikkan oleh Allah di mata umum.

“Dan janganlah kamu mengikut apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(Al Israa’ : 36)


BERTUKAR-TUKAR FIKIRAN, BUKAN BERTUKAR-TUKAR DAKWAN

A memberi hujah, B membalas hujah. B memberi fakta, A membawa fakta. A kemuka pandangan, B kemuka pandangan. B membawa sandaran, A menghidangkan sandaran. C cerita pemerhatian, D terangkan penelitian.
Cukup cantik dan aman sentosa jika begini cara berdiskusi. Yang jadi masalah ialah apabila A memberi fakta, B membalas tuduhan kosong tanpa fakta. C membawa hujah, D mendakwa itu ini tanpa memberi sandaran kukuh. Lebih teruk lagi kali kedua-dua belah pihak saling berbalas dakwaan tanpa membawa sandaran kukuh atas dakwaannya.

Saranan penyelesaian- Jangan layan teman diskusi yang bersikap begini. Dicadangkan kita beri saja link ke artikel ini agar teman kita itu dapat koreksi diri dan membuat perubahan positif. Sekiranya dia masih mengganggu, buat tak nampak saja tulisan-tulisannya, ataupun boleh juga jawab dengan memberikan link ke artikel ini berulang kali. Lama-kelamaan dia akan perasan juga yang dirinya berdiskusi berseorangan (monolog dalaman yang dilahirkan dalam bentuk bertulis tanpa dipedulikan sesiapa).


BUAT KEPUTUSAN WALAUPUN KECIL

Perbincangan sudah lama tetapi belum ada sebarang keputusan walaupun yang kecil. Apabila kita gagal mendapatkan keputusan, diskusi itu lebih menjurus kepada majlis perbalahan- saling berbalas hujah tanpa ada apa-apa perubahan. Berdiskusilah sehingga ke akhir hayat pun, umumnya tidak akan mendapat hasil apa-apa.
Biasanya, pihak yang sudah goyah hujah-hujahnya sangat takut untuk membuat apa-apa keputusan walaupun kecil kerana hal itu bakal menjatuhan kredibilitinya.
Contoh:
A berdiskusi dengan seseorang, katakan B. A membawa hujah-hujah mempertikaikan ajaran seorang tokoh iaitu Syeikh C. B pula mengutarakan hujah-hujahnya untuk mempertahankan ajaran Syeikh C. Diskusi berjalan dengan aman dan pertukaran aliran hujah dan fakta begitu aktif.
Satu ketika, A berjaya mengesan kesalahan Syeikh C dalam hal tertentu dan kesalahan itu memang jelas. B pun sedar memang Syeikh C salah dalam hal itu. Maka A minta satu keputusan dibuat dalam hal tersebut sahaja (bukan keseluruhan perbincangan) iaitu Syeikh C salah. Malangnya B tidak sanggup untuk membuat keputusan Syeikh C salah dalam hal itu kerana dianggapnya keputusan itu akan menjatuhkan kredibiliti dirinya dan Syeikh C yang disanjungnya.
Sikap B ini bersalahan dengan etika muzakarah, dan tentunya tidak selaras dengan nilai-nilai Islam.

Saranan penyelesaian- A dan B mestilah berusaha membuat keputusan-keputusan kecil sepanjang diskusi mereka. Hal ini kerana gabungan keputusan-keputusan kecil inilah nanti yang akan membentuk keputusan besar. Jika kita melihat perbincangan itu memang tidak akan menjurus kepada pembinaan apa-apa keputusan melainkan medanberbalas tembakan saja, elok kita hentikan saja. Tinggalkan pekerjaan sia-sia.

“Janganlah seorangpun daripada kamu menjadi orang yang tidak mempunyai pendirian.”
(Hadith riwayat Imam Turmizi)


GUNA KEUPAYAAN SENDIRI

Sebagai contoh, sering kita jumpa seorang yang pro akan sesuatu (kita namakan A) bertukar-tukar fikiran dengan seorang yang kontra akan hal tersebut (kita namakan B). Lama-kelamaan kawan-kawan yang kontra tadi semakin ramai. Mereka turut berdiskusi. Akhirnya diskusi ini jadi lintang-pukang seolah-olah sekawan anjing sedang membuli seekor kucing. B yang sudah goyang hujah-hujahnya berasa selamat kerana apa yang dia lemah ataupun salah mendapat ‘back-up’ daripada rakan-rakan yang sefaham dengannya.
Dari satu sudut nampaknya hujah-hujah A semakin lemah dan hujah-hujah B (dan kawan-kawan) semakin kukuh. Namun pada hakikatnya, fahaman B selama ini adalah lemah. Dia tidak mampu mempertahankan pegangannya secara bersendirian menunjukkan pengetahuannya tentang apa yang dipercayainya selama ini bukanlah atas dasar pemahaman yang mantap, tetapi lebih kepada ikut-ikutan.
Manakala A, pemahaman dan kajiannya adalah lebih baik. Cuma hujah-hujah A seorang tentu saja tidak sehebat paduan hujah-hujah B dan empat lima orang rakannya.

Saranan penyelesaian- Jika kita berada dalam situasi A, kita mestilah bijak mengawal keadaan. Beri tumpuan kepada B dan minta dia berhujah dengan pemahamannya selama ini, bukan dengan pemahaman yang baru diperolehinya hasil sumbang saran rakan-rakannya. Apabila urusan dengan B sudah selesai, baru berpindah kepada C. Selesai dengan C, baru berpindah kepada D. Jika tidak, kita akan dibuli dan dipermain-mainkan.
Seandainya kita berada dalam situasi B pula, kita bersikap jujurlah dengan ilmu. Gunakan keupayaan sendiri. Mengapa bergantung kepada hujah orang lain kalau benarlah kita sudah mengkaji pegangan kita itu selama ini. Jadilah ‘anak jantan’.

“Setiap diri terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
(Al-Mudaththir: 38)


JANGAN GUNA TAKTIK KOTOR

Apabila hujah salah seorang pendiskusi mula longgar dan benteng-benteng sandarannya mulai runtuh, pendiskusi yang bersifat mazmumah biasanya akan melaksanakan taktik kotor. Hal ini dilakukan supaya dia terselamat daripada mengakui kelemahan dan kesalahan diri sendiri.
Antara taktik yang biasa dipraktikkan ialah dengan menjawab secara keseluruhan (sengaja meninggalkan bahagian-bahagian diskusi yang hujahnya lemah ataupun salah), tidak menjawab soalan-soalan tetapi memberikan pula soalan-soalan ( soalan pendiskusi lain baginya tidak mesti dijawab tetapi soalannya mesti dijawab), mengubah topik (agar dapat menutup kelemahan dan kesalahannya, memberikan dakwaan demi dakwaan dan bukan hujah sandaran, memberikan kata-kata menyakitkan hati lalu berlepas tangan (ini teknik murahan), terus membuat kesimpulan sendiri tanpa bertanggungjawab ke atas apa yang pernah diperkatakannya dan macam-macam lagi.

Saranan penyelesaian- Tulis “Pendiskusi bernama sekian-sekian sedang mempraktikkan taktik kotor . Layanan hanya akan diberikan setelah dia mengubah sikapnya sahaja. Sekian, terima kasih”. Dan berikan link ke artikel ini sebgaai sokongan.

“Sesungguhnya yang paling dibenci oleh Allah, ialah orang yang pandai mencari-cari alasan untuk menindas kebenaran dan membela kesalahan.”
(Muslim)


Semoga dengan serba-sedikit panduan yang disertakan di atas, kita mengharapkan diskusi-diskusi hal ehwal agama di internet menjadi tempat percambahan ilmu, iman dan amal. Pembasmian para pendiskusi yang kurang ataupun tidak beradab mustahil dapat dilakukan, namun sekurang-kurangnya kita mengusahakan pengurangan.

Wallahu a'lam.


PUISI - Aku ditipu Salafi Tanah Airku

(Oleh : Rinindri Mentres)

Dulu aku salafi
Aku salafi melalui forum salafi terbesar di negara ini
Kononnya mereka kembali kepada sumber yang asal
Tapi…
Aku tertipu!

Kononnya kembali kepada sumber yang asal
Kitab dan Sunnah
Tapi azan mereka berlagu, berdondang sayang
Adakah azan zaman Nabi berlagu?
Mereka bangga dengan azan Masjidil Haram
Yang masyhur itu
Yang Wahhabi itu
Betulkah Saidina Bilal dulu mendendangkan azan berlagu?
Kalau betul azan untuk dilagukan,
Tentu Nabi dan sahabat sudah buat dulu
Tapi malangnya tidak!

Mereka dakwa jemaah Tabligh sesat
Tapi sekurang-kurangnya
Azan jemaah Tabligh sama dengan azan zaman Nabi,
Tidak berlagu
Tak macam azan bilal Masjidil Haram
Yang mereka banggakan itu
Mereka tidak kembali kepada sumber yang asal!

Kononnya kembali kepada sumber yang asal
Kitab dan Sunnah
Akupun kembalilah
Macam yang mereka dakwakan itu
Aku ditipu lagi!

Zaman Nabi mana ada jemaah-jemaah!
Semua orang satu jemaah.
Tak ada Tabligh, tak ada Hizbut Tahrir
Tak ada PAS, tak ada Ikhwan
Tak ada ABIM, tak ada JIM
Tapi…
Mereka haruskan jemaah-jemaah itu!
Bahkan mereka puja Qaradhawi,
Mereka kagum al-Banna
Itukan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin?

Memang penipu!
Sumber asal mengatakan umat Islam satu jemaah
Hanya satu golongan saja yang selamat daripada 73 golongan
Iaitu golongan salafi
Begitulah juga kata Albani
Begitulah juga kat Ben Baaz
Siapa buat pelbagai golongan, semuanya tidak selamat
Bagaimana mereka di forum itu mengaku salafi,
Tapi membenarkan umat Islam berpecah-belah
Membentuk pelbagai golongan
Mereka tidak kembali kepada sumber yang asal

Kononnya kembali kepada sumber yang asal
Zaman Nabi dan sahabat
Zaman itu tidak ada mazhab
Siapa yang buat mazhab
Bererti dia melakukan bid’ah
Sebab Nabi tak pernah buat, sahabat pun tidak

Tapi…
Tipu lagi.
Mereka ajar kitab asy-Syafie, mereka puja dia
Bukankah sumber asal menunjukkan dia berbuat bid’ah?
Dia buat mazhab, Nabi tak buat
Sanggup mereka sanjung seorang tokoh ahli bid’ah!
Hukum orang tu bida’ah, orang ni bid’ah
Alih-alih mereka puja tokoh bid’ah
Mereka tidak kembali kepada sumber yang asal

Mereka dakwa hanya salafi satu golongan yang terselamat
Dariapad 73 golongan.
Tertipulah aku lagi…

Aku kaji situasi di dunia Arab.
Rupanya ada banyak kumpulan yang mengaku Salafi
Sesama mereka saling sesat-menyesat pula
Macam mana forum itu mendakwa
Hanya Salafi mereka yang terselamat?
Salafi lain pun nak selamat juga
Tapi saling menuduh sesat
Dan saling mengaku
Puak aku paling selamat
Puak akulah satu golongan yang terselamat itu
Lucunya

Ulama-ulama Salafi Saudi yang aku sanjung
Menghukum halal tentera Amerika bertapak di Saudi
Tiba-tiba orang forum kata tak boleh!
Padahal ulama-ulama itu tokoh Salafi utama dunia
Mereka lebih faham Salafi daripada orang-orang di forum
Tokoh-tokoh itu dah kaji
Dah kembali kepada sumber yang asal
Dan jawapannya boleh letak musuh Islam dalam negara
Untuk serang negara Islam lain si Iraq

Bila aku ikut fatwa ini
Mereka kata aku salah
Jadilah aku serba salah.

Sebenarnnya, mereka sendiri tidak kembali kepada sumber yang asal.
Pengakuan di mulut saja.
Aku lebih percaya Albani, Ben Baaz, Fauzan dan lain-lain.
Takkanlah mereka di forum lebih faham Salafi
Daripada ulama-ulama ini!
Betul tidak?

Ini Salafi perasan.
Mereka bukan Salafi.
Mereka Salafi syok sendiri, buatan sini.
Cakap mereka di luar negara tidak siapa memandang
Tapi cakap ulama Saudi seluruh dunia pandang

Masuk saja laman Salafi Indonesia
Mereka mengutuk habis Salafi buatan sini
Kerana Salafi buatan arab
Menyokong ahlul bid’ah
Seperti al Banna, Tilmisani, Qardhawi, Syed Qutb
Salafi sini sokong Ikhwan
Itukan bid’ah yang nyata?

Jelas
Salafi forum itu hanya perasan sendiri
Jemaah Salafi sendiri tidak mengaku mereka satu kumpulan
Tapi penyokong ahli bid’ah
Maksudnya Salafi sini sama saja dengan pembuat bid’ah

Kawan-kawanku sedarlah
Carilah Salafi sebenar
Bukan Salafi forum
Kembalilah kepada sumber yang asal
Bukan taqlid buta kepada mufti.

Manfaat do'a dan bacaan Al-qur'an untuk mayit (sampai atau tidak) menurut Al-qur'an dan Hadits.

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim

Allahu Yaa Allah

Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati

Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi Mahammad SAW:

اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

“Apabila anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

“Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

“Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

“Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.


Ulama Sejagat Menggugat Salafi Wahabi

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim



Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi

Judul: Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi
Penulis: Syaikh Idahram
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan: I, 2011
Tebal: 340 halaman, 13,5 x 20,5 cm
ISBN: 602-8995-02-3
Peresensi: Hairul Anam

Selama ini, kaum Salafi Wahabi selalu getol menyesatkan umat Islam yang tak selaras dengan ideologinya. Mereka cenderung melakukan beragam cara, terutama melalui tindakan-tindakan anarkis yang meresahkan banyak kalangan.

Padahal, ketika dilakukan kajian mendalam, justru Salafi Wahabi-lah yang sarat dengan pemahaman menyesatkan. Sesat karena berbanding terbalik dengan ajaran Islam yang terkandung di dalam hadis dan al-Qur’an. Setidaknya, buku ini memberikan gambaran jelas akan hal itu.

Buku berjudul Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, ini secara komprehensif mengungkap kesesatan pemikiran para ulama yang menjadi panutan utama kaum Salafi Wahabi. Didalamnya dijelaskan betapa para ulama Salafi Wahabi itu menggerus otentisitas ajaran Islam, disesuaikan dengan kepentingan mereka. Terdapat tiga tokoh utama Salafi Wahabi: Ibnu Taimiyah al-Harrani, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pemikiran mereka nyaris tidak membangun jarak dengan kerancuan serta beragam penyimpangan.

Penyimpangan yang dilakukan Ibnu Taimiyah (soko guru Salafi Wahabi) ialah meliputi spirit menyebarkan paham bahwa zat Allah sama dengan makhluk-Nya, meyakini kemurnian Injil dan Taurat bahkan menjadikannya referensi, alam dunia dan makhluk diyakini kekal abadi, membenci keluarga Nabi, menghina para sahabat utama Nabi, melemahkan hadis yang bertentangan dengan pahamnya, dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam pada itu, wajar manakala ratusan ulama terkemuka dari berbagai mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Ja’fari/Ahlul Bait, dan Syiah Itsna Asyariah) sepakat atas kesesatan Ibnu Taimiyah, juga kesesatan orang-orang yang mengikutinya, kaum Salafi Wahabi. Lihat di antaranya kitab al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyyah karya Sha’ib Abdul Hamid dan kitabad-Dalil al-Kafi fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabi karya Syaikh Al-Bairuti. (hal. 90).

Sebagai penguat dari fenomena itu, terdapat ratusan tokoh ulama, ahli fikih dan qadhi yang membantah Ibnu Taimiyah. Para ulama Indonesia pun ikut andil dalam menyoroti kesesatan Ibnu Taimiyah ini, seperti  KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Rais ‘Am Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur), KH. Abu al-Fadhl (Tuban Jawa Timur), KH. Ahmad Abdul Hamid (Kendal Jawa Tengah), dan ulama-ulama nusantara tersohor lainnya.

Pendiri Salafi Wahabi, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, juga membiaskan pemikiran yang membuat banyak umat Islam galau kehidupannya. Ragam nama dan pemikiran ulama yang menguak penyimpangannya dimunculkan secara terang-terangan dalam buku ini, dilengkapi dengan argumentasi yang nyaris tak bisa terpatahkan.

Dibanding Ibnu Taimiyah, sikap keberagamaan Abdul Wahab tak kalah memiriskan. Ada sebelas penyimpangan Abdul Wahab yang terbilang amat kentara. Yakni: Mewajibkan umat Islam yang mengikuti mazhabnya hijrah ke Najd, mengharamkan shalawat kepada Nabi, menafsirkan al-Qur’an & berijtihad semaunya, mewajibkan pengikutnya agar bersaksi atas kekafiran umat Islam, merasa lebih baik dari Rasulullah, menyamakan orang-orang kafir dengan orang-orang Islam, mengkafirkan para pengguna kata “sayyid”, mengkafirkan ulama Islam di zamannya secara terang-terangan, mengkafirkan imam Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in dan Ibnu Faridh, mengkafirkan umat Islam yang tidak mau mengkafirkan, dan memuji kafir Quraisy-munafik-murtad tapi mencaci kaum Muslimin. (hal. 97-120).

Nasib Abdul Wahab tidak jauh beda dengan Ibnu Taimiyah; ratusan tokoh ulama sezaman dan setelahnya menyatakan kesesatannya. Di antara para ulama yang menyatakan hal itu adalah ulama terkenal Ibnu Abidin al-Hanafi di dalam kitab Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Juga Syaikh ash-Shawi al-Mishri dalam hasyiah-nya atas kitab Tafsir al-Jalalainketika membahas pengkafiran Abdul Wahab terhadap umat Islam.

Searah dengan Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab, Muhammad Nashiruddin al-Albani melakukan tindakan yang membentur kemurnian ajaran Islam. Ia telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut Ulama Hadis. Sehingga, sebagaimana diakui Prof Dr Muhammad al-Ghazali, al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih maupun dhaif.

Selain ketiga ulama di atas, ada 18 ulama Salafi Wahabi yang juga diungkap dalam buku ini. Mereka telah menelorkan banyak karya dan memiliki pengaruh besar terhadap konstelasi pemikiran kaum Salafi Wahabi. Di samping itu, Syaikh Idahram juga menghimbau agar umat Islam mewaspadai terhadap tokoh Salafi Wahabi generasi baru. Mereka adalah anak murid para ulama Salafi Wahabi. Secara umum, mereka berdomisili di Saudi Arabia.

Menariknya, buku ini kaya perspektif. Referensi yang digunakannya langsung merujuk pada sumber utama. Data-datanya terbilang valid. Validitas data tersebut dapat dimaklumi, mengingat karya fenomenal ini berpangkal dari hasil penelitian selama sembilan tahun, mulai 2001 sampai 2010. Selamat membaca!

KETENANGAN HATI

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim

Allahu Yaa Allah...

Dalam surat Al-Balad [90]: 4, Allah swt berfirman :

لقد خلقنا الإنسان فى كبد

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”

Ayat di atas menegaskan, bahwa tidak akan ada manusia yang bisa menghindarkan diri dari kesusahan, kesulitan dan masalah. Bahkan, semakin tinggi kedudukan dan prestise seseorang di tengah masyarakat, maka akan semakin banyak dan besar tingkat kesusahan dan masalah yang dihadapinya. Jika seseorang bisa melepasakan diri dari suatu persoalan, dipastikan dia akan dihadapkan kepada persoalan baru yang lebih sulit dari sebelumnya.
Kata kabad yang berarti kesulitan jika dirobah menjadi kabid maka artinya berobah menjadi hati. Hal itu memberikan isyarat bahwa kesusahan itu berda di dalam hati manusia. Jika ada seseorang yang tampil selalu riang dan gembira, bukan berarti hidupnya tidak punya masalah. Dia pasti menyimpan banyak masalah dan persoalan yang tersimpan di dalam hatinya.

Oleh karena itulah, manusia memiliki kecenderungan untuk berupaya mencari ketenangan hati. Tidak sedikit manusia yang harus membayar mahal demi memperoleh yang namanya ketenangan. Bahkan banyak di antaranya yang menempuh jalan pintas dan sesat, seperti menkunsumsi obat-obat penenang semacam narkoba. Namun, ketenangan yang mereka dapatkan adalah ketenangan yang semu dan bersifat sementara, yaitu ketika obat masih bereaksi di tubuhnya. Ketika reaksi obat telah habis dia kembali dihadapkan kepada masalah sebelumnya.

Di dalam surat Ar-Ra’du [13]: 28, Allah telah menawarkan cara memperoleh ketengan hati yang paling efektif dan bersifat permanen. Seperti firman-Nya

الذين آمنوا وتطمئن قلوبهم بذكرالله ألا بذكرالله تطمئن القلوب

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Kata (تطمئن) dalam kosa kata bahasa Arab dikenal dengan nama fi’il mudhari’ yaitu kata kerja yang menunjukan masa sekarang dan akan datang atau berkelanjutan. Maka ketenangan yang ditawarkan oleh Allah dalam ayat di atas adalah ketenangan yang bersifat terus-menerus, berkesinambungan, dan tidak pernah putus. Allah menawarakn dua syarat; pertama iman dan kedua zikir kepada Allah.

Dari penjelasan ayat tersebut jelaslah bahwa iman adalah syarat pertama dan utama seseorang bisa memperoleh ketenangan hati. Maka, ketengan tidak ditentukan oleh sebarapa banyak harta seseorang, atau seberapa tinggi kedudukan dan jabatan seseorang dan seterusnya. Akan tetapi, ditentukan seberapa teguh keyakinan dan keimanan seseorang kepada Allah. Bukankah kata iman berasal dari kata amana yang dari kata yang sama muncul kata aman? Bahwa keamanan dan kenyamanan hidup tidak akan pernah terpisahkan dari keimanan.

Oleh karean itu, jangan pernah mengira orang yang tidak beriman kepada Allah akan memperoleh ketenangan hati, sekalipun mereka hidup dengan fasilitas duniawi yang serba mewah; harta yang melimpah, kendaraan yang mewah, rumah yang megah, kamar ber AC dan seterusnya, dipastikan tidak ada ketenangan hati bagi mereka, jika iman tidak ada di hati tersebut.

Syarat kedua adalah zikir, mengingat, menyebut dan menghadirkan kebesaran Allah dalam setiap gerak hati, lidah dan anggota tubuh seseorang. Kita bisa belajar dari para pemuda penghuni goa yang dikenal dengan ash-habul kahfi, yang bisa tidur dengan lelap, nyenyak dan tenang selama 309 tahun, sekalipun tidur di atas batu, dalam lobang yang sempit dan gelap, pengap, tidak ada penerang apalagi AC, bahkan musuh berkeliaran di luar goa yang siap mencincang tubuh mereka jika ditemukan. Namun, semua itu tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan ketangan hati, dalam suasana yang sulit dan tidak menyenangkan. Jawabannya adalah karena mereka adalah para pemuda yang tidur dengan iman dan selalu berzikir kepada Allah. Lihat surat al-Kahfi [18]: 13.

... إِنَّهُمْ فِتْيَةٌءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ

Artinya: ...”sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka..

Begu juga ayat 10
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Artinya: “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)."
Lalu apa saja bentuk zikir yang disebutkan di dalam al-Qur’an yang akan menjadikan hati manusia tenang? Setidaknya ada tiga hal;
Pertama, Shalat; apakah shalat wajib ataupun sunat dengan ketentuan bahwa shalat itu dikerjakan dengan senpurna, menurut aturannya dan dengan kekhusu’an. Begitulah yang disebutkan dalam surat Thaha [20]: 14

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Oleh karena itu, semkian sempurna pelaksanaan shalat seseorang, baik secara kuantitas artinya shalat yang dikerjakan dalam bentuk yang banyak - tidak hanya yang wajib namun juga diikuti yang sunat – maupun secara kualitas artinya shalat dikerjakan dengan cara yang sempurna menurut aturannya, maka akan semakin besar peluang seseorang mendapatkan ketenangan hati. Sebaliknya, semakin tidak sempurna shalat seseorang atau bahkan secara sadar meninggalkan shalat, dipastikan ketengan hati akan semakin jauh dari hatinya. Bukankah nabi Muhammad saw. ketika dihadang kesedihan hati yang mendalam di saat isteri beliau Khadijah dan paman beliau Abu Thalib wafat, Allah menghibur dengan cara memperjalankan beliau yang kemudian dikenal dengan peristiwa Isra’ dan Mi;raj yang tujuannya adalah untuk menjemput perintah shalat.
Kedua, membaca al-Qur’an seperti disebutkan dalam surat al-Anbiya’ [20]: 50

وهذا ذكر مبارك أنزلناه أبأنتم له منكرون

Artinya: “Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (zikir/peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?
Oleh karena itu, semakin dekat seseorang dengan al-Qur’an, maka semakin besar peluangnya memperoleh ketenangan hati. Sebaliknya, jika seseorang jauh dari al-Qur’an ketanangan juga akan semakin jauh dari hatinya.

Ketiga, selalu mengingat, menyebut dan menghadirkan Allah dan kebesaran-Nya dalam hati seseorang kapanpun, di manapun dan dalam kondisi apapun. Begitulah yang dikatakan Allah swt dalam surat Ali Imran [3]: 191

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ…

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring…

Itulah diantara zikir yang pasti akan mendatangkan ketenangan hati yang hakiki dan permanen, Insyaa Allah.


Minggu, 27 Desember 2015

RENUNGAN 1 (SATU)

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim...

Allahu Yaa Allah..

Pelajaran Buat Kita semua Dalam sebuah hadits :

 “كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُولُ أَقْصِرْ فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا فَقَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلْآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ “
الراوي : أبو هريرة المحدث : الألباني، المصدر : صحيح أبي داود الصفحة أو الرقم: 4901 خلاصة حكم المحدث : صحيح

Artinya : Dari Abu Hurairah ra, berkata : Rasulullah SAW bercerita : “ Pada suatu hari ada dua orang dari suku Bani Israil, yang akrab persaudaraannya, yang satu ahli maksiat (selalu berbuat dosa), dan yang satu lagi ahli ibadah (ibadahnya intensif), namun yang ahli ibadah ini senantiasa menegur  kawannya yang ahli maksiat : jangan berbuat demikian! / jangan kau lakukan !, Pada suatu hari kawannya melakukan maksiat, lalu dia berkata : jangan berbuat demikian! / jangan kau lakukan !,Ahli maksiat ini menjawab : Biarkan aku dengan Tuhanku, apakah anda diutus untuk memonitori aku? Lalu ahli ibadah itu berkata : Demi Allah ! Allah tidak akan mengampuni dosa-dosamu, atau demi Allah, Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga ! kemudian Allah mencabut nyawa/ruh mereka berdua, lalu kedua-duanya menghadap Allah Tuhan Alam Semesta, Allah berkata kepada ahli ibadah: Apakah kamu yakin, bahwa Aku tidak dapat mengampuni dosa kawanmu ini ? atau apakah kamu yang memegang kunci neraka ? sehingga kamu bebas, bisa membuka dan menutupnya? (Apakah neraka ada ditangan kamu?). Maka Allah berkata kepada orang ahli maksiat itu : “ Masuklah kamu ke dalam surga-Ku dengan rahmat-Ku”, dan Allah berkata kepada ahli ibadah : “ Wahai para malaikat ! bawalah orang ini ke dalam neraka !”  (Abu Daud)

Pelajaran yang kita bisa petik dari cerita dalam hadits ini :

1. Jangan sekali-kali kita menghukum orang ahli maksiat sebagai penghuni neraka, karena kita tidak tahu mungkin di akhir hayatnya dia akan bertaubat.
2. Jangan sekali-kali kita menyalahkan amalan ibadah orang lain, dan beranggapan bahwa amalan kita paling benar di sisi Allah SWT.
3. Jangan sekali-kali kita menggelar saudara kita seagama, sebangsa sebagai ahli neraka.
4. Jangan sekali-kali kita menyalahkan amalan orang lain, belum tentu amalan kita itu benar di sisi Allah SWT.
5. Jangan sekali-kali kita menegur orang lain, sedangkan keluarga kita belum kita tegur.
6. Jangan sekali-kali kita menilai bahwa amal ibadah yang kita lakukan itu benar dan dijamin masuk surga, karena itu semua akan dievaluasi oleh Yang Maha Menilai yaitu Allah SWT.
7. Kita hendaklah senantiasa menitrospeksi diri kita, apakah ibadah kita sudah maksimal ?.
8. Kita harus tahu bahwa surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah SWT, dan bukan hak prerogative kita.
9. Berlemah lembutlah dalam menyampaikan nasehat kepada orang lain.

Mari kita sama-sama insaf akan semua kesalahan yang kita telah lakukan dan mari kita bersama-sama bertaubat di hadapan Allah SWT, dan kita introspeksi diri kita masing-masing. Kita berusaha melakukan yang terbaik karena Allah SWT, dan mengharap agar amalan kita diterima oleh Allah SWT, agar kita semua mendapat “Happy Ending” atau mati dalam keadaan “Husnul Khatimah”  atau mati dalam keadan Islam, Iman dan Ihsan amin ya rabbal 'aalamin.

Semoga bermanfaat آمين

DUNIA MAYA

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim

(Oleh : Rinindri Mentres)


Dunia maya merupakan dunia lunak yang tidak nyata. Kehidupan didunia maya tidak sama dengan kehidupan didunia nyata. Kehidupan didunia maya sangat bebas dan tidak terkontrol. Banyak yang memanfaatkan dunia ini untuk mencapai misi tertentu seperti ghazwul fikri, propaganda, penyebaran gambar/video porno dan banyak kejahatan kejahatan lainnya lagi.

Mengenai kejahatan gambar/video porno di Indonesia mulai tahun 2010 setelah menteri komunikasi dan informasi dijabat oleh Dr. Tifatul Sembiring yang merupakan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah mulai di-block. Perkiraan kasar 2010-2012 sudah 80% situs porno sudah d block. Ini merupakan kesuksesan luar biasa yang dilakukan menkominfo RI yang sebelumnya permasalahan ini tidak pernah terselesaikan.

Namun dari itu, permasalahan ghazwul fikri, propaganda,dan kejahatan lainnya belum bisa diselesaikan melalui teknologi informasi dan komunikasi. Karena hal ini berkaitan dengan prilaku manusia yang melakukan kejahatan ini. Solusi untuk permasalahan ini adalah perbaikan akhlak manusianya. Jika pelaku yang menjalankan kehidupan di dunia maya ini baik. Maka secara otomatis tidak ada lagi kejahatan didunia maya.

Oleh karena permasalahan kejahatan didunia maya ini belum teratasi. Maka kepada pengkonsumsi informasi dari dunia maya perlu tabayun dan menganalisa informasi yang di publis melalui dunia maya itu. Walaupun ada upaya dari pemerintah saat ini untuk pemblokiran situs-situs yang tidak jelas. Namun seberapa besarpun upaya pemblokiran itu, tentunya pembuatan situs-situs “jahat” tetap bisa di produk baik local maupun international.

Yang berbahaya lagi adalah jejaring social yang merupakan perwakilan perorangan atau lembaga yang hidup di dunia maya. Kejahatan yang dilakukan pada jejaringan ini adalah pembuatan akun palsu atau akun anonim. Juga ada yang memanfaatkan akun orang untuk kepentingan kelompok atau dirinya yaitu dengan cara mengambil alih akun orang lain. Ghazwul fikri disini adalah seolah-olah dia itu hidup sebagai orang yang pemilik akun itu.

Ikhwahfillah, ketidak baikan akhlak pengguna dunia mayalah yang menyebabkan salahnya informasi yang diberikan kepada public. Oleh karena itu sudah keharusan kita aktivis dakwah yang meramaikan dunia maya itu. Karena kalau bukan diramaikan oleh orang-orang yang baik, maka akan diramaikan oleh orang-orang jahat. Walaupun pernah suatu media islam yang menulis tidak boleh berdo’a di jejaring sosial.

Pada hakikatnya tulisan itu menurut saya keliru. Karena bertentangan azas syiar Islam. Kalau syiar Islam dibatasi hanya di mesjid, majelis ta’lim, ceramah dsb. Maka pendefinisian syiar Islam itu sangat sempit sekali. Saya berfikir bahwa syiar Islam itu juga harus digaungkan di pasar, kantin, pemerintahan, diskotik, bar, mall, dunia maya dll. Dengan gaya dan cara tersendiri.

Dalam tulisan ini penulis ingin membahas dakwah didunia maya saja. Didunia maya sering kita mendengar kata e-commerce, e-learning, e-book dll. Pada era kini memang manusia tidak bisa dipisahkan dengan dunia maya. Sehingga para peneliti membuat product yang dapat memudahkan manusia memenuhi kebutuhannya.

Menganggapi kebutuhan manusia diatas, seperti e-commerce, e-learning, e-mail, e-book, dll ternyata kita lupa ada satu kebutuhan yang paling penting dalam kehidupan kita di dunia ini yaitu e-dakwah. Oleh karena itu penulis mengajak aktivis dakwah untuk meramaikan dunia maya dengan e-dakwah, baik berupa website, blog, aplikasi offline, aplikasi online dan lain-lain. Juga meramaikan jejaringan social untuk mengklarifikasi propaganda-propaganda “jahat”, meluruskan informasi-informasi ghazwul fikri. Sehingga pengunjung dunia maya tidak ter-jahatkan atau tidak teracuni fikirannya.

Wallahu a'lam bishawab



KETELADANAN DIJALAN DAKWAH

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim...

(Oleh : Rinindri Mentres)


Al Qudwah Fii Thariiqi Dakwah

الحمد لله رب العا لمين والعا قبة للمتقين ولا عدوان إلا علي الظالمين

والصلاة والسلام علي هذا النبي الأمين    سيد الغر المحجلين    وقائد المجاهدين

قدوتنا وأسوتنا محمد صلي الله عليه وعلي آله وأصحابه أجمعين.  أما بعد.


Ikhwah fillah rahimakumullah

Al qudwah atau yang disebut dengan kata al uswah bermakna contoh atau teladan. Kalimat yang tidak asing di telinga kaum muslimin apalagi bagi para aktifis dakwah. Al qudwah merupakan dharuriyyatul hayat (keniscayaan) bagi kehidupan alam semesta, sebelum menjadi dharuriyyatul-Islam dan dharuriyyatud-dakwah.

Setiap makhluk menirukan apa yang dilakukan oleh para pendahulunya. Secara  zhahir hal ini bisa kita fahami sebagai buah keteladanan, disamping kita meyakini ada hidayah[1] Allah bagi mereka. Anak kambing mengikuti induknya memakan rumput, anak kerbau ikut berkubang di dalam lumpur menirukan induknya, dst.

Di dalam Islam keteladanan itu menjadi sangat penting. Allah swt menjadikan Rasulullah Muhammad saw sebagai teladan bagi kaum muslimin.

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. QS. Al Ahzab.

Dalam beberapa hal Rasulullah saw mengharuskan umatnya untuk menirukan apa yang dilakukannya, antara lain:

وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

{ صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Malik Ibnu Al Huwairits ra berkata. Rasulullah saw bersabda: Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat. HR Al Bukhari

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: "خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ" رَوَاهُ أَحْمَدُ ومُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ

Dari Jabir bin Abdullah ra bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: Ambillah dariku manasik (haji) kalian. HR Ahmad, Muslim, dan An Nasa’i

Dan banyak lagi dalil-dalil yang menegaskan bahwa keteladanan adalah bagian penting dari ajaran Islam.

Dalam konteks berjamaah, keteladanan menjadi sangat penting lagi peranannya. Kekuatan berjamaah berada pada kerjasama harmonis imam dan makmum, kerjasama yang dibangun berdasarkan keteladanan.

Shalat berjamaah bisa berjalan dengan baik ketika hubungan keteladanan itu berjalan dengan harmonis. Makmum dengan tulus mengikuti imamnya dan imam dengan penuh perhatian memimpin makmumnya menjalankan shalat.

Rasulullah mennegaskan kepada makmum untuk mengikuti contoh imamnya.


إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُون   موطأ مالك - (ج 1 / ص 394)

”Sesungguhnya imam itu ditunjuk untuk diikuti, jika imam shalat dengan bediri maka shalatlah kamu dengan berdiri, dan jika imam ruku’ maka ruku’lah kamu, dan jika ia bangun maka bangunlah kamu, dan jika ia membaca ”Sami’allahu liman hamidah” maka bacalah: Rabbana walakalhamdu. Dan jika imam shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk semua. Muwaththa’ Malik

Demikian juga Rasulullah menegur imam yang tidak memahami keadaan riil makmumnya.

إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيهُمُ الْكَبِيرَ وَالسَّقِيمَ وَذَا الْحَاجَةِ ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ عَنِ ابْنِ أَبِى عُمَرَ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ.

Sesungguhnya di antara kalian ada yang menjauhkan (dari Islam), maka siapa saja yang mengimami (shalat) kaum muslimin hendaklah meringankan. Karena di sana ada orang tua, sakit dan yang punya hajat. HR. Muslim, dari Ibnu Abi Umar, dari Sufyan bin Uyainah


Ikhwah fillah rahimakumullah.

Para da’i adalah qudwah, terutama bagi orang-orang bertaqwa. Inilah do’a dan harapan  Ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang) yang dijanjikan surga di akhirat kelak.

74. dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. QS. Al Furqan.

Ia perbaiki dirinya untuk bisa menjadi teladan bagi isteri dan anak-anaknya. Ia perbaiki keluarganya untuk dapat menjadi teladan bagi orang-orang bertaqwa di sekelilingnya.

Bukan sembarang keteladanan yang dicontohkan, tetapi teladan yang bisa diikuti orang-orang bertaqwa yang mengharapkan janji Allah, meyakini akhirat, dan banyak mengingat Allah.

Inilah fokus keteladanan yang sangat diharapkan di jalan dakwah. Keteladan untuk mengantarkan orang memperoleh janji Allah. Keteladanan untuk mendapatkan akhirat yang baik. Keteladanan untuk senantiasa mengingat Allah.

Dari itulah Allah tegaskan keteladanan Rasulullah saw dengan sebutan USWATUN HASANAH, bukan sekedar uswah. Sebab jika keteladanan yang ditampilkan tidak bernilai kebaikan atau bahkan membuat orang jauh dari kebaikan, justru akan menjadi investasi dosa seperti dalam hadits Rasulullah saw.

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ صحيح مسلم - (ج 6 / ص 342)


Barang siapa yang memulai kebaikan dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan di belakangnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang memulai keburukan dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya, dan dosa para pengamal sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. HR. Muslim.


Ikhwah fillah rahimakumullah.

Dari itulah para da’i harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi, untuk mencontohkan apa yang menjadi kebaikan umat menggapai akhirat, dan menjauhkan diri dari semua sikap dan tindakan yang membuat umat tidak berharap kepada Allah, mengganggu iman mereka kepada negeri akhirat, dan mengurangi dzikir mereka kepada Allah.

Inilah kewajiban mendasar para da’i, mencontohkan gaya hidup untuk menggapai kebahagiaan akhirat, karena hal ini tidak bisa dicontohkan oleh siapapun selain para da’i. Wanahnu du’atun qabla kulli sya’in (dan kita adalah para da’i sebelum berpredikat apapun). Berbeda dengan tujuan dunia, siapapun bisa menjadi contoh tanpa harus menjadi da’i.

Materi tarbiyah kita tidak akan efektif merubah keadaan jika tidak diaktualkan dalam kehidupan keseharian. Dan aktualisasi materi-materi tarbiyah itu tidak akan efektif tanpa adanya keteladanan yang baik dari setiap kader dakwah di semua level sosial.

Allah swt menghadirkan sosok Nabi Ibrahim dan kaumnya dalam mengaktualkan nilai-nilai keimanan:

4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. QS. Al Mumtahanah

6. Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. QS. Al Mumtahanah

Allah swt mencela orang yang banyak berbicara tapi tidak menjadi amalan nyata:

2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. QS. Ash Shaff

44. mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? QS. Al Baqarah

Abu Utsman Al Hairi (seorang ulama zuhud) mengatakan:

فِعْلٌ مِنْ حَكِيْمٍ فِي ألْفِ رَجُلٍ أنْفَعُ مِنْ مَوْعِظَةِ ألْفِ رَجُلٍ فِي رَجُلٍ

”Satu contoh perbuatan dari seorang bijak untuk seribu orang lebih efektif dari pada nasehat seribu orang untuk satu orang”.

Ikhwah fillah rahimakumullah

Ada beberapa situasi yang kami perhatikan sangat membutuhkan keteladanan orang lain, yaitu:

Ketika hendak mengamalkan teori yang telah ia pelajari,

Betapa sulitnya mengerjakan shalat –meskipun telah mengetahuinya teorinya dengan baik- jika tidak ada contoh teladan nyata. Inilah tabiat semua ilmu amaliah, tidak cukup dengan kumpulan teori, tetapi lebih efektif dengan contoh teladan. Dan kita telah sepakat untuk meyakini dan mengatakan bahwa Islam adalah agama amal, tidak sekedar ilmu, dakwah ini adalah amal, bukan sekedar materi. Imam syahid memberikan salah satu sub judul risalahnya:

هَلْ نَحْنُ قَوْمٌ عَمَلِيُّوْنَ ؟

Apakah kita kaum pengamal?[2]

Betapa banyak materi tarbiyah yang dahulu hanya ada di white board, sekarang harus riil dalam kehidupan. Maka sangat dicari siapa yang bisa menjadi teladan rasmul bayan itu dalam kehidupan.

Ketika berada dalam kebimbangan

Ketika seseorang berada dalam kebimbangan ilmu yang dimiliki, jalan yang hendak di tempuh, sikap yang harus dilakukan, dst, sangat membutuhkan keteladanan dari orang lain yang dipercaya. Teladan dari orang yang dipercaya dapat merubah ilmu yang telah dimiliki sebelumnya. Alangkah bahayanya jika ia mendapatkan contoh yang salah dari orang yang dipercayainya.


Ketika berada dalam tekanan dan situasi yang tidak menyenangkan

Dalam situasi yang tidak menyenangkan seseorang sangat membutuhkan teman, terutama teladan. Al Qur’an banyak sekali menerangkan hal ini. Ketika Rasulullah didustakan oleh kaumnya, Allah sampaikan bahwa para rasul terdahulu juga didustakan.[3]Ketika bersedih ditinggal wafat Khadijah dan Abu Thalib yang mejadi salah satu benteng dakwah, Rasulullah bersedih, hingga tahun itu disebut’amul huzni (tahun duka), Allah kisahkan Nabi Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya.

Ketika kaum muslimin menghadapi serangan tentara ahzab (koalisi kafir-yahudi-musyrikin Arab), di musim dingin mencekam, stok makanan menipis. Situasi yang disikapi oleh sebagian orang dengan penyesalan ingin kembali ke padalaman Arab –tidak di Madinah-[4], situasi yang disesali dan dipertanyakan oleh kaum munafiq[5]. Ketegangan suasana itu justru menjadi penguat dan penambah iman bagi para sahabat setelah menemukan keteladanan pada diri Rasulullah saw.

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

22. dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.

23. di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), QS. Al Ahzab

Dakwah hari ini adalah aktualisasi materi tarbiyah di masa lalu, pengalaman baru, sering berada di persimpangan, dan sering menjadi musuh bersama di medan juang. Maka keteladanan menjadi keniscayaan agar kader dakwah tidak berubah jati diri, militansi, dan harapan mulia.

Wallahu a’lam.  

[1] QS. Al A’la, ayat: 3. ”dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,”
[2] risalah Muhimmatul Muslim. Majmu’ Rasail,  Hasan Al Banna,
[3] QS. Al An’am, ayat 34
[4] QS. Al Ahzab, ayat 20
[5] QS. Al Ahzab, ayat 12-15

MERAJUT CINTA

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim

ALLAHU YAA ALLAH
Memori HP sudah hampir penuh, jadi harus dilakukan penghapusan sebagian data. Oleh karena itu perlu diselamatkan file-file yang berharga untuk dipindahkan ke komputer, salah satu file itu adalah catatan bahan untuk mengisi temu kader dakwah kampus di Aula kampus tercinta pada 4 Oktober 2015 yang lalu. Daripada dibiarkan menjadi file coret-coret yang di simpan pada komputer, lebih baik ditulis kedalam bentuk narasi dan di publik. 
File ini hanya draft saja, seperti biasa kalau mau ngisi saya hanya membuat draft yang akan disampaikan, namun pada tulisan ini saya ingin melengkapi draft itu dengan apa yang sudah disampaikan pada pertemuan itu, saya bukan sebagain pemateri, bukan juga penceramah, bukan pidato serta bukan tausyiah. Namun posisi saya pada pertemuan itu hanya sebagai pembicara (hehehee, apa beza-nya yaa). 
Baik kembali ke laptob, tema pada pertemuan itu adalah Ukhwah Islamiyyah, lalu apa kaitannya dengan judul tulisan ini ya? Kok judulnya merajut cinta? Ini bukan sensasional, tetapi memang sangat erat kaitannya antara ukhwah islamiyah dengan cinta. Dengan demikian untuk membangun ukhwah islamiyah itu perlu dirajut cinta nya terlebih dahulu. 
Ukhwah Islamiyah menurut Hasan Al-Banna adalah ikatan aqidah. Sifat ukhwah Islamiyah ini akan abadi dan universal. Namun ukhwah jahiliyah adalah selain ikatan aqidah seperti keturunan, keluarga, suku, daerah, bangsa, dan Negara. 
Kita ketahui bahwa, mayoritas ummat muslim yang ada di Indonesia secara umumnya, di Aceh secara khususnya adalah muslim keturunan. Sehingga muslimnya orang muslim kebanyakan karena nasabnya orang Islam, karena kedua orang tuanya Islam lah mayoritas kita menjadi Islam. Lalu banyak pada masyarakat kita mengetahui Islam itu dari kehidupan sehari-hari orang tuanya. Mungkin yang pertama kali mengetahui shalat, puasa, zakat, lebaran, kenduri, dll. 
Dari situ, banyak dari masyarakat kita yang selanjutnya mendalami Islam itu sendiri, namun lebih banyak lagi yang tidak mau mengkaji lebih dalam lagi mengenai Islam itu. Dari beberapa keindahan Islam yang tidak dikaji maupun di praktekan adalah hubungan bertetangga, antar suku, antar bangsa, antar Negara atau hubungan Internasional. 
Pemahaman yang dalam mengenai bahwa kita sesama Islam itu adalah bersaudara. Yang mengikatkan hati kita itu adalah aqidah kita, bukan keturunan, bukan suku, bukan bangsa, dan bukan juga Negara. 
Sehingga yang tumbuh pada masyarakat kita saat ini adalah sukuisme sempit dan nasionalisme sempit. Yang dicari kesalahan suku yang lain, yang dicari kesalahan Negara yang lain. Sehingga terjadi peperangan seperti Gerakan Aceh Merdeka dengan NKRI, Indonesia dengan Malaysia. Padahal itu sesama muslim. 
Hal ini terjadi akibat rasa cinta sesama Islam itu sudah mulai pudar. Oleh karena itu, generasi muda muslim masa depan itu adalah pemuda yang saling mencitai karena Allah kerana seaqidah. 
Kata cinta disini juga bukan cinta seperti yang didefenisikan oleh remaja-remaja kiri saat ini. Kebanyakan remaja-remaja kita saat ini salah dalam mendefenisikan cinta, sehingga ketika dikatakan cinta yang tertangkap pada fikiran kita adalah berpacaran antara lain jenis kelamin. 
Ihwahfillah rahimakulullah, adapun fadhillah ketika kita selalu menjaga ukhwah islamiyah itu antara lain: 
1. Menyempurnakan iman 
Sesuai dengan hadist Dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
2. Sebagai memenuhi syarat administrasi untuk masuk surga ^_^ 
Ikhwahfillah, semua kita pasti menginginkan masuk surga, perlu diketahui bahwa yang masuk surga itu hanyalh orang-orang yang beriman, orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Kalau tidak saling mencintai karena Allah berarti orang tersebut dapat dikatakan belum beriman. Sesuai dengan hadist “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidak akan sempurna iman kalian sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim, Kitab Iman Bab Penjelasan bahwa sesungguhnya tdiak akan masuk surge kecuali orang-orang yang beriman, mencintai orang-orang beriman merupakan bagian dari keimanan dan menebarkan salam merupakan salah satu sebab untuk mewujudkan hal tersebut, no. 54). 
3. Mendapatkan cinta dari Allah 
Dari Abu Hurairah radliyallahu‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya seorang laki-laki menziarahi (mengunjungi) saudaranya di kampung lain lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk mengikutinya di jalannya. Ketika malaikat itu mendatanginya dia berakata: “Mau kemana engkau?” Orang itu menjawab: “Saya ingin menziarahi saudaraku fillah di kampung fulan.” Malaikat berkata: “Apakah karena satu kebaikan yang ingin kau balas?” Orang itu berkata: “Tidak, akan tetapi aku mencintainya karena Allah Azza wa Jalla.” Malaikat berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karenaNya.” (HR. Muslim, Bab Keutamaan cinta karena Allah, no 2567). 
4. Mendapatkan Perlindungan dari Allah pada hari kiamat 
“Sesungguhnya Allah berfirman pad hari kiamat: Mana orang yang saling mencintai karena keagunganKu? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka dengan naunganKu di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganKu.” (HR. Muslim, no. 2566). Juga hadits tentang 7 golongan yang mendapakan naungan Allah pada hari kiamat yang salah satunya adalah “dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah.” (HR. Bukhari, no 1423 dan Muslim, no. 1031. Lafadz Bukhari). 
Ikhwahfillah, apakah ada tawaran yang menggiurkan lain selain tawan dari fadhilah merajut ukhwah islamiyah itu? Jawabannya pasti sesuai dengan hati dan fikiran ikhwah semuanya. Dan saya yakin yang mau membeli product di atas adalah orang-orang yang sangat beruntung. 
Ops!! Sudah bunyi bel masuk, saya harus pending dulu untuk menulis narasi ini. Padahal masih banyak sekali yang sudah disampaikan. Baiklah insyaAllah akan kita sambung dilain kesempatan, mungkin pada tulisan selanjutnya yang berjudul Merajut Cinta 2 atau Merajut Cinta seasion 2 atau Merajut Cinta episode 2 atau lain-lainlah. Sesuai dengan mod saya di hari menulis itu.